“Menjaga yang Dititipkan, Menguduskan dalam Kebenaran”
Renungan Rabu, 20 Mei 2026
Saudara Terkasih, dunia tempat kita tinggal saat ini dipenuhi dengan berbagai suara, tren, dan pengaruh yang sering kali mengaburkan nilai-nilai iman. Opini bisa dibentuk, viralisme telah menjadi panglima di dalam menyelesaikan masalah, padahal bisa jadi persoalan baru. Kebenaran bisa menjadi sumir, kepentingan lebih kuat di dalam hidup bersama.
Dalam bacaan-bacaan hari ini, kita diajak untuk melihat sebuah transisi yang emosional sekaligus penuh peneguhan. Kekristenan perdana sedang bersiap menghadapi masa depan tanpa kehadiran fisik para rasul, sama seperti para murid yang harus belajar hidup di dunia tanpa kehadiran fisik Yesus setelah Kenaikan-Nya.
Dalam Bacaan Pertama, Paulus memberikan wejangan perpisahan yang sangat menyentuh kepada para penatua di Efesus. Ia mengingatkan mereka: “Jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan…” Paulus tahu bahwa setelah kepergiannya, akan datang “serigala-serigala yang ganas” yang mencoba mencerai-beraikan jemaat. Tugas menjaga iman bukan hanya tugas para klerus, tetapi tugas kita bersama sebagai satu tubuh Kristus. Kita dipanggil untuk saling menjaga, saling mengingatkan, dan tetap berakar pada “firman kasih karunia-Nya.”
Saudara Terkasih, dalam Injil, kita mendengar bagian dari Doa Imam Agung Yesus. Yesus tidak meminta Bapa untuk mengambil para murid dari dunia, melainkan memohon agar Bapa melindungi mereka dari yang jahat.
“Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.” (Yohanes 17:17)
Dikuduskan berarti dipisahkan untuk tujuan yang mulia. Kita hidup di dunia, tetapi kita bukan dari dunia. Kita diutus ke tengah dunia yang penuh tantangan ini bukan untuk menjadi sama dengan dunia, melainkan untuk membawa terang, kasih, dan kebenaran Kristus.
Saudara Terkasih, hari ini, mari kita merefleksikan diri:
- Apakah kita sudah menjadi “penjaga” bagi sesama kita, atau justru sering menjadi batu sandungan?
- Di tengah banjir informasi dan standar moral dunia yang makin bias, apakah kita masih menjadikan Firman Tuhan sebagai standar kebenaran tertinggi dalam hidup kita?
Yesus telah mendoakan kita. Kita penuh percaya diri tidak berjalan sendirian. Mari masuk ke dalam dunia hari ini dengan keberanian, membawa kekudusan hidup yang bersumber dari kebenaran-Nya.
Doa
Allah Bapa yang Mahakudus, terima kasih karena Engkau tidak pernah membiarkan kami berjalan sendirian di tengah dunia ini. Kuduskanlah hati, pikiran, dan perbuatan kami hari ini dengan kebenaran Firman-Mu. Lindungilah kami, keluarga kami, dan komunitas kami dari segala pengaruh jahat yang dapat menjauhkan kami dari kasih-Mu. Mampukan kami untuk saling menjaga dan menjadi saksi kasih-Mu yang hidup.
Utuslah Roh Kudus-Mu agar kami mampu membedakan mana kebenaran yang sejati atau sekadar kebenaran duniawi yang ditawarkan. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.
Salam JMJ
Susy Haryawan

