Keluarga dalam Bingkai Syukur, Merajut Berkah di Awal dan Akhir Tahun
Setiap dentang lonceng pergantian tahun, keluarga kami sengaja mengawali dan mengakhiri hari dalam syukur bersama di biara Karmel Tak Berkasut atau biara lain di sekitar Yogyakarta, meneguhkan keyakinan bahwa berkat Tuhan adalah fondasi kebersamaan yang tak tergoyahkan. Tradisi ini, dari misa penutup tahun, adorasi Sakramen Mahakudus, hingga bakar-bakar sederhana, bukan sekadar ritual, melainkan ruang suci untuk mengajarkan anak-anak: hidup ini adalah anugerah yang layak disyukuri bahkan di tengah kepahitan.
Sejak si sulung masih balita hingga kini remaja, kami percaya, keluarga adalah sekolah iman pertama tempat nilai-nilai kesetiaan, kerendahan hati, dan harapan ditanamkan melalui doa spontan, tawa di meja makan, dan komitmen menulis sebagai bentuk pengabdian.

Di biara Kaliurang, 31 Desember 2025 menjadi saksi syukur kami atas berkat yang mengalir sepanjang tahun: pekerjaan sebagai guru di empat sekolah, kesehatan, dan kesempatan mendidik anak-anak untuk peka pada sesama.
Tahun 2026, kami bertekad memperdalam makna kebersamaan dalam panggilan, menulis secara konsisten (di Brayatminulya, Kompasiana, Bajawa Press, Tempusdei), dan lainnya meski tanpa penghargaan gemerlap, mendukung perjuangan mengusung Romo Mangunwijaya sebagai Pahlawan Kemanusiaan, serta mendampingi si bungsu lulus SD dan sulung masuk perguruan tinggi.
Bagi kami, kesuksesan bukan tentang pencapaian individu, tetapi ketaatan pada proses yang dimulai dari hal kecil: satu paragraf tulisan, doa Angelus tiga kali sehari, atau diskusi hangat tentang nilai kemanusiaan ala Romo Mangun bersama tim pengusung yang akan terus mengawal proses kerja dari Tim Kabupaten, Propinsi hingga Pusat di tangan Menteri Sosial.
Harapan terbesar kami sederhana: menjadi keluarga yang utuh dalam rahmat-Nya. Kami percaya, setiap langkah setia, entah dalam mengajar, menulis, atau berdoa bersama, akan disinari cahaya harapan yang melampaui batas ruang dan waktu.
Di penghujung 2026 nanti, kami ingin kembali ke biara itu, tersenyum lega: tahun ini mengajarkan kami bahwa kebersamaan sejati lahir ketika hati disatukan dalam syukur, dan berkat Tuhan selalu cukup untuk menuntun langkah kecil kami menuju Indonesia yang lebih beradab. Bagi kami, itulah makna sejati tahun rahmat: keluarga yang saling menguatkan, percaya bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk menabur kebaikan, dan menuai berkat.

