6,84 KM
Enam koma delapan empat kilimeter. Anggap tujuh kilometer saja ya. Angka itu tidak berubah. Di peta, ia hanya garis pendek yang bisa ditempuh kurang dari dua puluh menit dengan sepeda motor. Bahkan dengan mobil, mungkin hanya belasan menit. Namun, ketika kaki menjadi kendaraan satu-satunya, tujuh kilometer tiba-tiba berubah menjadi sebuah cerita. Bukan cerita tentang jarak, melainkan cerita tentang manusia.
Sore itu, Jumat, 31 Juli 2026, empat puluh tujuh orang berdiri di halaman Gereja Hati Kudus Yesus Karangpanas, Semarang. Mereka berbagai usia, berbagai kebiasaan berjalan, bahkan sdternyata dari berbagai komunitas yang berbeda. Ada umat paroki Karangpanas, ada pula sahabat-sahabat dari Pilgrim Walkers Semarang. Mereka tidak membawa bekal yang mewah. Hanya sepasang kaki, sebotol air minum, sedikit keberanian, dan entah berapa banyak harapan yang diam-diam mereka simpan di dalam hati.
Perjalanan itu diberi nama Jalan Hati. Nama yang sederhana. Tetapi justru karena sederhana, ia menyimpan pekerjaan yang tidak sederhana. Sebab berjalan dengan kaki jauh lebih mudah daripada berjalan dengan hati. Belum seratus meter meninggalkan halaman gereja, jalan sudah mendongak ke langit. Seakan-akan tanjakan itu telah menunggu sejak pagi. Ia tidak memberi kesempatan tubuh untuk berunding. Tidak bertanya apakah lutut sudah siap. Tidak peduli apakah napas masih tenang. Ia hanya berkata, “Silakan naik.” Begitulah hidup. Sering kali kesulitan datang lebih cepat daripada kesiapan kita.
Rute sore itu memang sengaja menghindari jalan besar. Kami memilih menyelinap masuk ke lorong-lorong kampung. Jalan Sanggung, Ksatrian, Jangli, Panorama, Saptamarga, Kasipah, lalu kembali ke gereja. Gang demi gang kami lintasi. Kadang harus menepi karena sepeda motor lewat. Kadang berhenti memberi jalan sebuah mobil yang memaksa masuk ke gang sempit. Gang-gang itu mengajarkan sesuatu.
Bahwa hidup tidak selalu berjalan di jalan raya. Sebagian besar kehidupan justru berlangsung di lorong-lorong yang tidak pernah masuk berita. Di teras rumah tempat seorang nenek duduk memandang sore. Di halaman kecil tempat anak-anak berteriak mengejar bola plastik. Di dapur yang mengepul aroma bawang goreng. Di warung mungil yang menjual kopi, mi instan, dan obrolan. Di sanalah hidup tumbuh. Dan Tuhan, sering kali, memilih tinggal di tempat-tempat yang tidak diperhitungkan.
Ketika tanjakan Panorama mulai memanjangkan napas, seorang peserta tiba-tiba memegangi perutnya. “Waduh… perut saya mulai memberontak.” Ia bercerita, selama duduk di rumah tidak ada masalah. Baru setelah berjalan, tubuh mulai membuka rahasianya. Rupanya kaki bukan hanya menggerakkan badan. Ia juga membangunkan apa yang selama ini diam. Untunglah di depan ada minimarket. Kadang mukjizat tidak turun dari langit. Ia hanya berupa toilet yang kebetulan berada di tempat yang tepat.
Saya memilih berjalan paling belakang. Saya selalu percaya, barisan paling belakang adalah tempat yang paling jujur. Di depan, orang sibuk melihat tujuan. Di belakang, kita melihat manusia.
Benar saja. Masih ada dua peserta yang berjalan pelan sekali. Rombongan sudah hilang di tikungan, tetapi mereka sama sekali tidak panik. Mereka terus melangkah sambil bercakap-cakap, seolah waktu sedang duduk menemani mereka.
Saya mendekat. Salah seorang tersenyum kecil. “Kayaknya saya sudah habis tenaga.” Kalimat itu pendek. Tetapi saya tahu, setiap peziarah pernah mengucapkannya. Kalau bukan dengan bibir, dengan hati.
Kami lalu berjalan bersama. Tidak ada yang menyuruhnya mempercepat langkah. Tidak ada yang mengatakan, “Ayo, semangat!” Kadang semangat bukanlah teriakan. Semangat adalah seseorang yang rela menyamakan langkahnya dengan langkah kita.
Saat itulah saya merasa, persaudaraan bukanlah berjalan berdampingan ketika jalan sedang datar. Persaudaraan lahir ketika seseorang bersedia memperlambat langkahnya demi orang lain. Barangkali itulah wajah Gereja yang sesungguhnya. Bukan kumpulan orang-orang yang selalu kuat. Melainkan kumpulan orang-orang yang saling menjaga agar tidak ada yang tertinggal.
Di tengah perjalanan saya teringat Santo Ignatius Loyola. Ia pernah berjalan ratusan kilometer sebagai peziarah. Jalan kami sore itu bahkan belum satu persen dari langkahnya. Tetapi rupanya Tuhan tidak pernah mengukur iman dengan meteran. Ia lebih tertarik menghitung berapa kali kita berhenti menunggu sahabat yang tertinggal. Berapa kali kita menawarkan air minum. Berapa kali kita berkata, “Tidak apa-apa, kita jalan pelan saja.”
Enam koma enam kilometer ternyata cukup untuk membuka mata. Kami melewati rumah-rumah besar yang pagarnya tinggi. Kami juga melewati rumah-rumah kecil yang nyaris tanpa halaman. Kami melihat jalan mulus. Kami juga menginjak aspal yang retak-retak. Kami menuruni jembatan. Kami mendaki bukit. Bukankah hidup memang seperti itu?
Tidak semua orang memulai dari jalan yang sama. Tidak semua orang memikul beban yang sama. Kalau begitu, mengapa kita begitu mudah menghakimi langkah orang lain? Di akhir perjalanan, seorang peserta berkata sambil mengusap keringat,
“Kalau jalannya datar terus pasti enak.” Saya hanya tersenyum. Barangkali benar. Tetapi kalau bumi ini benar-benar datar, mungkin manusia tidak pernah belajar saling menggandeng ketika mendaki. Mungkin kita tidak pernah tahu bahwa tangan yang terulur sering kali lebih berharga daripada garis finis. Dan mungkin kita juga tidak pernah mengerti mengapa Tuhan tidak menciptakan hidup sebagai jalan lurus.
Sebab rupanya Tuhan tidak sedang mengajari manusia cara cepat sampai. Ia sedang mengajari manusia cara berjalan bersama.
Maka sore itu, yang pulang bukan hanya empat puluh tujuh orang dengan langkah yang lebih letih. Yang pulang adalah empat puluh tujuh hati yang diam-diam telah diajar oleh 6,84 kilometer. Sebab akhirnya saya mengerti. Yang paling jauh dari sebuah perjalanan bukanlah tujuan. Melainkan perjalanan dari “aku” menuju “kita.” (*)

