GULINGKAN BATU, LEPASKAN IKATANNYA: Berhenti Bersembunyi di Makam Anda Sendiri!

GULINGKAN BATU, LEPASKAN IKATANNYA: Berhenti Bersembunyi di Makam Anda Sendiri!

Sadarkah kita bahwa betapa seringnya kita berdoa meminta jalan keluar, namun kitalah yang diam-diam menggembok pintunya dari dalam? Kita menjerit memohon pemulihan atas pernikahan yang beku atau karier yang jalan di tempat.

Namun, saat Tuhan memerintahkan, “Gulingkan batu itu!”, kita sering kali berdalih: “Tuhan, baunya sudah busuk.” Kita terlalu pengecut untuk menghadapi realitas. Kita memeluk kepahitan dan keangkuhan erat-erat, hingga lupa bahwa zona nyaman yang kita pertahankan itu sebenarnya adalah “makam” yang mematikan.

Kisah kebangkitan Lazarus menampar keras realitas psiko-spiritual kita hari ini. Ada dua perintah Yesus yang menuntut tindakan nyata manusia sebelum dan sesudah mukjizat terjadi: “Gulingkan batu itu!” dan “Lepaskan ikatannya.”

“Gulingkan Batu Itu!”: Berani Mengambil Langkah Pertama

Tuhan bisa saja melenyapkan batu itu sendirian, tapi Ia menuntut pertobatan hati dan partisipasi aktif kita. Batu berat penutup makam adalah wujud dari egoisme, rasa takut, dan dosa ketidakpedulian kita.

Di tengah keluarga, batu itu berwujud gengsi untuk meminta maaf, atau kebisuan (silent treatment) akibat konflik berkepanjangan. Di tempat kerja, batu itu adalah penolakan terhadap kolaborasi dan ketakutan mengambil inisiatif.

Menggulingkan batu berarti berani mengambil langkah pertama. Turunkan gengsi Anda untuk menyapa pasangan lebih dulu, atau tawarkan solusi proaktif di kantor. Ingatlah, mukjizat pemulihan tidak akan bekerja pada hati yang menolak untuk dibongkar.

“Lepaskan Ikatannya”: Saling Memulihkan

Saat Lazarus dipanggil keluar, tubuhnya masih terikat kain kafan. Ini melambangkan bahwa meski kita telah keluar dari krisis, kita sering kali masih terikat “kafan” luka masa lalu, kebiasaan buruk, atau perkataan negatif.

Di sinilah peran penting sesama. “Lepaskan ikatannya dan biarkan ia pergi!” adalah panggilan bagi komunitas, keluarga, dan rekan kerja untuk saling memulihkan.

Seperti teguran aktual dari Paus Leo XIV, kita ditantang untuk “berpuasa dari kata-kata yang melukai”, menjauhi fitnah, dan menggantinya dengan bahasa yang membawa harapan.

Di tempat kerja, lepaskan ikatan rekan Anda dengan berhenti bergosip dan mulailah mendukung. Di tengah keluarga, lepaskan ikatan trauma dengan pengampunan.

Hari ini, mukjizat pemulihan sudah disiapkan. Berhentilah mengasihani diri sendiri! Ambillah langkah pertama: gulingkan batu keangkuhan Anda sekarang juga, dan jadilah tangan Tuhan yang melepaskan ikatan sesama!

Alfred Jogo Ena

Alfred Jogo Ena

Seorang editor yang suka menulis dan guru agama di beberapa sekolah menengah di Yogyakarta. Ia juga melayani pelatihan dan konsultasi penulisan buku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *