CATATAN – PERTEMUAN PBMN

CATATAN – PERTEMUAN PBMN

REGIO JAKARTA-BOGOR-TANGERANG-BEKASI

MINGGU 17 MEI 2026 PUKUL 10.30 – 14.00

BAGIAN 1

Saya ( Buku NBP-3 No.50) berangkat dari rumah bertiga: Mamanya Epin mantan pacar yang sudah jadi istri sejak 11 April 1997, Mas Manguntiarso (NBP.94)  yang tadi saya jemput di Stasiun UP, dan saya. Kembang pagi putri mas Mangun tidak pulang ke rumah di Gadog, masih tinggal di Bandung. Mas Tardi (NBP 171) dan mbak Darti dari Cisarua tidak jadi hadir karena ada agenda lain.

Kami melewati toll Kukusan – BSD – sebelum keluar ke arah AEON di BSD , oleh google map kami diarahkan keluarnya ke arah Cisauk. Google Map mulai digunakan setelah menjelang exit toll arah BSD. Ternyata perjalanan kami lancar. Tidak nyasar ke mana-mana. Pada hal beberapa kali pengalaman meskipun sudah dibantu google map masih juga nyasar-nyasar. Ini tepat – presisi sesuai dengan yang diarahkan mesin penunjuk arah ini. Sampai di depan rumah mas Kamilus Inglan ( NBP. 67) Perumahan Griya Serpong Asri, Suradita, Kec. Cisauk, Kabupaten Tangerangsudah ada mas Andre yang mengarahkan saya saat mengambil tempat parkir persis di depan rumahnya. Ibu Yani Harso Wijoyo  dan Ibu Titik Minarto tampaknya baru saja sampai. Ibu berdua ini luar biasa. Ibu Yani yang usianya sudah lebih dari 70 tahun masih nyetir sendiri dari arah Jakarta Timur. Bahkan mengatakan masih mampu nyetir sendiri dari Jakarta sampai Yogya. Beliau berdua seperti soul-mate karena hanya berdua dari arah tempat tinggal yang sama di Jakarta Timur.

Setelah masuk rumah mas Kamil ternyata sudah banyak juga yang hadir. Bapak Broto (NBP.22) bersama dengan Romo Purnomo, Mas Notobudiharjo (NBP. 86), Mas Bagyo ( NBP.150) dan mbak Wiwik, Mas Anton  Heru (NBP 63)  dan mbak Ita serta satu putranya yang kecil Ezekiel yang langsung asyik bermain dengan putera terkecil mas Inglan. Di kisah wayang kulit dari jawa seperti persahabatan antara Ontoseno dan Wisanggeni. Menjelang pulang mereka menghilang. Ternyata pada jalan kaki untuk beli jajanan ke Indomart yang lumayan agak jauh. Mas Tatak (NBP 175) datang bersama dengan keluarga Mas Heru. Mas Tatak dengan istrinya yang asli Manado, mbak  Deitje Tundo. Selain itu sudah ada 2 sahabat mas Kamil yang mantan SVD satu orang menjadi organis saat Misa, dan yang satu lagi menjadi MC dan fotografer sekaligus menyanyikan lagu-lagu rohani di saat jeda makan siang. Sudah ada juga Mas Aditya Danamurti ( NBP. 4) dengan istri Ratu Fortunata Rahmi Puspahadi sebelum saya datang. Mbak Monik istri Mas Thomas Suharjono (NBP.161) sudah datang lebih dahulu. Mas Thomas diantar putranya Dhimas- menantu dan cucunya Maela, yang kemudian mereka segera meninggalkan tempat karena akan melanjutkan ke rumah orangtuanya di Pamulang. Maela yang baru berusia 2,5 tahun itu sebenarnya tidak mau diajak oleh orangtuanya karena mungkin karena masih masih rindu sama Omanya. Maklum di hari-hari biasanya Ketika orangtuanya bekerja dia harus tinggal di Daycare dari pagi sampai sore.  Mas Andre Sumaryatmo (NBP. 166) yang hadir dengan Mbak Emy istrinya dan Aji Bagaskoro, Dea (Devita Intan Sekar Ayu) putrinya tidak jadi hadir karena hari ini sedang menjadi panitia pesta pernikahan sahabatnya sesama aktivis OMK di Paroki Pejompongan. Mas Gunawan Senoaji, MC (NBP.46) hadir bersama dengan istrinya mbak Veronika, sesaat sebelum dimulai sharing pada pukul 10.30 menyusul yang terakhir mas Nurwidijadmiko (NBP. 103) saat sharing sudah dimulai. Keluarga ibu Riris Sumartaji beserta putra-putri- menantu dan cucu, hadir saat Perayaan Ekaristi sudah dimulai karena rupanya salah keluar di Exit toll nya sehingga harus berputar balik lebih dahulu.

Sharing dimulai dari Mas Andre seperti sedikit sudah di share mas Thomas dengan fotonya di Grup kemarin. Saya tambahkan sedikit keterangannya. Mas Andre merasa bersemangat dengan pertemuan ini dan merasa berbangga karena Rm. Purnomo Jenderal MSF hadir untuk pertemuan PBMN Regio Jabodetabek ini. Kemarin mas Andre yang menjemput Romo Jenderal di Stasiun Gambir dan kemudian mengantarnya untuk bermalam di Rumah Bapak Broto Santoso di Cluster The Castilla A-5/1 BSD City Tangerang Selatan. Langkah-langkah ini sudah dibicarakan dalam grup PBMN Jabodetabek beberapa minggu sebelumnya. Mas Andre hadir Bersama keluarga yang tadi sudah saya sebutkan di atas. Putranya yang paling besar Ignati nanti diharapkan akan menyusul putranya yang kedua yang hadir turut hadir pada hari ini. Aji Baskoro. Mas Andre menyebutkan jangan-jangan pertemuan PBMN di Jabodetabek ini membuat iri teman-teman di Regio yang lain. Karena selalu dihadiri oleh Rm. Jenderal – pimpinan di tingkat Internasional.

Sharing kedua dari Mas Thomas Suharjono Ketua PBMN peiode ini. Mas Thomas menginformasikan nanti di bulan Oktober tahun ini akan ada pertemuan Nasional PBMN di Sarangan. Saat ini yang terdaftar kurang lebih sudah 134 orang. Mas Andre menambahkan penjelasan mas Thomas, karena antusiasme pesertanya dari PBMN sampai pendaftaran terpaksa di tutup. Karena Kapasitas Wisma di Sarangan sudah tidak mencukupi. Mas Thomas menambahkan pada kesempatan itu akan dilakukan pemilihan Ketua PBMN yang baru, karena Mas Thomas menyatakan sudah menjadi ketua PBMN ini selama 2 periode ini. Jumlah anggota PBMN saat ini kurang lebih ada 200-an lebih dan tercatat dalam buku PBMN – NBP ( Ngumpulke Balung Pisah – Jilid 3) pada kesempatan yang akan datang akan diterbitkan NBP Jilid – 4 dengan mencari data anggota PBMN yang belum masuk dalam grup diperkirakan bisa mencapai 240 orang. PBMN merencanakan untuk menerbitkan buku bacaan. Beberapa buku pernah terbit dan terakhir yang saat ini masih ada stok adalah buku tentang Maria dan Buku Prodiakon. Juga buku terkait dengan Ibadat Orang yang meninggal yang lengkap dari karyanya sebagai PBMN telah diterbitkan oleh Penerbit Obor dan dipasarkan secara umum. Up date tentang keluarga: Satu putranya sudah menikah – tadi sudah diceritakan sepintas pada awal catatan ini. Putrinya Ajeng – anak kedua saat ini berada di Jepang. Sedang Putranya yang ke tiga Bagas, sedang menempuh kuliah Manajemen Bisnis di Universitas Sugiyo Pranoto Semarang.

Mas Bagyo (Petrus Damianus Subagyo) merasa bangga dan Bahagia dengan bisa hadir pada pertemuan ini. Romo Purnomo masih satu generasi dengan mas Bagyo waktu studi di Skolastikat MSF. Mas Bagyo menyadari mungkin karena usia juga, kondisi kesehatannya sudah mengalami banyak kemunduran. Punya teman di dekat rumah yang sama-sama pernah bertemu di Skolastikat dulu dari konvic SCY yang juga sudah sama-sama masuk dalam usia lanjut. Mas Bagyo saat ini sudah tidak boleh mengendarai mobil sendiri karena kadang mengalami “ngeblank” maka kemana-mana harus ada teman. Mbak Wiwik istrinya yang setia menemaninya. Putra-putranya  ada 3 orang. Semua sudah berkeluarga. Dua putranya sudah memberikan cucu. Mereka tinggal di dekat rumah. Masih satu kompleks. Sehingga cucu-cucu sering berkumpul di rumah. Satu putranya tinggal jauh di Semarang. Salah satu putranya masih menantikan karunia dari Tuhan untuk memperoleh momongan.

Mas Noto Budiharjo memperkenalkan diri Nama kecilnya Kundogo. Satu Angkatan dengan Rm. Purnomo waktu di Skolastikat MSF dulu. Saat ini tinggal di wilayah Paroki St. Mateus Bintaro. Istri tercinta Elisabeth Suwarni sudah bahagia di surga – kembali kepada Tuhan lebih dahulu. Dikaruniai 2 orang putri dan sudah berkeluarga. Istilah Jawa ia  mendapat karunia anak-anak kembang setaman. Saat ini mas Noto tinggal bersama putri – menantu dan cucu-cucunya. Selama di St. Mateus pernah menjadi DPH di Paroki.

Mas Heru Susanto, Hadir Bersama mbak Ita istrinya dan putranya yang kedua yang diatas juga sudah saya sampaikan. Perlu saya tambahkan dalam sharingnya ia menyampaikan kondisi keprihatinan tentang putrinya yang sedang menderita sakit, dan terpaksa harus dimintakan izin dari sekolahnya di SMK Musik kelas II untuk dirawat di rumah agar lebih terjaga dan terlindung dengan baik di dalam keluarga. Syukurlah sekolah mengijinkan sehingga nanti pada waktunya ujian Dhimpna dapat didampingi dan diantar ke Yogya selama mengikuti ujian tersebut. Untuk hal ini saya mengajak kita semua anggota PBMN dapat mendukung doa secara khusus untuk kesembuhan Dhimpna. Semoga proses pengobatannya dapat berjalan dengan baik dan Tuhan memberikan mukjijat. Ayo kota doakan khusus untuknya melalui Doa Untuk Beatifikasi Pater Jean Berthier (nanti akan saya share setelah tulisan ini – mungkin kita pernah juga menerima kartu doa pendek ini sebelumnya).

Mas Gunawan Seno, mensharingkan, dia punya putra 3. Pandu, Laksmi dan Krisnika. Ketiganya sudah dewasa. Dengan terus terang dia katakan begini. Anak-anak sekarang ini pada tidak berani menikah. Karena Ketika salah satu anaknya datang ke rumah membawa pacarnya. Orangtua dilarang oleh anaknya menanyakan “Kapan Nikahnya”. Mas Gunawan merasa iri kepada mas Thomas yuniornya waktu di Skolastikat dulu. Sudah ada cucu. Aku kapan punya cucu kalau anak-anakku begitu. Ngak mau segera nikah. Mas Gun juga mengatakan kecewa dengan kehadiran Rm. Purnomo untuk bermalam di rumah pak Broto, karena di awal dialah yang sudah menyatakan akan menjemput pak Broto untuk perjalanan ke rumah ini. Tetapi karena Rm. Purnomo hadir dan bermalam di sana. Mas Gunawan tidak jadi mampir ke rumah pak Broto hari ini. Mas Gunawan sampaikan salam dari Kakaknya untuk Rm. Purnomo karena waktu mereka sedang di Bantul beberapa waktu yang lalu, mas Gun menceritakan dengan bangga bahwa hari ini akan ada pertemuan mantan-mantan MSF itu dengan Rm. Purnomo Jenderal MSF, rupanya kakaknya itu kenal baik dengan Rm. Purnomo dan menyampaikan salam. Mas Gun menceritakan kondisi kesehatannya saat ini sudah ada ring di tubuhnya. Namun demikian dalam keadaan apapun hidup ini harus disyukuri.

Mas Tatak Mujiyono, Mas Tatak memperkenalkan istrinya Mbak Deitje Natalia Tundo yang berasal dari Menado, di lereng gunung Lokon, Tidak terlalu jauh dari Pasar Ekstrim yang di Tomohon. Aktifitas di Parokinya sering bertemu dengan mas Antonius Heru. Di DPH/  Pembangunan Gereja  Mas Heru menjadi Sekretaris sedang mas Tatak sebagai Ketua Seksi Dana. Saat ini di wilayahnya sedang membangun gereja. Ia bekerja di Perusahaan Korea di Jakarta Utara. Putranya 2 orang tetapi sudah sulit diajak pergi bersama- dengan orangtuanya. Masing-masing sudah punya acara sendiri-sendiri.

Hari 45 Wijaya. Dia perkenalkan lebih dahulu bahwa istrinya sejak keputusan pembicaraan anggota Bramin ( Mas Andre, Mas Bagyo, dsb)  yang jumlahnya terbatas di Bentara Budaya – depan Kantor Kompas – Palmerah Jakarta, istrinya – mama dari kedua anak putrinya Evin dan Vena ditunjuk menjadi bendahara PBMN hingga saat ini. Semula dia menolak – kenapa bukan kamu yang langsung sebagai anggota Bramin-PBMN tetapi dia berargumentasi – Bendahara sebelumnya adalah istri mas Bagyo – Mbak Wiwik, dan sebelumnya lagi Ibu Titik Minarto. Jadi yang jadi bendahara adalah sitri-istri anggota PBMN. Waktu itu Namanya Brayat Minulyo. Terlalu Jawa Sentris. Kemudian dia mohon izin untuk boleh mengungkapkan kesombongannya kepada para hadirin. Meskipun dia tidak dipilih oleh MSF menjadi salah satu calon Imam yang ditahbiskan rupanya hidupnya masih berguna dan terus dilimpahi berkat oleh Tuhan. Dalam kaitan dengan Rm. Purnomo yang saat itu sebagai Provinsial MSF Jawa yang sekaligus Assesor BAN PT pernah-bersama-sama hadir di Tomohon dalam pelaksanaan Akreditasi STIPAS St. Don Bosco Tomohon. Menginap hotel dekat Gunung Lokon daerah kelahiran mbak Deitje Natalia Tundo istri mas Tatak yang tadi disebut di atas.

Pada suatu saat pernah bertemu juga dengan romo Purnomo ketika sedang Transit di Bandara Ngurah Rai Denpasar. Dia sedang dalam perjalanan menuju Larantuka sedangkan Rm. Purnomo sedang dalam perjalanan Kembali ke Semarang/ Yogyakarta setelah mengunjungi Paroki MSF Lewolaga.  Romo menyampaikan informasi tentang persoalan bantuan Pembangunan Gereja dari pemerintah yang tertunda dan tidak jelas. Dia menjanjikan untuk mencoba mencari keterangan di Kantor Kemenag Larantuka. Tujuan dia sebenarnya untuk mengunjungi STP Reinha Larantuka. Di Kantor Kemenag Larantuka dia dapat keterangan dari Kepala Seksi Urusan Agama pak Petrus Pedo Beke bahwa informasi bantuan 500 juta itu memang benar adanya. Tetapi bantuan itu sebenarnya atas inisiatif dari DPR pak Mekeng. Bukan melalui Dirjen Bimas Katolik. Ada 2 tempat yang dibantu. Di Larantuka (Pulau Frores) dan di Lewoleba (Lembata). Tetapi bukan anggaran untuk tahun ini. Masih tahun depan. Lalu dia minta kepada pak Petrus Pedo Beke ini untuk memberikan penjelasan kepada Rm. Paroki yang pada waktu itu dijabat oleh Rm. Priyambodo MSF ditemani Rm. Rinanto. Dalam perjalanan pulang ke Jakarta melalui bandara Maumere dia singgah dipastoran Lewolaga untuk memberikan penjelasa awal. Romo Priyambodo sangat senang karena informasi tentang bantuan itu sudah berjalan setahun dan sudah juga memanggil arsitek untuk membuatkan gambar bestek renovasi gereja parokinya dengan biaya yang mahal. Sementara kemampuan ekonomi umat paroki sangat terbatas. Sampai sebeum dia datang rumor diantara umat masih simpang siur. Saat dia melakukan klarifikasi ke Kemenang Larantuka masalah sudah mendapatkan titik terang untuk diselesaikan. Romo gembira dan akan setia mengikuti petunjuk yang nanti akan disampaikan oleh Kepala Seksi Urusan Agama. Kasi ini kemudian menjadi Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Larantuka. Berikutnya sebagai aparat Bimas Katolik dia merasa seolah seperti Provinsial MSF yang dapat berkeliling untuk mengunjungi Saudara-saudaranya yang tertahbis menjadi imam. Dia merasa seperti Awam rasa Provinsial. Di Lewoleba – Pulau Lembata ( beda dengan Lewolaga yang di Pulau Flores)  tempat kelahiran Rm. Cyprianus Lelaona MSF, seniornya waktu di Skolastikat MSF. Dia 2 kali mengunjungi makamnya karena sekaligus menjalankan tugas visitasi dari Bimas Katolik. Pertama penyelesaikan Kelas Jauh dari STIPAS Kupang. Kedua Visitasi terkait dengan Ujian SMAK Lewoleba. Di Kalimantan Selatan – Banjarmasin. Di Kalimantan Timur – Samarinda, di Kalimantan Utara – Tanjung Selor, Di Kalimantan Tengah – Palangkaraya, selalu ketemu Romo-romo MSF baik yang senior – Uskup, maupun teman MSF yang lebih Yunior. Dia merumuskan berkat yang  diterimanya dari Tuhan –  selalu ingat film The Sound Of Musik yang pernah dia lihat dengan Kak Tinus di Gedung Bioskop Yogya depan RS. Betesda. Jika Tuhan menutup satu pintu – Dia akan membuka jendela. Tanpa harus ditahbiskan menjadi imam ternyata panggilan hidupnya tetap melayani umat Katolik bahkan seluas Indonesia.

Rahmat yang dirasakannya terus mengalir, seharusnya pensiun di usia 58 tetapi saat menjelang pensiun turun Kebijakan Nasional untuk alih fungsi darijabatan struktural ke fungsional Asesor SDM Aparatur, sehingga memasuki usia pensiun setelah usia 60 tahun di 2023. Setelah pensiun masih mendapat kesempatan mengajar di Universitas Guna Darma hingga saat ini.

( Besambung…)

Jakarta, 18 Mei 2026

Ansgarius Hari 45 Wijaya

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *