“OJO DIBANDING-BANDINGKE!”
Renungan Harian
Jumat, 31 Juli 2026 PW Santo Ignasius dari Loyola, Imam
Bacaan: Yer 26:1-9 dan Mat 13:54.55.56-58
oleh: FA Adihendro
“Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya”.
(Mat 13:58)
Saudara-saudari, yang dicintai dan mencintai Tuhan Yesus Kristus,
DI dekat rumah tinggal saya, masih berada dalam satu gang, ada seorang Bapak yang mempunyai
kharisma menyembuhkan orang. Hampir setiap hari ada orang datang menggunakan mobil; datang dari
luar kota, dan dari tempat-tempat yang jauh. Mereka merasa mendapatkan kesembuhan dari Bapak itu.
Anehnya, kami, para tetangga malah tidak “ngeh” dan menyadari bahwa Bapak ini mempunyai
kemampuan menyembuhkan pelbagai penyakit secara alternatif. Kami tahunya hanya seorang Bapak
biasa, tetangga yang baik, meskipun jarang ke luar rumah. Dari mana orang-orang itu bisa mengetahui
bahwa di dekat rumah kami ada seorang penyembuh yang cukup tenar?
Kadangkala kita juga merasa terheran-heran, ada Rumah Makan dekat tempat tinggal kita, sangat viral
di medsos, dan laris luar biasa. Namun kami yang tinggal di dekatnya, merasa bahwa rumah makan itu
biasa-biasa saja.
Fenomena ini mirip apa yang dialami oleh Tuhan Yesus ketika masa hidup-Nya. Pada suatu hari
Yesus kembali ke tempat asal-Nya. Di sana Ia mengajar orang di rumah ibadat mereka. Meskipun banyak
orang takjub akan pengajaran-Nya, tetapi tidak sedikit orang yang mempertanyakan, “Dari mana
diperoleh-Nya semua itu?” Lalu mereka kecewa dan menolak Yesus.
Mereka menolak Yesus karena mempunyai persepsi sendiri tentang sosok seorang nabi. Seorang nabi
menurut persepsi mereka adalah orang yang terkenal di mana-mana. Mereka sangat mengenal orang
tua Yesus, hanya orang-orang biasa. Mereka mulai membanding-bandingkan antara nabi besar dan
sosok pribadi Yesus. Dan ternyata Yesus ada di luar persepsi mereka.
Sekitar tahun 2022 muncul lagu yang cukup populer yang diciptakan oleh Abah Lala, dengan
judul lagu “OJO DIBANDINGKE”. Lagu ini kemudian menjadi viral karena dinyanyikan oleh Farel Prayoga
pada saat perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia pada jaman Presiden Jokowi.
Salah satu penggalan syairnya antara lain, “Wong ko ngene kok dibanding-bandingke….Ku berharap
engkau mengerti. Di hati ini hanya ada kamu.”
Dalam kehidupan berumah tangga, apabila ada yang mulai membanding-bandingkan pasangan sendiri
dengan orang lain bisa menjadi bibit-bibit ketidakharmonisan. Ia akan merasa kecewa, “Ah, istriku kok
tidak seperti isteri tetangga, yang lincah..sat-set, bodinya singset!” Akhirnya, ia mulai “menolak”
istrinya.
Hal ini tidak hanya berlaku untuk para suami. Istri pun kadangkala juga membanding-bandingkan,
“Suami saya kok penghasilnya segini saja. Tidak seperti suami mBak Any itu, seorang pengusaha, punya
supermarket, kalau liburan mengajak ke luar negri!”.
Kalau kita tidak waspada, kencenderungan membanding-bandingkan semacam inilah yang menjadi
sumber perpecahan dalam hidup berumah tangga.
Doa:
Bapa, yang maha kasih, Engkau telah memberi banyak anugerah kepada kami. Bahkan berlimpah-
limpah. Namun kami sering kurang menyadari. Malah kami bertahan pada kekuatan diri. Ampunilah
kami, ya Tuhan, sadarkanlah kami bahwa Engkau sumber cinta sejati dalam hidup kami. Utuslah Roh
Kudus-Mu untuk membakar cinta dalam hati kami, agar kami layak menjadi alat-Mu mewartakan kabar
gembira kepada setiap orang yang kami jumpai. Demi, Kristus Tuhan dan Sahabat kami. Amin.

