Memungut Serpihan Kasih-Nya

Memungut Serpihan Kasih-Nya

Rasanya belum habis rasa syukurku karena di ujung usia (65th) dan memulai masa pensiun aku diberkati dengan merenovasi rumah sehingga menjadi lebih layak huni. Aku dengan istri dan anak kedua di lantai 2 dan anak bungsu dengan istri dan anak di lantai 1.

Setiap hari cucu naik ngajak bermain atau nonton film Dinosaurus. Pagi- pagi duduk di balkon sambil nyeruput kopi dan menikmati kicau burung. Beberapa rencana untuk mengisi waktu pensiun sudah saya rancang, misalnya, aku mau bangun greenhouse kecil di dag sekolah untuk bertani sayur secara organik sambil tetap in touch dengan sekolah, liburan ke Yogya, dll. Aku ingat kotbah pastur, “Beryukurlah dahulu baru bahagia akan menyusul. Jangan bahagia baru bersyukur.”

Aku sudah bersahabat puluhan tahun dengan diabetes dan rutin minum obat dan teratur kontrol dokter. Sejauh ini baik- baik saja mesti sering di atas 200. Maka ketika sakit seperti vertigo, luka yang tak kunjung kering kuanggap ini efek gula yang tinggi. Aku mencoba dengan diet lebih ketat agar gula normal dan semua akan beres dengan sendirinya.

Ketika kontrol rutin ke penyakit dalam kusampaikan semua ini dengan ditambah ada batuk- kecil kering yang tidak sembuh- sembuh. Dokter minta aku melakukan general check up supaya kalau ada koreksi dosis obat gula juga bisa dilakukan. Segera general chek up dilakukan dengan hasil semua fungsi organ vital jantung, ginjal dan hati normal. Hanya hasil ronsen paru kelihatan ada bintik- bintik putih maka diduga TBC suspect, maka aku diminta konsul ke dokter paru. Sampai sini aku merasa baik- baik saja, kalau pun the worst thing aku kena efeksi paru bagiku tidak masalah toh sudah ada obat penyembuhnya.

Supaya lebih jelas dokter minta saya CT Scan khusus paru. Hasilnya dokter tampak ragu kalau ini infeksi, ada nodul-nodul penyebaran di paru. Aku pun diminta konsul ke dokter paru yang sekaligus konsultan kanker. Aku berpikir apa yang harus kulakukan sekarang?

Istri mengusulkan kami cari second opinion tetapi di mana? Ya kalau yang lebih baik ke luar negeri, Penang misalnya. Tetapi anak sulung memberi info di Bali ada rumah sakit internasional yang setara luar negeri. Istri mencoba mencari kontak dan berhasil diberi jadwal konsul dengan dokter parunya. Kami bawa semua dokumen sebelum, terutama CT Scan paru dan hasil uji lab.

Dokter merasa foto kurang jelas, termasuk keterangannya. Maka meminta kami mendapatkan semua file agar bisa dibaca ulang oleh radiolognya. Puji Tuhan bisa dan kami menunggu hasil pembacaan ulang. Beberapa hari kami dijadwadkan maraton konsul dengan 3 dokter: ahli paru, ahli kanker (ongkologi) dan bedah ginjal (urologi).

Dari sini kami mendapat penjelasan detil bagaimana sel kanker menyebar sampai paru, sehingga disebut stadium 4. Dugaan pusat ada di ginjal, maka butuh MRI khusus ginjal untuk lebih pastinya. Sampai sini aku belum merasa apa- apa, sepertinya aku hanya orang yang mendengar penjelasan, tidak tertuju padaku.

Setelah masuk mobil mau pulang aku baru sadar kalau semua penjelasan itu tertuju pada diriku. Aku dan istri tak bisa menahan menangis sesenggukan sampai anak bungsu yang nyetir binggung mengapa papa mamanya nangis, padahal biasanya hanya diam. Selama ini kami tidak cerita walaupun dia yang mengantar ke sana kemari.

Saya mengalami denial (pengingkaran) terhadap kenyataan ini: Mengapa aku? Apa salahku? Sampai saat ini aku baik-baik saja mengapa tiba- tiba begini? Aku masih ingin menikmati sisa hidup , dll. Pelahan proses denial ini mengendap karena dukungan orang tercinta di sekitarkan. Aku membangun keyakinan bahwa sakit ini bukan hukuman Tuhan. Dia tetap hadir dalam kesesakanku. Aku harus membangun kekuatan dengan mencoba memungut kembali serpih-serpih Kasih-Nya yang selama ini tercurah padaku selama 65 tahun.

Pertama, aku ini hanya anak buruh tani di desa yang bermimpi besar bisa sarjana. Setelah melalui jalan berliku, itu bisa saya raih. Tetapi Tuhan ternyata memberi lebih dari yang aku minta, aku bisa S2 bahkan S3. Bahkan istri yang semula hanya lulusan SMA, bisa meraih S1 dan S2 nya. Tidak ada alasan bagiku untuk tidak mensyukuri berkat ini.

Kedua, bersama istri yang awal mendirikan tempat kursus sebagai tambahan penghasilan kini diberkati sebagai lembaga pendidikan (KB, TK dan SD. Kepercayaan besar diberikan Tuhan untuk mendidik 200 anak dan mengelola 20 guru/karyawan. Siapakah aku ini hingga Tuhan menaruh kepercayaan sebesar ini?

Ketiga, Tuhan memberkati aku dengan talenta menulis sehingga aku bisa ikut “ikut mewartakan kabar baik” dengan menulis puluhan buku dan artikel yang tak terhitung. Siapakah aku ini sehingga Tuhan melibatkan aku dalam mega proyek-Nya membaharui dunia?

Keempat, aku bersyukur karena istri, anak dan menantu yang selalu mendukung, dua cucu yang menjadi penghiburan. Dan Kelima, para sahabat dari berbagai komunitas (PBMN, Ikafite. Muwardi, Mudika, dll) yang nyengkuyung dalam doa dan peneguhan terus-menerus. Secara khusus Sesepuh dan Pendiri PBMN, Kangmas Brotosusanto menilpon dengan syering dan peneguhannya.

Apa semua ini bukan kasih Tuhan padaku? Aku harus banyak belajar dari Santo Paulus. Paulus mengalami banyak penderitaan: dipenjara, dicambuk, dianiaya, ditolak, mengalami bahaya dalam perjalanan, bahkan menghadapi kelemahan tubuh. Namun ia tetap dapat berkata: “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (Filipi 4:4)

  • syering ini saya sampaikan khusus bagi yang sedang menderita apa pun bentuknya semoga bisa menjadi kekuatan.

Paul Subiyanto

Dr.Paulus Subiyanto,M.Hum --Dosen Bahasa Inggris di Politeknik Negeri Bali ; Penulis buku dan artikel; Owner of Multi-Q School Bal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *