Gereja Asia Berkumpul di Jakarta
Pertemuan para uskup se-Asia dalam Federation of Asian Bishops’ Conferences (FABC) akan berlangsung pada 20–26 Juli 2026 di Jakarta. Indonesia menjadi tuan rumah. Menteri Agama Nasaruddin Umar, pada Selasa 7 Juli 2026 mengatakan, “Kami ingin para delegasi merasakan keramahan Indonesia sejak pertama kali tiba. Seluruh layanan akan dipersiapkan sebaik mungkin agar mereka dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan nyaman sekaligus melihat secara langsung wajah kerukunan Indonesia.” Ia juga menambahkan bahwa FABC bukan sekadar agenda keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari soft power diplomacy Indonesia dalam memperkenalkan nilai toleransi, dialog, dan hidup berdampingan kepada masyarakat internasional.
Apa Itu FABC?
FABC adalah singkatan dari Federation of Asian Bishops’ Conferences atau Federasi Konferensi Waligereja Asia. Sederhananya, FABC adalah wadah kebersamaan para uskup dari berbagai negara Asia untuk bekerja sama, berbagi pengalaman, dan mencari arah bersama bagaimana Gereja menghadirkan Injil di tengah masyarakat Asia yang sangat beragam.
FABC bukan “hirarki Gereja Asia” yang menggantikan Vatikan atau mengambil alih kewenangan para uskup di masing-masing negara. FABC merupakan persekutuan dan forum kerja sama. Keputusan-keputusannya bukan aturan hukum yang mengikat, tetapi menjadi bentuk tanggung jawab bersama para uskup Asia dalam menjalankan misi Gereja.
Bagaimana FABC Bermula?
Kisah FABC berawal dari semangat Konsili Vatikan II (1962–1965), ketika para uskup dari berbagai belahan dunia semakin menyadari pentingnya bekerja sama dan membaca tanda-tanda zaman. Para uskup Asia melihat bahwa benua Asia memiliki situasi yang khas. Asia adalah rumah bagi berbagai agama, budaya, tradisi, dan persoalan sosial yang berbeda dengan Eropa atau Amerika.
Pada tahun 1970, sekitar 180 uskup Asia berkumpul di Manila, Filipina, dalam pertemuan yang bertepatan dengan kunjungan Paus Paulus VI ke Filipina. Dari pertemuan inilah lahir gagasan membentuk sebuah wadah tetap bagi para uskup Asia. FABC kemudian secara resmi dibentuk pada tahun 1972 sebagai federasi konferensi-konferensi waligereja di Asia.
Dengan kata lain, FABC sudah berjalan lebih dari setengah abad. Ia lahir dari kesadaran bahwa Gereja Asia perlu saling mendengarkan agar mampu menjawab tantangan zaman.
Apa Saja yang Dibahas dalam FABC?
Pertemuan FABC tidak hanya membicarakan urusan internal Gereja. Justru banyak tema yang sangat dekat dengan kehidupan umat sehari-hari. Beberapa isu yang sering menjadi perhatian antara lain:
Pertama, pewartaan Injil di Asia : Bagaimana Gereja menghadirkan Kristus di tengah masyarakat Asia yang sebagian besar bukan beragama Katolik?
Kedua, dialog antaragama : Asia adalah rumah bagi agama-agama besar dunia. Karena itu, Gereja Asia memberi perhatian besar pada bagaimana umat beriman dapat hidup berdampingan dan bekerja sama membangun kebaikan bersama.
Ketiga, kemiskinan dan keadilan sosial. Gereja dipanggil untuk hadir bersama mereka yang miskin, tersisih, dan tidak memiliki suara.
Keempat, keluarga dan kaum muda. Perubahan budaya, perkembangan teknologi, dan gaya hidup modern menjadi tantangan besar bagi keluarga Katolik.
Kelima, lingkungan hidup. Krisis iklim dan kerusakan alam menjadi perhatian karena bumi adalah rumah bersama yang harus dijaga.
Dalam perkembangannya, FABC juga memberi perhatian pada isu seperti pembangunan manusia, perdamaian, migrasi, dan kehidupan sosial masyarakat Asia.
Apakah Hasil FABC Hanya Berhenti sebagai Dokumen?
Pertanyaan ini penting. Sering kali umat mendengar ada pertemuan besar Gereja, tetapi setelah itu bertanya: “Lalu dampaknya apa bagi saya?” Jawabannya: hasil FABC biasanya diteruskan melalui konferensi waligereja masing-masing negara.
Di Indonesia, gagasan dan semangat FABC dapat menjadi inspirasi bagi KWI, keuskupan-keuskupan, paroki, komunitas kategorial, hingga kelompok umat. Misalnya, ketika Gereja berbicara tentang dialog antaragama, implementasinya terlihat dalam berbagai kegiatan lintas iman. Ketika Gereja berbicara tentang keluarga, gaungnya hadir melalui pendampingan keluarga, persiapan perkawinan, dan perhatian terhadap kehidupan rumah tangga. Ketika Gereja berbicara tentang kaum muda, implementasinya muncul dalam berbagai pelayanan OMK dan pendidikan iman.
Dengan kata lain, FABC bukan hanya milik para uskup. FABC adalah perjalanan Gereja yang pada akhirnya harus sampai kepada kehidupan umat.
Mengapa Umat Indonesia Perlu Peduli?
Karena Gereja tidak hidup sendirian. Kita sering melihat diri sebagai umat dari satu paroki atau satu keuskupan. Padahal kita adalah bagian dari keluarga besar Gereja Asia dan Gereja universal. Ketika Gereja Asia berkumpul, sesungguhnya mereka sedang mencari jawaban atas pertanyaan: “Bagaimana menjadi murid Kristus di zaman sekarang?”
Pertanyaan itu akhirnya kembali kepada kita. Bagaimana saya sebagai orang tua Katolik menghadirkan kasih Kristus dalam keluarga? Bagaimana saya sebagai pekerja menjaga kejujuran? Bagaimana saya sebagai warga masyarakat membangun persaudaraan? Bagaimana saya menghadirkan wajah Gereja yang membawa damai?
Sabda yang Meneguhkan “Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau.” (Yohanes 17:21)
Semangat FABC sesungguhnya berakar pada doa Yesus sendiri: agar para murid bersatu. Gereja Asia berkumpul bukan sekadar untuk membuat dokumen atau mengadakan rapat besar. Gereja berkumpul agar semakin mampu menghadirkan kasih Allah di tengah dunia.
Dan pada akhirnya, wajah Gereja Asia bukan hanya terlihat dalam ruang sidang para uskup. Wajah itu terlihat dalam diri setiap umat yang mau menjadi pembawa damai, pengampun, dan saksi kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari.

