Tentang Hadir dan Mencintai, Sebuah Refleksi Pribadi

Tentang Hadir dan Mencintai, Sebuah Refleksi Pribadi

*9 September 2026*

Hari ini saya genap berusia 66 tahun.

*Enam puluh enam tahun.*

Ketika angka itu disebut, rasanya seperti sedang berdiri di sebuah persimpangan waktu. 

Saya menoleh ke belakang, melihat jalan panjang yang telah saya lalui. Ada begitu banyak wajah, peristiwa, tawa, air mata, keberhasilan, kegagalan, kehilangan, dan perjumpaan yang membentuk diri saya hari ini.

Lalu muncul sebuah pertanyaan reflektif:

Apa yang sudah saya lakukan untuk keluarga?

Apa yang sudah saya lakukan untuk Gereja?

Apa yang sudah saya berikan bagi masyarakat?

Saya mencoba mencari jawabannya.

Namun, semakin saya merenung, semakin saya merasa bahwa pertanyaan itu mungkin bukanlah yang paling penting.

Sebab, hidup bukanlah daftar tentang berapa banyak yang telah kita kerjakan.

Hidup adalah tentang seberapa banyak kita mensyukuri kesempatan untuk hidup dan menjadi berguna.

*SYUKUR KARENA PERNAH HADIR*

Untuk keluarga, saya tidak tahu apakah saya sudah menjadi Bapak yang baik. Saya juga tidak ingin menilai diri sendiri.

Saya hanya berusaha menghadirkan diri sebagai seorang Bapak yang dapat mengayomi, mendengarkan, menemani, dan mencintai.

Saya ingin rumah menjadi tempat untuk pulang. Tempat di mana anak-anak tahu bahwa apa pun yang terjadi dalam perjalanan hidup mereka, selalu ada hati yang terbuka untuk menerima mereka.

Saya tidak selalu berhasil.

Ada kekurangan. Ada kesalahan. Ada kata-kata yang mungkin pernah melukai. Ada keputusan yang mungkin tidak selalu tepat.

Namun, di balik semua keterbatasan itu, ada satu hal yang selalu ingin saya perjuangkan: *mencintai keluarga dengan sebaik-baiknya, sesuai kemampuan saya.*

Dan untuk semua kesempatan itu, saya hanya bisa berkata:

“Tuhan, terima kasih.”

Terima kasih telah mempercayakan keluarga kepada saya.

Terima kasih telah memberi kesempatan kepada saya untuk menjadi seorang suami, seorang Bapak, dan bagian dari sebuah keluarga.

Ternyata, menjadi orang tua bukan hanya tentang membesarkan anak.

Sering kali, justru anak-anaklah yang tanpa mereka sadari telah membesarkan hati orang tuanya.

Mereka mengajarkan kesabaran.

Mengajarkan pengorbanan.

Mengajarkan ketulusan.

Dan terutama, mengajarkan bahwa mencintai berarti memberikan diri tanpa selalu menunggu balasan.

*TIDAK PERLU MENGHITUNG KEBAIKAN*

Di usia 66 tahun ini, saya semakin merasa tidak perlu menceritakan kepada anak-anak apa saja yang sudah saya lakukan untuk mereka.

Tidak perlu.

Cinta tidak seharusnya menjadi catatan utang.

Pengorbanan orang tua tidak perlu menjadi beban bagi anak.

Apa yang sudah diberikan, biarlah menjadi bagian dari perjalanan mereka.

Tidak perlu dipertontonkan.

Tidak perlu diumumkan.

Tidak perlu dihitung.

Biarlah anak-anak merasakannya sendiri.

Mungkin hari ini mereka belum memahami semuanya. Mungkin suatu saat nanti, ketika mereka menjadi orang tua dan mengalami sendiri bagaimana mencintai anak dengan segala suka dan dukanya, mereka akan mengerti.

Dan kalau suatu hari mereka menemukan sedikit kebaikan dalam diri mereka lalu berkata,

_”Mungkin saya belajar ini dari Bapak,”_

saya akan merasa sangat bersyukur.

Apa yang kita tanam dapat tumbuh dalam kehidupan keluarga dan orang lain.

*SYUKUR ATAS KESEMPATAN MELAYANI*

Begitu pula dengan perjalanan saya bersama Gereja dan masyarakat.

Saya tidak ingin membuat daftar tentang apa yang pernah saya lakukan.

Pelayanan bukanlah panggung untuk menunjukkan siapa diri kita. Pelayanan adalah kesempatan untuk berbagi hidup.

Kalau pernah ada sesuatu yang bisa saya lakukan, saya ingin melihatnya bukan sebagai prestasi, melainkan sebagai kepercayaan Tuhan.

Tuhan memberi waktu.

Tuhan memberi kesempatan.

Tuhan mempertemukan saya dengan orang-orang yang membutuhkan kehadiran saya.

Maka, ketika saya dapat membantu, sesungguhnya saya sedang menerima anugerah untuk menjadi saluran kebaikan.

Kadang-kadang saya berpikir bahwa saya sedang memberi.

Padahal, mungkin justru sayalah yang sedang menerima.

Menerima kesempatan untuk belajar mengasihi.

Menerima kesempatan untuk memahami orang lain.

Menerima kesempatan untuk merasakan bahwa hidup saya masih mempunyai arti bagi sesama.

Karena itu, untuk setiap kesempatan melayani, saya hanya berkata:

_”Terima kasih, Tuhan.”_

Semakin tua, semakin banyak yang harus disyukuri.

Dulu, mungkin saya lebih sering menghitung apa yang belum saya miliki.

Sekarang, saya justru belajar menghitung apa yang sudah Tuhan berikan.

Keluarga.

Sahabat.

Kesehatan yang masih dipercayakan.

Kesempatan untuk berdoa.

Kesempatan untuk melayani.

Kesempatan untuk melihat matahari terbit.

Kesempatan untuk duduk bersama orang-orang yang saya cintai.

Bahkan kesempatan untuk bangun pada pagi hari dan berkata,

_”Terima kasih, Tuhan. Hari ini Engkau masih memberi saya kehidupan.”_

Ternyata, kebahagiaan tidak selalu datang karena mendapatkan sesuatu yang besar.

Kadang-kadang, kebahagiaan justru muncul ketika kita menyadari betapa banyak hal kecil yang selama ini kita terima tanpa pernah kita syukuri.

Segelas air.

Sepiring makanan.

Sebuah percakapan.

Pelukan.

Senyuman.

Kesempatan meminta maaf.

Kesempatan mengampuni.

Kesempatan mengatakan kepada orang yang kita cintai:

_”Terima kasih sudah menjadi bagian dari hidup saya.”_

*APA YANG AKAN SAYA TINGGALKAN?*

Di usia 66 tahun, saya tidak terlalu sibuk memikirkan apa yang akan saya tinggalkan dalam bentuk benda.

Saya mulai bertanya:

Nilai apa yang akan tetap hidup setelah saya tidak ada?

Bukan harta.

Bukan jabatan.

Bukan nama.

Bukan pula berbagai hal yang pernah saya capai.

Saya ingin meninggalkan cara mencintai.

Saya ingin anak-anak membawa dalam hidup mereka pengalaman bahwa pernah ada seorang Bapak yang berusaha hadir.

Seorang Bapak yang mungkin tidak sempurna, tetapi berusaha mencintai.

Seorang Bapak yang belajar mengayomi.

Seorang Bapak yang percaya bahwa keluarga adalah tempat pertama untuk belajar tentang kasih, pengampunan, kesetiaan, dan syukur.

Jika semua itu kelak menjadi bekal bagi kehidupan mereka, saya sudah merasa cukup.

*66 TAHUN: SEMAKIN BERSYUKUR*

Enam puluh enam tahun mengajarkan saya satu hal:

Bahwa saya sungguh merasakan hidup adalah anugerah.

Kita menerima kehidupan sebagai anugerah.

Kita menerima keluarga sebagai anugerah.

Kita menerima sahabat sebagai anugerah.

Kita menerima kesempatan untuk bekerja, melayani, mencintai, bahkan mengalami kegagalan, semuanya sebagai bagian dari perjalanan yang Tuhan anugerahkan.

Karena itu, semakin bertambah usia, semakin saya tidak ingin membanggakan apa yang telah saya lakukan.

Saya justru ingin semakin banyak bersyukur.

Sebab, kalau ada kebaikan dalam hidup saya, ada banyak tangan yang ikut membentuknya.

Kalau ada keberhasilan, ada banyak orang yang pernah mendukung.

Kalau ada keteguhan, ada banyak pengalaman yang menempa.

Dan kalau hari ini saya masih bisa mengatakan, _”Saya bersyukur,”_ itu pun sesungguhnya adalah anugerah.

Maka, saya tidak tahu berapa lama lagi Tuhan memberikan kesempatan untuk berjalan.

Namun, saya tidak ingin menghabiskan sisa perjalanan dengan menghitung berapa banyak waktu yang masih saya miliki.

Saya ingin mengisinya dengan syukur.

Lebih banyak hadir.

Lebih banyak mendengarkan.

Lebih banyak memaafkan.

Lebih banyak mengasihi.

Lebih banyak berbagi.

Dan lebih sedikit mengeluh tentang apa yang belum ada.

*DOA DI USIA 66 TAHUN*

Pada hari ulang tahun ke-66 ini, saya mendaraskan sebuah doa.

Doa yang sangat mengesan di hati dan sangat dalam maknanya:

_”Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai.”_

Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa kasih.

Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan.

Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan.

Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran.

Bila terjadi keraguan, jadikanlah aku pembawa iman.

Bila terjadi keputusasaan, jadikanlah aku pembawa pengharapan.

Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang.

Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku pembawa sukacita.

Tuhan, semoga aku lebih ingin menghibur daripada dihibur,

lebih ingin memahami daripada dipahami,

lebih ingin mencintai daripada dicintai.

Sebab, dengan memberi, aku menerima.

Dengan mengampuni, aku diampuni.

Dan dengan menyerahkan hidupku kepada-Mu, aku menemukan kehidupan yang sejati.

Tuhan, terima kasih untuk 66 tahun kehidupan.

Terima kasih untuk keluarga.

Terima kasih untuk sahabat.

Terima kasih untuk setiap perjumpaan.

Terima kasih untuk kesempatan melayani.

Terima kasih untuk suka dan duka.

Terima kasih untuk segala yang pernah Engkau berikan, dan juga untuk segala yang tidak Engkau berikan karena Engkau tahu apa yang terbaik bagi hidupku.

Ajarlah aku memasuki usia 66 tahun bukan dengan menghitung apa yang telah kulakukan, melainkan dengan mensyukuri apa yang telah kuterima dan dengan tulus memberikan apa yang masih dapat kubagikan.

Dan bila kelak perjalanan hidup ini selesai, biarlah yang tertinggal bukanlah nama atau jasaku, melainkan Nama-Mu, Tuhan, yang selalu dimuliakan, selalu dipuji, dan selalu disembah sepanjang masa.

Amin.

Harya Sumarta

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *