Jalan
Bagaimana rasanya berjalan kaki sejauh 13,5 kilometer di Semarang?
Pertanyaan itu tiba-tiba muncul ketika sebuah flyer melintas di WAG saya. Judulnya sederhana: City Walk #4. Yang #1 kapan, #2 dan #3 kapan, saya tidak terlalu peduli. Itu sudah lewat. Yang lebih menarik justru rasa penasaran: seperti apa rasanya berjalan sejauh itu bersama puluhan orang?
Kebetulan sekali, pada hari pelaksanaan City Walk #4, Minggu, 12 Juli 2026, salah satu agenda saya mendadak dibatalkan. Wah, ini seperti pertanda. Tanpa berpikir panjang saya pun mendaftar.
Apakah hari itu saya benar-benar tidak punya kegiatan lain?
Ternyata ada. Kerja bakti lingkungan RT.
Di situlah saya mulai berpikir, mungkin ungkapan hidup adalah perjalanan, bukan pelarian tidak selalu benar. Setidaknya pagi itu, hidup saya adalah perjalanan… yang sekaligus sedikit pelarian dari kerja bakti.
Sesuai jadwal, pukul 06.00 WIB kami berkumpul di halaman SD Aloysius, Jalan Dr. Wahidin No. 110, Semarang, persis di sebelah Gereja St. Athanasius Agung Karangpanas.
Peserta yang terdaftar sekitar 63 orang. Ditambah panitia, jumlahnya mungkin lebih dari 70 orang. Beragam usia, beragam profesi, tetapi pagi itu kami memiliki tujuan yang sama: berjalan bersama.
Rute dimulai dari halaman sekolah, belok kanan menuju Kasipah, lalu berbelok lagi ke kawasan Graha Candi Golf. Setelah menyeberangi jembatan tol, rombongan berbelok ke kiri dan menyusuri jalan di sisi tol.
Udara pagi masih terasa segar. Setelah melewati Singapore International School, jalan mulai menanjak meninggalkan kawasan perumahan mewah.
Tak lama kemudian kami memasuki jalan perbatasan Kampung Gabeng dan Tandang. Jalan mulai menurun. Suasana berubah. Perumahan berganti kampung-kampung yang lebih akrab. Kami melewati Tandang, menyeberangi sungai, menuju pasar, lalu melintasi Jalan Tentara Pelajar. Setelah memasuki wilayah Pandean Lamper, akhirnya tibalah kami di halaman Gereja Mater Dei, Lampersari.
Perjalanan menuju titik istirahat pertama terasa menyenangkan.

Udara masih bersahabat. Matahari baru mulai menghangatkan tubuh. Yang paling mengasyikkan justru obrolan sepanjang jalan. Ada yang saling menyapa, berkenalan, bertukar cerita, bahkan bertemu kembali dengan teman lama yang sudah bertahun-tahun tidak berjumpa.
Salah satu kejutan terjadi saat beristirahat di halaman Gereja Mater Dei.
Saya berdiri di samping seorang peserta yang sedang minum.
“Dari mana, Kak?” saya bertanya.
“Bongsari.”
“Lingkungan mana?”
“Cabean,” jawabnya, kali ini sambil balik menatap saya, mungkin penasaran kenapa pertanyaannya makin detail.
“Gang berapa?”
“Gang III.”
Saya lalu menyebut sebuah nama.
Ia memperhatikan wajah saya lebih saksama. Beberapa detik kemudian matanya membesar.
“Lho… Unggul?”
Saya tertawa.
“Iya…”
Kami pun sama-sama tertawa. Ternyata kami tetangga lama yang dipertemukan kembali di tengah acara jalan kaki.
Memang, dunia tidak selebar peta. Kadang hanya sepanjang trotoar.
Perjalanan dari Mater Dei menuju Gereja Gedangan diperkirakan lebih ringan. Jalannya relatif datar, tidak lagi naik-turun seperti kawasan Graha Candi Golf.
Langkah kembali dimantapkan.
Obrolan semakin akrab. Rasanya kaki berjalan sendiri, sementara mulut sibuk bercerita.
Tanpa terasa kami sudah meninggalkan Lamper Sari dan tiba di perempatan Jalan Majapahit.
Di sinilah tantangan lain menunggu.
Arus kendaraan begitu padat. Mobil dan motor melaju kencang. Menyeberangkan rombongan puluhan pejalan kaki tentu bukan perkara mudah. Beberapa panitia sigap mengatur lalu lintas agar seluruh peserta dapat menyeberang dengan aman.
Begitu berhasil menyeberang, kami menyusuri Jalan Barito di sepanjang tanggul Banjir Kanal Timur.
Trotoarnya lebar dan rapi. Pohon-pohon ditanam berjajar, membuat jalur pejalan kaki tampak teduh. Sayangnya, matahari rupanya lebih perkasa daripada rindangnya pepohonan. Semakin siang, panas mulai terasa. Bukan hanya di kepala dan punggung, tetapi perlahan merambat hingga telapak kaki.
Obrolan memang mampu mengalihkan rasa lelah.
Namun tubuh tidak pernah pandai berbohong.
Telapak kaki mulai terasa keras. Betis mulai mengirim sinyal. Napas pun sesekali harus diatur.
Ketika mendekati Jembatan Soekarno-Hatta, panitia menawarkan bantuan.
“Kalau ada yang sudah tidak kuat, bisa naik mobil.”
Godaan itu sungguh nyata.
Sesaat saya tergoda untuk mengangkat tangan. Bukankah naik mobil juga tetap sampai tujuan?
Tetapi entah karena gengsi, atau karena obrolan dengan teman-teman begitu mengasyikkan, saya memilih terus melangkah.

Langkah mulai lebih pelan. Lebih hati-hati pula. Trotoar sudah tidak serapi sebelumnya. Banyak paving yang terlepas. Salah pijak sedikit saja, bukan tidak mungkin perjalanan berakhir dengan kaki terkilir.
Panitia kemudian mengarahkan rombongan masuk ke beberapa kampung.
Masuk satu kampung, lalu kampung berikutnya.
Hingga akhirnya kami memasuki Kampung Batik.
Saya bersyukur tidak menyerah di tengah jalan. Selama tinggal di Semarang, baru kali inilah saya benar-benar menyusuri salah satu ikon kota ini dari dekat. Gang-gangnya penuh mural, warna, dan cerita. Tentu kesempatan itu tidak kami lewatkan. Berfoto bersama menjadi jeda yang menyenangkan sekaligus alasan sah untuk beristirahat sejenak.
Tak lama kemudian menara Gereja St. Yusuf Gedangan mulai tampak.
Langkah-langkah terakhir terasa lebih ringan.
Puji Tuhan…
Kami tiba.
Boleh jadi yang kami tempuh “hanya” 13,5 kilometer.
Namun saya pulang membawa lebih dari sekadar hitungan jarak.
Saya membawa cerita, persahabatan, tawa, perjumpaan dengan tetangga lama, dan satu pelajaran sederhana: perjalanan yang panjang akan terasa jauh lebih ringan ketika dijalani bersama.
Barangkali memang begitu makna sebuah city walk. Yang dikenang bukan semata-mata berapa kilometer yang berhasil ditempuh, melainkan siapa saja yang berjalan bersama kita.
Ketika teman-teman yang lain berdoa di depan gua Maria, saya justru menemukan patung Keluarga Kudus yang letaknya tidak jauh dari sana, di halaman samping gereja. Saya gembira, seolah mendapat peneguhan kecil di tengah perjalanan. Di hadapan patung Yesus, Maria, dan Yosef itu, saya pun berdoa: semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya agar keluarga saya dapat menjalani peziarahan di dunia ini dengan setia, menapaki jalan yang telah diteladankan oleh Keluarga Kudus : Yesus, Maria, dan Yosef.



Sebuah perjalanan yang diceritakan dengan sangat menarik, terima kasih mas Unggul. Monggo gabung lagi diagendakan PWS selanjutnya
Matur nuwun Sis Rina. Berkah Dalem