Jalan Pulang
Tetiba anak saya mengirim dua tiket bioskop. “Di IMAX ya, Pak. Layarnya lebih besar. Lebih mantap. Sekalian mengenang masa muda nonton bioskop,” tulisnya. Saya tersenyum. Sudah lama tidak masuk gedung bioskop. Jadilah saya menjadwal ulang beberapa agenda yang berbarengan dengan jam tayang. Judul filmnya : The Odyssey.
Baru mendengar judulnya saja ingatan saya langsung melayang masa muda saat studinya. Ada Romo Jacques Veuger, MSF (Alm), pengampu pelajaran Sastra Yunani. Beliau selalu bercerita dengan mimik penuh ekspresi. Odyseus bukan sekadar tokoh dalam buku. Di tangan Romo Veuger, ia seolah hadir di depan kelas. Kami terpana mendengarkan kisahnya, seakan ikut berlayar bersama Odyseus. Satu semester terasa singkat. Kini, kisah yang dulu menemani ruang kelas itu saya jumpai lagi, kali ini di layar raksasa, dalam waktu tak sampai tiga jam.
Karya yang satu ini memang luar biasa. Homeros menulis The Odyssey, sekitar delapan abad sebelum Masehi dan di abad ke-21 ini ceritanya masih memukau. Tak heran jika The Odyssey disebut sebagai salah satu fondasi sastra Barat, bahkan sastra dunia. Abad demi abad berlalu, tetapi tema-tema yang dituturkan Odyssey masih tetap terasa akrab: keberanian, kesetiaan, kehilangan, godaan, dan kerinduan untuk pulang.
Odysseus adalah seorang raja sekaligus panglima perang dari Ithaka. Ia meninggalkan Penelope (istrinya), anak, dan negerinya untuk ikut dalam Perang Troya. Perang itu berlangsung sepuluh tahun. Ketika akhirnya kemenangan diraih melalui kecerdikan Kuda Troya yang legendaris, orang mungkin mengira kisah telah selesai. Ternyata, justru di sanalah perjalanan sesungguhnya dimulai.
Perjalanan Kembali ke Athaka semestinya hanya memakan waktu beberapa minggu berubah menjadi pengembaraan panjang bertahun-tahun. Laut yang luas bukan satu-satunya lawan. Ada badai, amarah para dewa, raksasa, penyihir, rayuan para bidadari, pulau-pulau yang menawarkan kenyamanan, hingga godaan untuk melupakan tujuan semula.
Odysseus berkali-kali hampir kehilangan arah. Teman-temannya satu demi satu gugur. Ada yang mati karena keserakahan, ada yang kalah oleh rasa ingin tahu, ada pula yang tak mampu menolak godaan. Namun, di tengah semua itu, satu hal tidak pernah padam dalam dirinya: kerinduan kepada Ithaka. Kerinduan kepada rumah.
Sementara itu, dalam ruman di nun jauh di sana, Penelope menjalani perjalanan yang berbeda. Ia tidak mengarungi laut, tidak bertarung dengan monster, tidak menghadapi badai. Tetapi ia berhadapan dengan kesunyian yang panjang. Hari-harinya dipenuhi ketidakpastian. Bertahun-tahun ia tidak tahu apakah suaminya masih hidup atau sudah tiada. Namun ia tetap setia menunggu.
Sepertinya The Odyssey tidak sedang berkisah tentang perang. Kisah itu bercerita tentang perjalanan pulang. Tentang manusia yang berkali-kali tersesat, berkali-kali tergoda berhenti, tetapi masih menyimpan keberanian untuk terus melangkah menuju rumah.
Setiap orang bisa jadi sedang menjalani odyssey-nya sendiri. Entah sedang berjuang pulang kepada keluarganya; atau pulang kepada dirinya sendiri; bisa jadi ada yang pulang kepada kedamaian yang lama hilang. Dan bagi seorang peziarah, perjalanan paling jauh justru perjalanan pulang kepada Tuhan.
Perjalanan bukan sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Perjalanan bukan tentang pencapaian garis akhir, tetapi pada prosesnya, langkah demi langkah di antara tempat satu ke tempat lain. Jalan yang menanjak. Kaki yang mulai pegal. Hujan yang datang tanpa diundang. Panas yang kian menyengat. Warung kedai toko di pinggir jalan yang menawarkan beragam menu nikmat; Persimpangan yang membuat ragu atau keheningan yang justru mengajari banyak hal.
Pada akhirnya, perjalanan bukan pertama-tama tentang seberapa jauh kaki melangkah, melainkan seberapa kuat hati mengenali jalan pulang. Begitulah hidup. Sering kali yang paling berat bukanlah berangkat, melainkan pulang. (*)

