Ketika Hukum Kasih Menjadi Kurban Terindah di Tengah Dunia
(Renungan Harian, Kamis 4 Juni 2026. Bacaan 2 Tim 2:8-15 & Mrk 12:28b-34)
Jalan panggilan memiliki misteri dan persimpangannya masing-masing. Bagi kita para purna-formandi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) yang kini merajut asa dalam paguyuban Brayat Minulya, melangkah keluar dari tembok seminari sering kali sempat dimaknai sebagai akhir dari sebuah pelayanan. Namun, melalui terang Sabda Tuhan hari ini (2 Tim 2:8-15 & Mrk 12:28b-34), kita disadarkan bahwa pewartaan Firman Allah tidak pernah terbelenggu oleh ketiadaan jubah klerikal. Altar pengabdian kita kini telah beralih wujud: dari persembahan roti dan anggur di kapel, menjadi peluh di tempat kerja dan dedikasi cinta tanpa syarat di tengah keluarga. Inilah panggilan aktual kita saat ini, menghidupi spiritualitas Keluarga Kudus Nazaret dan membuktikan bahwa hukum kasih jauh lebih utama daripada segala kurban sembelihan di tengah hiruk-pikuk dunia.
Saudara-saudaraku yang terkasih dalam semangat Keluarga Kudus, rekan-rekan seperjalanan di Brayat Minulya,
Semoga damai sejahtera senantiasa menyertai kita semua, di mana pun kita kini diutus dan berkarya.
Hari ini kita disuguhkan dua bacaan yang sangat indah dan, jika kita renungkan dalam-dalam, sangat menyentuh realitas hidup kita saat ini, para pria yang pernah menapaki jalan panggilan khusus di dalam biara Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF), namun kini menemukan ladang panggilan yang baru di tengah dunia.
Mari kita renungkan Sabda Tuhan hari ini melalui tiga kacamata perjalanan hidup kita:

1. Firman Allah Tidak Terbelenggu oleh Status
Dalam Surat Kedua kepada Timotius, Santo Paulus menuliskan sebuah kalimat yang sangat kuat: “Karena pemberitaan Injil inilah aku menderita, malah dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi firman Allah tidak terbelenggu.” (2 Tim 2:9).
Dulu, ketika kita masih berada di seminari atau masa formasi, mungkin kita berpikir bahwa cara paling purna untuk mewartakan Firman Allah adalah melalui mimbar, mengenakan jubah, dan melayani di altar. Namun, jalan hidup membawa kita pada pilihan yang berbeda. Kita keluar dari tembok biara. Apakah panggilan kita berhenti? Sama sekali tidak.
Firman Allah tidak terbelenggu oleh jubah atau status klerikal. Sebagaimana Paulus yang raganya dibelenggu namun pewartaannya tetap bebas, raga kita mungkin tidak lagi terikat pada aturan kebiaraan, namun panggilan kita untuk menjadi saksi Kristus di tengah keluarga, tempat kerja, dan masyarakat tetap memanggil dengan nyaring. Kita tetaplah “pekerja yang tidak usah malu” di hadapan Allah, asalkan kita berterus terang menghidupi kebenaran itu di dunia sekuler.
2. Kesetiaan-Nya Melampaui Ketidaksempurnaan Kita
Paulus juga mengingatkan: “Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.”
Mungkin ada di antara kita yang pernah merasa gagal, kecewa, atau bergumul dengan perasaan bersalah ketika memutuskan untuk tidak melanjutkan jalan menuju imamat. Namun, Sabda Tuhan hari ini menghibur sekaligus meneguhkan kita. Tuhan tidak pernah melihat perjalanan formasi kita di masa lalu sebagai sebuah kesia-siaan.
Kesetiaan Allah tidak bergantung pada apakah kita ditahbiskan atau tidak. Ia setia pada janji keselamatan-Nya, dan Ia tetap menyertai kita merajut kekudusan melalui jalan perkawinan, keluarga, maupun kehidupan lajang kita saat ini.
3. Kasih Melampaui Kurban Bakaran: Spiritualitas Keluarga Kudus
Dalam Injil Markus, kita mendengar percakapan antara Yesus dan seorang ahli Taurat mengenai hukum yang paling utama. Yesus menegaskan bahwa mencintai Allah seutuhnya dan mencintai sesama seperti diri sendiri adalah puncak dari segalanya.
Tanggapan ahli Taurat itu sangat menarik: “Memang mengasihi Dia… dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama daripada semua korban bakaran dan korban sembelihan.”
Saudara-saudara, di masa lalu kita dipersiapkan untuk mempersembahkan Kurban Ekaristi di altar. Kini, Tuhan menunjukkan bahwa ada kurban yang sama berharganya di mata Allah: kurban cinta kasih dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi kita di Brayat Minulya, spirit Keluarga Kudus (Yesus, Maria, dan Yusuf) adalah fondasi kita. Mencintai istri dengan setia, membesarkan dan mendidik anak-anak dengan penuh kesabaran, mencari nafkah dengan jujur, dan peduli pada tetangga, itulah kurban bakaran kita saat ini.
Kita tidak lagi mempersembahkan roti dan anggur di atas altar gereja, melainkan mempersembahkan keringat, dedikasi, dan cinta kita di atas “altar” meja makan keluarga dan meja kerja kita.
Ketika kita menghidupi hukum kasih ini di tengah keluarga dan masyarakat, dengarlah apa yang Yesus katakan kepada ahli Taurat itu, yang kini Ia katakan kepada kita masing-masing: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!”
Akhirnya,…
Saudara-saudaraku di Brayat Minulya, formasi yang pernah kita terima di MSF bukanlah kenangan usang. Itu adalah bekal yang membuat kita menjadi suami, ayah, dan warga masyarakat yang berbeda, yang membawa nilai-nilai Nazaret ke tengah bisingnya dunia.
Mari kita terus bertekun. Jangan biarkan semangat persaudaraan kita luntur. Teruslah menjadi saksi bahwa kekudusan bisa lahir dari keluarga-keluarga yang sederhana, yang menjadikan cinta kepada Tuhan dan sesama sebagai hukum yang terutama.
Tuhan memberkati niat baik kita, pekerjaan kita, dan keluarga-keluarga kita. Amin.
Salam dari Kaki Merapi, 4 Juni 2026
Alfred B. Jogo Ena

