Jadi Duta Kasih di Tengah Arus Prasangka
Oleh Y. Haryanto
Renungan Harian
21 Maret 2026
Sabtu Pekan Prapaskah IV
Injil: Yohanes 7,40-53
Nikodemus, seorang dari mereka yang dahulu telah datang kepadaNya, berkata kepada mereka: ” Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuatNya ? “(Yoh. 7: 50-51)
RENUNGAN:
Bapak, Ibu, Saudara/i terkasih dalam Kristus, Berkah Dalem, Tuhan memberkati kita semua.
Hari ini dan besuk Umat Islam dan masyarakat Indonesia umumnya merayakan Idulfitri. Saya pun ikut serta merayakannya. Kiranya Anda pun ikut merayakannya pula. Barangtentu bukan dalam rangka perayaan keagamaan, tetapi dalam rangka adat kebiasaan masyarakat (di lingkungan pekerjaan/kantor, kampung/RT dan dalam lingkup keluarga).
Bacaan Injil pada hari ini , Yoh. 7: 40 – 53, khususnya bertalian dengan sikap Nikodemus, mengirim pesan yang dapat kita jadikan bekal bersikap dalam keikutsertaan kita pada perayaan Idulfitri, baik dalam lingkup pekerjaan/kantor, kampung/RT, ataupun dalam lingkup keluarga.
Dalam lingkup keluarga kegiatan perayaan Idulfitri (dalam bhs /adat Jawa disebut “Bakdan”) mencakup: tabur bunga di makam (“nyekar”), mengunjungi saudara yang lebih tua (dituakan), pertemuan trah, dan waktu paling banyak dimanfaatkan untuk ngobrol di rumah induk bersama saudara sekandung, para ipar, keponakan dan cucu. Banyak anggota keluarga yang tinggal di berbagai kota pulang mudik, pulang ke rumah induk untuk beberapa hari, tiga hingga tujuh hari. Kakak beradik bersama pasangan, anak dan cucu berkumpul di satu tempat, di rumah induk, rumah Bapak Ibu tempat mereka lahir dan dibesarkan.
Ngobrol dalam waktu lama (3 – 7 hari) membuka peluang terjadinya penyebaran gosip. Para leluhur memberi nasihat (“pitutur”) yg terungkap dalam peribahasa : “Sadawa-dawane lurung, isih luwih dawa gurung”, yg secara harfiah berarti “Sepanjang-panjangnya lorong/jalan, masih kalah panjang dari tenggorokan/kerongkongan”. Maksudnya: kita diingatkan untuk berhati hati dalam bertutur kata. Jangan mudah terseret dalam penyebaran gosip, fitnah, apalagi permusuhan. Sebab dalam obrolan, omongan/gosip bisa menyebar luas dengan ditambahkan bumbu omongan baru bermuatan fitnah dan permusuhan yang berkelanjutan, yang besar kemungkinan semakin jauh dari kenyataan yang sebenarnya.
Dalam lingkup pekerjaan/kantor dan dalam lingkup tempat tinggal (kampung/RT) perayaan Idulfitri terjadi dalam wujud pertemuan “Halalbihalal”, pemulihan relasi antara para warga dengan saling memaafkan, bersumber dari pulihnya relasi dengan Tuhan berkat ibadah puasa yang berhasil dijalankan dengan tekun dan rendah hati.
Bacaan Injil pada tanggal 21 Maret 2026, hari Sabtu Pekan Prapaskah IV – Injil Yohanes 7, 40-53 (khususnya ayat 50-51) – memberi pesan yang dapat kita jadikan bekal untuk keikutsertaan kita dalam perayaan Idulfitri tahun ini. Saya menangkap dua pesan pokok yang saling berkaitan :
- Cegah prasangka buruk
Imam-imam kepala dan orang-orang Farisi berprasangka buruk bahwa Tuhan Yesus itu bukan nabi, bukan Mesias, melainkan seorang tokoh dari Galilea yang menyesatkan. Dia harus ditangkap dan disingkirkan. Prasangka buruk menghalangi mereka untuk mengenali secara benar Siapakah Yesus itu. Mereka tidak mau dan tidak mampu mendengarkan perkataan-perkataanNya, pun tak mau melihat dan menghargai perbuatan-perbuatanNya yang menyelamatkan. Sebagai gantinya mereka menyebar fitnah, kebencian dan permusuhan dengan mengatasnamakan penegakan hukum Taurat. Semangat asli hukum Taurat dilupakan, diganti legalisme yang membahayakan. Mengasihi Tuhan dan sesama digusur fitnah, kebencian dan permusuhan.
Hal tersebut mengirim pesan dan nasihat bagi kita saat ikut ambil bagian dalam perayaan Idulfitri (“Bakdan”) : cegah prasangka buruk dalam pembicaraan kita, jangan terbawa arus ikut menyebar fitnah, kebencian dan permusuhan. Kita ingat peringatan para leluhur bijak di tanah Jawa:”Sadawa-dawane lurung, isih luwih dawa gurung”. Kita perlu hati-hati dalam bertutur kata.
- Jadilah Duta Kasih
Nikodemus tidak mau ikut arus Imam-imam kepala dan Orang-orang Farisi pada umumnya. Sebagai salah seorang Farisi dia berupaya menghayati semangat asli hukum Taurat, mengasihi Tuhan Allah dan sesama. Dia tidak mau terseret legalisme yang membahayakan. Kepada para imam kepala dan orang-orang Farisi yang bermaksud menangkap dan menyingkirkan Yesus, dia bertanya kritis:”Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuatNya? ” Pertanyaan ini menjadi ungkapan sikapnya: membela Yesus dengan menegakkan keadilan, sekaligus menjadi duta kasih, semangat asli hukum Taurat.
Hal ini mengirim pesan dan memberi nasihat (“pitutur”) bagi kita dalam keikutsertaan perayaan Idulfitri: jadilah duta kasih dalam tutur kata dan perilaku kita dalam lingkup keluarga, kantor/pekerjaan, atau pun di kampung/RT.
DOA
Ya Tuhan,
Syukur dan pujian bagiMu atas peluang bagus bagi kami untuk memulihkan relasi yang baik denganMu dan sesama dalam perayaan Idulfitri. Bantulah kami untuk sedia dan mampu mencegah prasangka buruk, dan sekaligus sedia dan mampu menjadi duta kasihMu dalam keikutsertaan kami merayakan Idulfitri.
Amin.

