Sr. Yulia SDP: “Imam di Altar, Kami di Lapangan

Sr. Yulia SDP: “Imam di Altar, Kami di Lapangan

“Cantik itu relatif. Tetapi kami berusaha cantik dari dalam. Inner beauty. Dari cara hidup dan spiritualitas, pribadi itu akan terpancar.”

Kalimat itu disampaikan Sr. Yulia SDP ketika menjawab sebuah pertanyaan spontan dalam acara morning tea dan interaksi dengan umat, Sabtu, 8 Agustus 2026, seusai misa Sabtu Imam di Gereja Hati Kudus Yesus, Karangpanas, Semarang.

Pagi itu, lebih dari 200 umat yang mengikuti misa harian tidak langsung bergegas pulang. Mereka berkumpul di teras gereja. Romo Paroki, Rm. Suratmo Atmo Martaya, Pr, hadir bersama sekitar tujuh suster senior dan enam calon suster Kongregasi Sisters of Divine Providence (SDP). Hadir pula sejumlah biarawan dan biarawati dari komunitas lain.

Bagi umat, perjumpaan seperti ini menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat kehidupan dan karya para suster yang selama ini mungkin lebih banyak dijumpai melalui karya mereka daripada melalui sosok pribadi mereka.

Kongregasi SDP sendiri dahulu lebih dikenal oleh umat dengan nama Suster Penyelenggara Ilahi (PI). Semangat spiritualitasnya bertumpu pada keyakinan akan penyelenggaraan Allah—bahwa Allah hadir, bekerja dan menyertai manusia melalui berbagai peristiwa kehidupan, termasuk melalui mereka yang dipanggil untuk melayani.

Dalam suasana dialog yang cair, seorang bapak melontarkan komentar yang kemudian menjadi bahan percakapan menarik. Ia mengatakan bahwa ada pandangan di masyarakat bahwa perempuan yang memilih menjadi suster sering dianggap karena tidak terlalu menarik secara fisik. Namun, menurutnya, para suster SDP yang hadir justru cantik-cantik. Karena itu, ia membayangkan bahwa tantangan hidup membiara tentu tidak ringan.

Komentar tersebut disambut dengan jawaban yang sederhana, tetapi dalam dari Sr. Yulia.

“Cantik itu relatif. Tetapi kami berusaha cantik dari dalam. Inner beauty. Dengan cara hidup kami, dengan spiritualitas kami. Dari pribadi itu akan terpancar,”_ ujarnya.

Menjadi suster bukan terutama tentang bagaimana seseorang terlihat dari luar, melainkan tentang bagaimana ia menghadirkan kasih Allah melalui cara hidup dan pelayanannya. Kecantikan fisik akan berubah seiring waktu, tetapi kecantikan hati, yang tumbuh melalui kesetiaan, pengorbanan, kepedulian dan pelayanan, justru dapat semakin matang.

Dalam percakapan itu muncul pula kenyataan bahwa karya para suster sering kali tidak sepopuler atau seterkenal pelayanan para imam.
Sr. Yulia tidak melihat hal tersebut sebagai persoalan. Menurutnya, Gereja memang memiliki pembagian tugas dan bentuk pelayanan yang berbeda. “Romo melayani di altar, sedangkan kami, para suster SDP, melayani langsung di lapangan,” katanya.

Di altar, umat mengalami kehadiran Kristus melalui perayaan Ekaristi dan pelayanan sakramental. Namun setelah misa selesai, kehidupan umat terus berlangsung di tengah masyarakat. Di sanalah Gereja dipanggil untuk hadir: di sekolah, rumah sakit, klinik, panti asuhan, komunitas basis, di tengah orang miskin, kaum lanjut usia, keluarga yang membutuhkan pendampingan, bahkan di tengah persoalan kemanusiaan yang sering kali tidak terlihat.

Bukan dua pelayanan yang dipertentangkan, melainkan dua bentuk kehadiran Gereja yang saling melengkapi. “Di situlah kekayaan Gereja,” demikian semangat yang disampaikan Sr. Yulia. Karena itu, meskipun karya para suster mungkin tidak selalu mendapat sorotan, mereka tetap menjalankannya dengan penuh semangat.

Karya Kongregasi SDP memperlihatkan bahwa pewartaan Injil tidak hanya berlangsung melalui mimbar atau homili. Pewartaan juga hadir melalui tangan yang merawat orang sakit, guru yang mendampingi anak-anak, perhatian kepada lansia, pendampingan orang miskin, serta pelayanan kemanusiaan kepada mereka yang berada dalam situasi sulit.

Kongregasi SDP memiliki karya di bidang kesehatan, pendidikan dan pelayanan sosial. Dalam bidang kesehatan, melalui YSEM, karya pelayanan antara lain hadir melalui RSIA Miriam di Kudus, Klinik Pratama Soegijapranata di Semarang, Klinik Pancasila di Temanggung, Klinik St. Familia di Maubesi, serta Klinik Cristo Rei di Atambua.

Di bidang pendidikan, melalui YPII, para suster berkarya dalam pendampingan pendidikan anak dan kaum muda. Di Jawa Tengah terdapat karya pendidikan di Kebondalem, dari tingkat TK hingga SMA, serta Marsudi Utami. Di Temanggung terdapat Sekolah Cor Jesu dan PAUD Utami, sementara di Kudus hadir Sekolah Cahaya Nur. Karya SDP juga menjangkau Bandung, antara lain melalui Sekolah Maria Bintang Laut, SMP Waringin dan SMA Trinitas.

Namun karya para suster tidak berhenti pada pendidikan dan kesehatan.

Ada pula pelayanan sosial dan kemanusiaan, termasuk pendampingan pekerja migran Indonesia, terutama di wilayah Nusa Tenggara Timur. Pelayanan ini sempat mendapat perhatian luas masyarakat melalui sosok Sr. Laurentina SDP, yang dikenal sebagai “Suster Kargo”. Ia dikenal karena kiprahnya dalam menangani persoalan pekerja migran dan membantu proses pemulangan jenazah pekerja migran Indonesia.

Kongregasi SDP menghadirkan wajah Gereja di Indonesia. Gereja yang ikut merawat kehidupan, hadir di tengah mereka yang membutuhkan. “Mohon doakan kami,” pinta Sr. Yulia SDP.
Ad Maiorem Dei Gloriam. AMDG.

M. Unggul Prabowo

Orang biasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *