Mengapa Orang Baik Harus Menderita?

Mengapa Orang Baik Harus Menderita?

Belajar Menemukan Makna Penderitaan bersama Paus Yohanes Paulus II

Ada satu pertanyaan yang hampir pasti pernah singgah dalam hidup setiap orang. Mengapa orang baik harus menderita?

Pertanyaan itu muncul ketika kita melihat seorang ayah yang bekerja keras, tetapi terserang kanker. Ketika seorang ibu yang tak pernah berhenti berdoa harus kehilangan anaknya. Ketika seorang imam, biarawan, atau relawan yang mengabdikan hidupnya justru mengalami sakit berkepanjangan. Atau mungkin ketika kita sendiri merasa sudah berusaha hidup jujur, tetapi cobaan datang silih berganti.

Di saat seperti itu, iman pun bisa ikut berguncang. Bukankah Tuhan itu baik? Bukankah Dia Mahakasih? Kalau begitu, mengapa penderitaan tetap ada? Pertanyaan ini sebenarnya sudah sangat tua. Kitab Suci pun tidak pernah menyembunyikannya. Kitab Ayub adalah salah satu contohnya. Ayub digambarkan sebagai orang yang saleh. Ia takut akan Tuhan, hidup jujur, dan menjauhi kejahatan. Namun justru dialah yang kehilangan harta, anak-anak, bahkan kesehatannya.Teman-temannya mencoba menjelaskan semuanya dengan logika yang sederhana. “Kalau kamu menderita, pasti kamu berdosa.” Tetapi ternyata tidak sesederhana itu.

Paus Yohanes Paulus II mengangkat kembali pergumulan ini dalam Surat Apostolik Salvifici Doloris yang diterbitkan tahun 1984. Menariknya, beliau tidak berusaha memberikan jawaban yang mudah. Tidak ada rumus singkat yang mampu menghapus misteri penderitaan. Sebaliknya, Paus mengajak kita berjalan pelan-pelan. Bukan mencari penyebab penderitaan semata, melainkan menemukan maknanya.

Sebab ada banyak pertanyaan dalam hidup yang tidak selesai dengan penjelasan. Pertanyaan itu baru menemukan damai ketika kita mengalami kehadiran Tuhan. Itulah yang terjadi di salib. Selama berabad-abad, salib adalah lambang kehinaan. Hukuman paling memalukan pada zaman Romawi. Tidak ada orang yang ingin mati di sana. Namun Yesus justru memilih jalan itu.

Ia tidak datang ke dunia untuk menghapus semua penderitaan manusia secara ajaib. Ia juga tidak menjanjikan bahwa orang beriman akan bebas dari sakit, kegagalan, atau kematian. Yang dilakukan Yesus jauh lebih mengejutkan. Ia masuk ke dalam penderitaan itu sendiri. Ia merasakan lapar. Ia letih berjalan. Ia dikhianati sahabat-Nya. Ia difitnah. Ia dicambuk. Ia dipaku di kayu salib. Dengan cara itu, Allah menunjukkan sesuatu yang luar biasa. Ia bukan Allah yang hanya memandang penderitaan manusia dari kejauhan. Ia ikut merasakan luka manusia.

Karena itulah, setiap kali kita menangis, sesungguhnya Kristus memahami air mata itu. Ia pernah mengalaminya. Dalam pandangan dunia, penderitaan identik dengan kegagalan. Orang yang sehat dianggap berhasil. Orang yang sakit dianggap kalah. Orang yang kuat dipuji. Orang yang lemah sering dilupakan. Namun Injil membalik cara pandang itu.

Di salib, justru tampak kemenangan kasih. Kasih yang tidak berhenti meski harus terluka. Kasih yang tidak membalas kebencian. Kasih yang tetap mengampuni ketika disakiti. Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa melalui salib, penderitaan memperoleh makna yang sama sekali baru. Bukan karena rasa sakit itu sendiri indah. Tidak. Gereja tidak pernah memuja penderitaan.

Yang memberi makna adalah kasih yang hadir di dalamnya. Bayangkan seorang ibu yang semalaman menjaga anaknya yang demam. Ia tidak tidur, tubuhnya lelah, pikirannya penat. Semua itu adalah penderitaan. Namun adakah ibu yang menghitungnya sebagai kerugian? Tidak.

Kasih membuat penderitaan memiliki arti. Begitu pula seorang ayah yang bekerja keras demi pendidikan anak-anaknya. Mungkin tubuhnya pegal setiap hari. Mungkin ia harus mengorbankan banyak impian pribadinya. Namun semua itu dijalani dengan sukacita karena didorong oleh cinta. Kasih selalu mampu memberi makna pada pengorbanan.

Hal yang sama tampak dalam diri Kristus. Salib bukanlah kemenangan rasa sakit. Salib adalah kemenangan kasih. Lalu bagaimana dengan penderitaan kita? Apakah semua penderitaan berasal dari hukuman Tuhan? Paus menjawab dengan sangat hati-hati. Tidak.

Memang ada penderitaan yang muncul karena kesalahan manusia sendiri. Orang yang mabuk lalu mengalami kecelakaan tentu menuai akibat dari pilihannya. Tetapi ada begitu banyak penderitaan yang sama sekali tidak dapat dijelaskan seperti itu.

Ada bayi yang lahir dengan penyakit bawaan. Ada anak kecil yang kehilangan orang tuanya. Ada keluarga sederhana yang rumahnya tersapu banjir. Ada orang-orang baik yang hidupnya penuh cobaan. Di sinilah misteri tetap tinggal sebagai misteri. Namun iman memberi kita satu keyakinan. Sekalipun kita tidak selalu mengerti alasan Tuhan, kita dapat percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.

Kadang yang paling kita butuhkan bukan jawaban. Melainkan teman seperjalanan. Bukankah ketika seseorang kehilangan orang yang dicintainya, kita sering bingung mencari kata-kata?

Apa pun yang kita ucapkan terasa kurang. Akhirnya kita hanya duduk di sampingnya. Menggenggam tangannya. Menemaninya menangis. Dan anehnya, justru kehadiran itu yang paling menguatkan.

Begitulah Tuhan hadir. Tidak selalu dengan penjelasan. Tetapi dengan penyertaan. Paus Yohanes Paulus II juga mengajak kita melihat bahwa penderitaan sering mengubah manusia menjadi pribadi yang lebih dalam.

Banyak orang mengaku baru benar-benar mengenal arti hidup setelah mengalami sakit. Ada yang baru menghargai keluarga ketika hampir kehilangan mereka. Ada yang baru menemukan Tuhan ketika berada di ruang perawatan rumah sakit. Ada yang baru belajar bersyukur setelah mengalami kegagalan besar. Bukan berarti kita harus mencari penderitaan.

Sama sekali tidak. Namun ketika penderitaan datang, kita bisa memilih. Menjadi pahit. Atau menjadi semakin penuh kasih. Orang yang pernah terluka sering kali lebih mampu memahami luka orang lain.

Ia tidak mudah menghakimi. Ia tahu rasanya menangis. Ia tahu rasanya gagal. Ia tahu rasanya kehilangan. Karena itu ia lebih mudah berbelas kasih. Mungkin inilah salah satu buah penderitaan yang paling indah. Ia melahirkan belas kasih.

Dalam Salvifici Doloris, Paus juga mengingatkan bahwa orang yang menderita bukanlah beban bagi Gereja. Justru mereka memiliki panggilan yang sangat mulia. Selama ini kita sering menganggap orang sakit tidak bisa berbuat apa-apa. Padahal tidak demikian. Ketika seseorang mempersembahkan sakitnya kepada Kristus, ia sedang mengambil bagian dalam karya penebusan. Kalimat ini mungkin terdengar sulit. Namun sebenarnya sangat sederhana.

Bayangkan lilin. Semakin ia memberi terang, semakin dirinya habis terbakar. Justru karena terbakar, ruangan menjadi terang. Begitulah kasih bekerja. Orang yang memikul salib bersama Kristus sedang ikut menerangi dunia. Mungkin tidak terlihat. Tidak masuk berita. Tidak mendapat tepuk tangan. Namun di mata Tuhan, semuanya berharga.

Karena itu Gereja selalu menaruh perhatian besar kepada orang sakit. Bukan sekadar memberikan obat. Tetapi juga menghadirkan kasih. Mungkin inilah sebabnya hampir setiap rumah sakit Katolik memiliki kapel kecil.

Di sana orang diajak percaya bahwa kesembuhan bukan hanya soal tubuh. Kadang hati juga perlu disembuhkan. Luka batin juga perlu dipulihkan. Harapan juga perlu dinyalakan kembali. Pada akhirnya, Paus mengajak seluruh Gereja menjadi seperti Orang Samaria yang Baik Hati.

Orang Samaria itu tidak bertanya siapa yang salah. Ia tidak bertanya mengapa korban bisa dirampok. Ia tidak memberi ceramah panjang. Ia berhenti. Membersihkan luka. Mengangkat tubuh korban. Membayar biaya pengobatan. Lalu melanjutkan perjalanan.

Kasih selalu lebih sibuk menolong daripada menghakimi. Mungkin itulah panggilan kita hari ini. Di sekitar kita selalu ada orang yang sedang memikul salib. Ada yang sedang berjuang melawan penyakit. Ada yang kehilangan pekerjaan. Ada yang rumah tangganya retak. Ada yang diam-diam bergumul dengan kesepian. Mereka tidak selalu membutuhkan nasihat.

Sering kali mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau hadir. Mau mendengar. Mau menemani. Mau berkata, “Aku ada di sini.” Dan mungkin, di situlah wajah Kristus paling nyata. Pada akhirnya, pertanyaan “Mengapa orang baik harus menderita?” mungkin tidak pernah memperoleh jawaban yang sepenuhnya memuaskan akal manusia.

Namun melalui Yesus, kita menemukan sesuatu yang lebih besar daripada jawaban. Kita menemukan seorang Sahabat yang rela memikul salib bersama kita. Allah tidak menjauh dari penderitaan manusia. Ia masuk ke dalamnya.Ia menguduskannya dengan kasih. Lalu membuka jalan menuju kebangkitan.

Karena itulah, bagi orang Kristiani, Jumat Agung tidak pernah berdiri sendirian. Selalu ada Minggu Paskah. Selalu ada fajar sesudah malam. Selalu ada harapan sesudah air mata. Dan selama Kristus berjalan bersama kita, tidak ada penderitaan yang benar-benar sia-sia. Mungkin kita masih menangis. Mungkin luka itu belum sembuh. Mungkin doa kita belum juga dijawab seperti yang kita harapkan. Namun kita dapat melangkah dengan tenang.

Sebab kita tahu, Tuhan tidak selalu mengangkat salib dari pundak kita. Tetapi Dia selalu memanggulnya bersama kita. Dan sering kali, itulah mukjizat terbesar yang kita perlukan. (*)

M. Unggul Prabowo

Orang biasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *