Kala Sang Pemilik Kehidupan Memanggil Mutiara-Nya: Senyum Terakhir Mba Nisa dan Badai yang Datang Tiba-tiba

Kala Sang Pemilik Kehidupan Memanggil Mutiara-Nya: Senyum Terakhir Mba Nisa dan Badai yang Datang Tiba-tiba

Kematian tidak pernah mengetuk pintu untuk meminta izin. Ia datang bagai pencuri di siang bolong, merenggut kebahagiaan dalam sekejap mata, dan meninggalkan jejak luka yang menganga dalam. Adalah sosok Mba Nisa, seorang ibu muda yang baru dua tahun merajut asa, harus berpulang dengan cara yang tak pernah disangka-sangka. Hari Jumat itu masih dipenuhi dengan gelak tawa dari panggilan video yang ceria, namun esok paginya, dunia runtuh seketika. Sebuah kisah yang mengiris hati, menampar kesadaran kita, dan menjadi pengingat paling nyata: di hadapan Sang Pemilik Kehidupan, manusia sungguh tidak memiliki kuasa apa-apa.

Saya ingin mengawali tulisan ini dengan mengutipkan kembali tulisan Pak M. Sutrisno di WAG Lingkungan Santa Angela Merici, Wilayah Filipi, Paroki Minomartani, Sleman Yogyakarta, 10 Maret 2026. Tulisan Pak Trisno yang penuh empatik di bawah ini mendorong saya untuk menuliskan ulang menjadi versi yang sedang Anda baca ini. Mbak Nisa (Maria Goreti Hernisa, istri dari Mas Antok, koster Paroki Minomartani).

***

Mba Nisa adalah wujud nyata dari ketekunan seorang anak dan cinta tanpa batas dari seorang ibu. Belum genap dua tahun ia membina keluarga kecilnya, ia dikaruniai seorang putri lucu bernama Lintang yang usianya kini hampir menginjak satu tahun. Di saat-saat keibuan itu baru saja mekar, ia harus tetirah ke rumah ibunya di desa Eretan, Indramayu.

Sang ibu tengah berjuang melawan kanker payudara stadium berat. Kondisinya sangat memprihatinkan; menyisakan luka yang perbannya harus diganti dengan telaten setiap dua hari sekali. Jarak 60 km antara Eretan dan Rumah Sakit di Kota Cirebon rela ia tempuh demi kesembuhan sang ibu. Di satu sisi, ia adalah ibu dari bayi yang masih sangat membutuhkan kasih sayang; di sisi lain, ia adalah anak yang tulus merawat ibunya yang merintih menahan sakit. Semua dijalaninya dengan ketabahan yang luar biasa.

Kematian mendadak selalu meninggalkan guncangan yang menghancurkan struktur keamanan psikis secara instan, karena kita tidak pernah diberi waktu untuk bersiap diri. Hal ini tergambar begitu jelas dari momen hari Jumat itu. Sekitar pukul 10 pagi, setelah keluar dari ruang adorasi, saya menemui Mas Antok, suami Mba Nisa. Di tengah obrolan santai yang diselingi isapan rokok, gawai Mas Antok berdering. Mba Nisa melakukan panggilan video dari Indramayu dengan wajah yang ceria.

Dengan antusias yang meluap, ia memperlihatkan Lintang yang kini bertambah lincah. Bayi kecil itu terlihat menggemaskan, berjalan ke sana kemari meski langkahnya masih oleng. Saya ikut menatap layar HP Mas Antok, menyaksikan potret kebahagiaan kecil yang begitu hangat. Tidak ada satu pun firasat bahwa itu adalah senyum, sapaan, dan tawa terakhir Mba Nisa.

(Mas Antok bersama istri tercinta yang tiba-tiba pergi untuk selamanya, foto: Pak M. Sutrisno)

***

Takdir selalu memiliki jalannya sendiri yang sering kali tak terselami oleh akal kita. Kemarin pagi, sebuah kabar mengejutkan datang melalui pesan WA: Mba Nisa jatuh di kamar mandi dan nyawanya tidak tertolong. Reaksi pertama dari sebuah kehilangan mendadak adalah syok dan ketidakpercayaan yang luar biasa, seolah kita sedang berada di dalam mimpi buruk.

Betapa terkejut dan teramat sedihnya hati ini. Perasaan campur aduk mencengkeram relung dada; di antara kebahagiaan melihat anak yang baru bisa berjalan, kesusahan seorang ibu yang sakit parah, hingga jarak yang memisahkan mereka. Tiba-tiba saja, mutiara keluarga itu dipanggil berpulang.

Kini, badai yang sangat kejam sedang menghantam Mas Antok. Mengalami kematian pasangan secara tiba-tiba dapat memicu duka cita dan stres yang sangat luar biasa berat. Ia harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan istri tercinta, merengkuh Lintang yang masih belum mengerti ke mana ibunya pergi, sekaligus memikirkan sang ibu mertua yang terbaring lemah. Mas Antok sedang dihadapkan pada situasi yang teramat sangat sulit dan menyesakkan dada.

***

Peristiwa ini menyadarkan kita bahwa Tuhan mempunyai rencana yang lain, dan manusia tidak pernah berkuasa untuk menolaknya. Dalam menghadapi duka yang mendalam, pendekatan spiritual dengan menyerahkan diri kepada Sang Pencipta menjadi sumber kekuatan utama untuk bisa kembali bangkit.

Turut berbeladuka yang mendalam Mas Antok. Doa kami tercurah untukmu, Mas Antok. Seperti saat Tuhan Yesus menyurutkan badai di tengah samudera, badai kehidupanmu saat ini, nantinya pasti juga akan disurutkan oleh-Nya.

RIP. Berbahagialah di Surga, Mba Nisa. Ketekunan dan cintamu akan selalu abadi dikenang.

[Terima kasih Pak M. Sutrisno atas foto dan inspirasinya]

Alfred Jogo Ena

Alfred Jogo Ena

Seorang editor yang suka menulis dan guru agama di beberapa sekolah menengah di Yogyakarta. Ia juga melayani pelatihan dan konsultasi penulisan buku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *