IBARAT PERAHU KECIL DAN RAPUH

IBARAT PERAHU KECIL DAN RAPUH

Y. Haryanto

Renungan Harian
Selasa, 30 Juni 2026

Injil: Mat. 8:23-27

“Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya ? ” (Mat.8:26a).

Bapak, Ibu, Saudara/i terkasih dalam Kristus, kita semua bersama-sama diundang untuk percaya akan Allah yang berkuasa atas atas “Badai” dalam samudra kehidupan kita.

Ada cerita lucu dari Rm J Darminto SJ. Suatu waktu beliau terbang terjadilah turbulensi pesawat. Para penumpang banyak yang panik. Keterangan dan petunjuk pramugari tidak mampu menenangkan mereka. Muncul inisiatif Rama Darminto untuk ikut menenangkan para penumpang. Beliau berdiri dan berbicara lantang:” Bapak Ibu, tenang. Turbulensi pesawat biasa terjadi. Kita tidak perlu takut. Amit-amit, andaikan pesawat kita jatuh, kita semua bersama-sama naik ke Surga ! Sebab kita semua ber-Ketuhanan Yang Maha Esa! Tuhan Allah menjamin keselamatan kita. Tenang ! ” Beliau kembali duduk sambil tersenyum. Ajaib. Para penumpang yang semula panik, sebagian besar ikut tersenyum dan menjadi tenang. Selang beberapa waktu ada seseorang yang berkomentar: Rama tenang, kalau terjadi apa-apa tak punya tanggungan. Lha kami, apa jadinya nasib anak2 ? Rama Darminto tak menanggapinya selain dengan senyum beliau.

Kita orang dewasa maunya bertanggungjawab atas kesejahteraan keluarga, beresnya pekerjaan, lancarnya agenda hidup bermasyarakat, juga beres dalam hidup menggereja. Ketika terjadi “turbulensi”, ” badai” kehidupan, misalnya krisis finansial, gangguan kesehatan, kita menjadi ketakutan. Kita
mencemaskan banyak hal yang ada dalam pikiran kita, kalau….. kalau…… Kita lupa bahwa Tuhan beserta kita. Tuhan yang berkuasa atas badai dan danau bergelora sewaktu bersama para murid dalam perahu, juga beserta kita saat kita menghadapi “badai” kehidupan. Teguran Tuhan Yesus bagi para murid berlaku pula bagi kita:”Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya ? “(Mat.8:26a).

Berhadapan dengan ” badai kehidupan” kita merasa kecil dan rapuh. Lagu ” O Kawula Punika” mengingatkan kita untuk bersikap rendah hati mengakui kerentanan kita dan mohon penyertaan Tuhan demi keselamatan kita. Kerentanan kita diingatkan dalam lirik lagu “O Kawula Punika” bait yang pertama:

O Kawula punika
(O hambaMu ini)
Palwa upaminya
(Ibarat sebuah perahu)
Alit tur tan prakosa
(Kecil dan tidak perkasa)
Ngambah ing samodra
(Mengarungi samudra)
Dipun tempuh prahara kan aluning samodra
(Dihantam badai dan gelombang tinggi samudra)
Dhuh Dewi Maria,
Pangayoman Amba
(Dhuh Bunda Maria, Engkaulah pelindung dan penolong hamba).

Sadar akan kerentanan kita dalam menghadapi “badai kehidupan”, ibarat perahu kecil dan rapuh di tengah-tengah prahara samudra, dengan rendah hati kita mohon pertolongan dan perlindungan Tuhan melalui Bunda Maria.

Pengakuan akan Kuasa Tuhan mengatasi ” badai kehidupan ” diungkapkan dalam lirik bait yang kedua:

Sang Sektining sinekti
Mugi anjagiya
tuwin tansah ngayomi
Kula pun baita
Kasirepna prahara kan aluning samodra

  • Dhuh Dewi Maria Pengayoman amba

(Tuhan Yang Sakti, berkuasa atas segala ciptaan dan “badai kehidupan”, berkenanlah menjaga serta senantiasa melindungi hamba, perahu kecil dan rapuh ini, redakanlah prahara samudera kehidupan

  • Dhuh Bunda Maria, Engkaulah pelindung dan penolong hamba)

Bersyukurlah kita dikaruniai iman yang memungkinkan kita aman dalam naungan perlindungan Tuhan.

DOA

Kuatkan iman kami, ya Tuhan
dan anugerahi kami dengan rasa aman dalam menghadapi “badai kehidupan” karena perlindunganMu.
Amin.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *