Membiarkan Diri Dibentuk dan Dipilih oleh Tuhan
Renungan Kamis, 30 Juli 2026
“Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama pukat yang ditebarkan di laut, lalu mengumpulkan berbagai-bagai jenis ikan. Setelah penuh, pukat itupun ditarik orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam pasu dan ikan yang tidak baik dibuangnya…”
Saudara terkasih, hari ini Bunda Gereja mengajak kita merenungkan sabda-Nya dalam perumpamaan tentang pukat, Yesus menggambarkan Kerajaan Sorga seperti sebuah pukat besar yang ditebarkan ke dalam laut. Pukat itu menarik semua jenis ikan—baik maupun buruk, besar maupun kecil—tanpa terkecuali.
Laut adalah gambaran dari dunia tempat kita hidup saat ini, sedangkan pukat adalah rahmat Tuhan serta Gereja yang memanggil semua orang dari berbagai latar belakang. Tuhan tidak pernah membeda-bedakan siapa yang dipanggil-Nya. Pintu kasih karunia Tuhan terbuka lebar bagi siapa saja.
Namun, bagian terpenting dari perumpamaan ini terletak pada apa yang terjadi di pantai: waktu pemisahan.
Saudara terkasih,
1. Masa Rahmat dan Kesempatan (Saat Ini)
Selama pukat masih berada di dalam air, semua ikan berenang bersama. Ini adalah masa di mana kita hidup sekarang—masa penuh rahmat di mana Tuhan memberikan kesempatan bagi setiap dari kita untuk bertobat dan bertumbuh. Tuhan bersabar menunggu kita untuk menjadi “ikan yang baik”.
2. Kriteria “Ikan yang Baik”
Apa yang membuat seekor ikan dianggap “baik” dan layak dikumpulkan ke dalam pasu? Dalam konteks iman, orang yang “baik” bukanlah mereka yang tidak pernah berbuat salah, melainkan mereka yang mau bertobat, membuka hati pada rahmat Allah, dan membuahkan buah-buah kebaikan, kasih, serta keadilan dalam hidup sehari-hari.
Konteks sebaliknya, “ikan yang tidak baik” mewakili ketegaran hati, kepura-puraan, dan penolakan untuk bertransformasi meski sudah berada di dalam lingkungan kasih Tuhan. Kekerasan hati untuk tidak mau bebenah apalagi berubah. Tegar tengkuk dalam kosa kata Kitab Suci, yang sering menjadi bahan kritikan Yesus.
Saudara Terkasih,
3. Peringatan dan Harapan
Perumpamaan ini mengandung dua pesan utama yaitu :
- Pertama, Peringatan: Hari penghakiman itu nyata. Kita tidak bisa hanya bangga “berada di dalam pukat” (menjadi bagian dari gereja atau mengaku beriman) tanpa ada buah-buah kebaikan nyata dalam hidup kita.
- Kedua, Harapan: Selama kita masih bernapas dan berada di dunia ini, pukat rahmat Allah masih membentang. Selalu ada waktu untuk berbenah dan memohon ampunan-Nya.
Doa Penutup
Ya Tuhan Yesus yang Maha Baik, terima kasih karena Engkau telah menarik kami ke dalam pukat kasih-Mu dan memanggil kami menjadi bagian dari Kerajaan-Mu.
Ajarilah kami untuk tidak keras hati. Bentuklah kami setiap hari agar kami dapat bertumbuh menjadi pribadi yang berkenan di hadapan-Mu—penuh kasih, keadilan, dan kerendahan hati.
Semoga ketika saatnya tiba kelak, kami layak Engkau kumpulkan bersama para kudus-Mu di dalam Kerajaan Sorga. Amin
Salam JMJ
Susy Haryawan

