Bekerja untuk Roti Hidup
Oleh : Susy Haryawan
Renungan harian, Senin, 20 April 2026
Saudara Terkasih, hari ini, kita diajak untuk merenungan pengalaman para murid awal Yesus. Bagaimana kita mendengarkan dalam sabda Tuhan, kerumunan orang yang mencari Yesus dengan penuh semangat. Namun, Yesus dengan tajam membaca motivasi mereka: “Kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.”
Ini adalah teguran yang lembut namun mendalam bagi kita semua. Seringkali, kita mencari Tuhan hanya saat “perut” kita lapar—entah itu lapar akan rasa aman, lapar akan kesuksesan finansial, atau lapar akan solusi instan atas masalah hidup. Hal yang biasa terjadi dalam hidup harian kita, ketika pepat, seolah jalan tertutup, terjal, atau sangat mengerikan, kita datang pada Tuhan. Meminta-Nya untuk membantu. Tuhan menjadi pembantu kita untuk menyelesaikan semuanya.
Kita memperlakukan Tuhan seperti mesin pemberi berkat, bukan sebagai Pribadi yang kita cintai. Allah menghendaki kita hadir untuk bersama dengan DIA, bukan sekadar Penolong atau malah Pembantu untuk menyelesaikan apa-apa yang tidak mampu kita selesaikan.
Beberapa hal yang layak untuk kita resapkan dalam hati berkaitan dengan bacaan tersebut;
1. Motivasi di Balik Iman
Yesus mengajak kita untuk naik ke level yang lebih tinggi. Jangan hanya terpaku pada berkat-Nya (roti yang mengenyangkan fisik), tetapi carilah Si Pemberi Berkat itu sendiri. Iman bukan sekadar tentang apa yang bisa kita dapatkan dari Tuhan, tetapi tentang bagaimana kita menyatukan hidup dengan-Nya.
Allah sendiri yang kit acari, bukan berkat-Nya, apa yang IA berikan sudah berlimpah, hidup ini, cinta-Nya, alam ciptaan, Kesehatan, dan begitu banyak limpah. Jangan sampai terlena, kita melupakan SI Pemberi itu semua.
2. Pekerjaan yang Dikehendaki Allah
Ketika orang-orang bertanya, “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?”, jawaban Yesus sangat sederhana namun menantang:
“Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.”
Percaya bukan sekadar mengiyakan di dalam kepala, tetapi menyerahkan kendali hidup sepenuhnya kepada Kristus. Seperti Stefanus dalam Bacaan Pertama, yang wajahnya bercahaya seperti wajah malaikat meski sedang menghadapi fitnah, kita dipanggil untuk tetap berpegang pada kebenaran karena kita percaya pada Dia yang memberikan hidup kekal.
Saudara Terkasih, percaya itu berani berpegang pada kebenaran. Jangan sampai kita malah sekadar mencari pembenar atas perilaku kita yang buruk. Malah sering memfitnah Tuhan, jika sedang susah, itu kehendak Allah, padahal salah kita sendiri. Mirip dengan anak sekolah yang terlambat karena bangun kesiangan, mencari kambing hitam dengan mengatakan ibu tidak membangunkan.
Kita, di dalam Tuhan itu sudah dewasa, bukan lagi anak-anak. Bertanggung jawab, berani menanggung Risiko, dan berpegang pada kebenaran, meskipun tidak mudah. Hari-hari ini bangs aini sedang diombang-ambingkan dengan begitu banyak kesimpangsiuran opini. Di dalam Tuhan kita mampu memilah dan memilih pada kebenaran itu. Jangan sampai keliru hanya karena kita abai akan Tuhan.
Refleksi Pribadi
- Hari ini, tanyakan pada diri kita masing-masing: “Mengapa aku berdoa hari ini? Apakah aku mencari Yesus karena aku mencintai-Nya, atau hanya karena aku menginginkan sesuatu dari-Nya?”
- Sudahkah aku “bekerja” untuk memelihara imanku, ataukah seluruh energiku habis hanya untuk mengejar hal-hal duniawi yang akan binasa?
- Beranikah aku mencari dan membela kebenaran, ataukah sekadar mencari aman di dalam hidup ini?
Doa
Syukur pada-Mu Allah Pencipta Langit dan Bumi, atas kasih karunia-Mu yang berlimpah. Kesehatan yang kami miliki, alam ciptaan yang Engkau anugerahkan kepada kami.
Ya Tuhan, murnikanlah motivasi hati kami dalam mengikut Engkau. Jangan biarkan kami hanya mengejar roti yang binasa, tetapi bantulah kami untuk senantiasa haus dan lapar akan Engkau, sang Roti Hidup. Berilah kami iman yang teguh seperti Stefanus, agar dalam kesulitan sekalipun, pancaran kasih-Mu tetap terlihat melalui hidup kami. Amin.
Salam JMJ

