DARI, OLEH, UNTUK CINTA: Refleksi Perjalanan 30 Tahun Usia Perkawinan

DARI, OLEH, UNTUK CINTA: Refleksi Perjalanan 30 Tahun Usia Perkawinan


Oleh:
D. Nursih Martadi

Amor gignit amorem, sebuah peribahasa Latin yang berarti cinta melahirkan cinta. Kalimat ini menyampaikan gagasan bahwa memberikan kasih sayang kepada orang lain, secara alami akan menginspirasi dan memicu sesama untuk membalas kasih sayang tersebut, seolah-olah cinta itu menular. Hidup berkeluarga dibangun atas cinta dua insan yang bersatu menjadi sejoli.

Pada tanggal 28 Agustus 1996, aku memberanikan diri mengikrarkan janji perkawinan di Gereja Santo Petrus dan Paulus Klepu, di hadapan Romo serta dua orang saksi. Perjalanan tiga dekade bukanlah waktu yang singkat.

Hal ini merupakan bukti nyata dari janji suci yang kami ikrarkan di hadapan Altar Tuhan, di depan saksi resmi Gereja dan para saksi, untuk saling mengasihi “dalam untung dan malang, dalam suka dan duka, di waktu sehat dan sakit”, sampai maut memisahkan.

Mencapai usia perkawinan 30 tahun, yang dikenal sebagai Pernikahan Mutiara, adalah tonggak sejarah berharga yang menandai kesetiaan, ketahanan, dan kedewasaan sejoli dalam mengarungi lautan suka duka kehidupan bersama dalam keluarga.

Angka 30 tahun merefleksikan pengampunan yang terus-menerus diperbarui, kesabaran yang terus diuji, dan sukacita yang dibagikan setiap hari. Usia pernikahan tiga dekade mengajarkan bahwa hidup bersama bukan hanya tentang perasaan senang, melainkan sebuah proses panjang untuk belajar menjadi dewasa.

Merenungi usia perkawinan 30 tahun ini merupakan momen istimewa untuk mensyukuri Rahmat kesetiaan Allah yang terwujud dalam Sakramen Perkawinan.

Rahmat sakramen menjadi sandaran kekuatan untuk menjalani hidup yang tidak selalu ramah, dan menjadi kompas ke mana “bahtera” ini diarahkan dan ditambatkan.

Perkawinan Katolik menjadi tanda nyata kehadiran kasih Kristus yang utuh dan tak terputuskan (indissolubilitas).

Dengan kedewasaan cara dan pola berpikir yang kian tumbuh, aku akhirnya memahami bahwa sejatinya pernikahan bukan sekadar perayaan sesaat, melainkan perjalanan yang harus dijalani dengan tekun dan senantiasa berpegang pada tujuan bersama.

Di dalam perjalanan ini pasti ada keputusan yang harus disepakati, meskipun tidak sepenuhnya diterima sepenuh hati. Masing-masing harus saling merelakan sesuatu, memberi dan menerima secara bergantian agar semuanya berjalan adil dan terkendali.

Hal ini tidak selalu mudah; kadang terasa sangat berat ketika sifat “ego” masih mendominasi. Aku memohon maaf, salah satu sifat yang melekat sejak masa pendidikan di seminari adalah kecenderungan untuk berdiri sendiri dan rasa percaya diri yang tinggi, sehingga kadang terkesan egois dan keras kepala.

Namun pengalaman membuktikan: mengingat kembali hari pemberkatan nikah menjadi sumber kekuatan baru. Aku menyadari bahwa rasa cinta saja tidak cukup untuk mempertahankan ikatan, tanpa adanya kerja sama dan pengampunan yang dipraktikkan setiap hari.

Rumah tangga bukan tentang menyatukan dua pribadi yang berbeda menjadi serupa. Melainkan merupakan perjalanan dua manusia, sejoli yang berbeda dalam karakter, kebiasaan, cara berpikir, dan membawa serta latar belakang serta pengalaman masing-masing, untuk belajar saling memahami dan bertumbuh bersama.

Perjalanan bahtera ini menjadi semakin indah sekaligus kompleks ketika anak-anak hadir sebagai buah cinta. Bukan hanya dua pribadi yang harus belajar menyesuaikan diri, melainkan juga dua orang tua yang harus bersama-sama menghadapi perbedaan cara mendidik, membagi waktu, mengelola emosi, memenuhi kebutuhan anak-anak, sekaligus senantiasa menjaga kehangatan hubungan sebagai pasangan.

Kami, sejoli, dikaruniai dua orang anak yang kami cintai sepenuh hati: putri kami yang cantik, Michella Ardira, dan putra kami yang ganteng, Gabriel Paramandana. Membesarkan mereka bersama tidak selalu mudah; senantiasa diperlukan kompromi, komunikasi yang tulus, dan keterbukaan satu sama lain.

Ketika menemui jalan buntu dan pikiran menjadi bingung, satu-satunya tempat kembali adalah berdoa memohon pertolongan Tuhan, dan berdoa Rosario dengan penuh keyakinan serta melantunkan berbagai litani permohonan kepada-Nya.

John Gottman (tahun 2000) menyatakan bahwa banyak konflik dalam pernikahan bersumber dari perbedaan yang terus muncul. Kuncinya bukanlah menghilangkan perbedaan tersebut, melainkan membangun komunikasi yang tulus, menerima perbedaan itu apa adanya, dan menemukan cara untuk menghadapinya bersama-sama.

Pada akhirnya, keluarga bukanlah tentang menjadi sempurna. Melainkan tentang dua pribadi yang terus belajar menjadi pasangan yang lebih baik, dan dua orang tua yang terus belajar memahami dunia hati anak-anaknya.

Berjalan bergandengan tangan dengan pasangan, melewati berbagai fase kehidupan, mulai dari membesarkan anak hingga kelak kembali berdua saja, dan menatap masa tua bersama.

Karena dalam rumah tangga, yang dibangun bukan sekadar bangunan tempat tinggal, melainkan manusia-manusia di dalamnya yang saling mengasihi. Dalam perjalanan panjang ini, aku menyadari bahwa keutuhan ikatan perkawinan selama 30 tahun ini didasarkan pada kerendahan hati dan kesediaan untuk saling memaafkan, baik atas kesalahan-kesalahan kecil maupun hal-hal yang menyakiti hati. Sekali lagi, hal ini tidak selalu mudah.

Kata-kata itu mudah diucapkan, namun pelaksanaannya dalam kehidupan sehari-hari adalah perjuangan yang nyata. Kejujuran dalam berbicara mencegah munculnya prasangka buruk atau rasa curiga yang dapat menggerogoti dan merusak keharmonisan.

Saling menjaga kehormatan diri dan pasangan menjadi benteng utama dalam melewati masa-masa paruh baya dalam pernikahan ini.

Marilah kita belajar tentang kehidupan dari Alam Semesta: dari Matahari kita belajar memberi semangat tanpa pandang bulu; dari Bulan kita belajar membawa keteduhan dan ketenangan hati; dari Bintang kita belajar memberi tuntunan dan menjadi teladan yang terang; dari Langit kita belajar menjadi pribadi yang berwawasan luas serta memiliki hati yang lapang untuk menampung segala hal dengan penuh kesabaran.

Terima kasih, ya Tuhan, atas anugerah iman yang boleh kualami. Terima kasih pula atas anugerah pasangan hidup, Sri Murni, serta anak-anak kami tercinta: Michella Ardira dan Gabriel Paramandana. Mohon Engkau memberkati dan menjaga kami sekeluarga dalam mengarungi sisa perjalanan hidup ini. Amin.

Semarang, 28 Agustus 2026

Alfred Jogo Ena

Alfred Jogo Ena

Seorang editor yang suka menulis dan guru agama di beberapa sekolah menengah di Yogyakarta. Ia juga melayani pelatihan dan konsultasi penulisan buku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *