Tanda yang Sejati, Mengenali Kehadiran-Nya dalam Hidup Sehari-hari

Tanda yang Sejati, Mengenali Kehadiran-Nya dalam Hidup Sehari-hari

Saudara Terkasih,

Pernahkah kita berada dalam situasi di mana kita merasa butuh “tanda” yang sangat jelas dari Tuhan sebelum mengambil keputusan atau memercayai sesuatu? “Tuhan, kalau memang ini jalan-Mu, berikanlah aku tanda hari ini.” Meminta tanda adalah hal yang manusiawi. Kita sering kali merasa bimbang, takut salah melangkah, atau sekadar ingin diyakinkan.

Namun, dalam bacaan Injil hari ini, kita melihat perjumpaan yang cukup tajam antara Yesus dengan beberapa ahli Taurat dan orang Farisi. Mereka datang kepada Yesus dan berkata, “Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu.” Sekilas, permintaan ini tampak wajar. Bukankah melihat mukjizat bisa mempertebal iman?

Tetapi, Yesus justru memberikan jawaban yang keras. Beliau menyebut mereka sebagai “angkatan yang jahat dan tidak setia.” Mengapa Yesus bereaksi sedemikian keras? Apakah Tuhan tidak suka jika kita menguji atau mencari kepastian?

Ketegaran Hati yang Buta

Masalah utama orang Farisi dan ahli Taurat bukanlah karena mereka belum melihat mukjizat. Sebelum peristiwa ini, Yesus sudah menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, bahkan mencelikkan mata orang buta di depan umum. Mukjizat-mukjizat itu sudah lebih dari cukup sebagai “kartu identitas” bahwa Yesus adalah Utusan Allah.

Tantangan sebenarnya adalah ketegaran hati. Mereka meminta tanda bukan karena ingin percaya, melainkan karena mereka menolak untuk percaya. Mereka mencari celah, menguji, dan menjadikan mukjizat sebagai tontonan rohani belaka. Ketika hati sudah tertutup dan dipenuhi keangkuhan, tanda sebesar apa pun tidak akan pernah cukup.

Yesus menegaskan bahwa tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Tiga hari tiga malam Yunus berada di dalam perut ikan besar sebelum diutus menyelamatkan Niniwe. Ini adalah nubuat langsung tentang misteri Paskah: kematian, pemakaman, dan kebangkitan Yesus pada hari ketiga. Bagi kita, tanda tertinggi dan paling sempurna yang pernah diberikan Allah adalah Salib dan Kebangkitan Kristus. Itulah bukti kasih dan kehadiran-Nya yang paling mutlak.

Saudara Terkasih,

Kita, Belajar dari Ratu Syeba dan Orang Niniwe

Yesus kemudian membandingkan ketegaran hati orang Farisi dengan dua figur dari masa lalu: orang-orang Niniwe dan Ratu dari Selatan (Ratu Syeba).

Orang Niniwe hanya mendengarkan khotbah singkat dari Yunus yang enggan, tetapi mereka langsung bertobat secara radikal. Sementara itu, Ratu Syeba menempuh perjalanan yang sangat jauh dan melelahkan hanya untuk mendengarkan hikmat Salomo.

Ironisnya, orang Farisi dan ahli Taurat sedang berdiri tepat di hadapan Yesus. Seseorang yang “lebih daripada Yunus” dan “lebih daripada Salomo” ada di tengah-tengah mereka, namun mereka mengabaikan-Nya. Mereka memiliki privilese luar biasa untuk melihat dan mendengarkan Sang Firman yang Hidup secara langsung, tetapi hati mereka tetap membatu.

Saudara Terkasih

Mari kita, merenungkan Hidup Kita Hari Ini

Renungan ini mengundang kita untuk memeriksa batin kita masing-masing. Di zaman modern ini, apakah kita sering berperilaku seperti orang Farisi?

Sering kali kita mengukur kehadiran dan kebaikan Tuhan hanya berdasarkan “mukjizat” atau pemenuhan doa-doa materi kita. Kita baru merasa Tuhan itu dekat kalau bisnis kita lancar, doa kesembuhan langsung dikabulkan, atau hidup kita bebas dari masalah. Sebaliknya, ketika badai hidup datang dan keadaan menjadi gelap, kita mulai menuntut tanda: “Tuhan, di mana Engkau? Mengapa Engkau diam saja? Beri aku tanda kalau Engkau masih sayang padaku.”

Kita lupa bahwa Tuhan berbicara lewat banyak cara yang sederhana namun mendalam:

  • Melalui kedamaian saat kita merenungkan Firman-Nya.
  • Melalui teguran dari sesama atau sahabat yang peduli pada kita.
  • Melalui sakramen Ekaristi, di mana Dia hadir secara nyata dalam rupa roti dan anggur yang sederhana.
  • Bahkan melalui napas kehidupan yang masih kita hirup setiap pagi.

Jika kita terus menuntut tanda-tanda spektakuler, kita akan melewatkan kehadiran Tuhan yang lembut dalam keseharian kita. Iman yang sejati tidak bergantung pada mukjizat, melainkan pada relasi dan keterbukaan hati. Orang yang memiliki kasih di hatinya akan dengan mudah melihat jejak-jejak tangan Tuhan, bahkan dalam peristiwa hidup yang paling biasa atau paling berat sekalipun.

Mari kita berdoa agar Tuhan melembutkan hati kita yang keras. Mari kita mohon karunia mata iman, agar kita tidak menjadi buta terhadap begitu banyak kebaikan Tuhan yang sudah kita terima setiap hari. Kita tidak perlu lagi mencari tanda-tanda ajaib di langit, sebab Kristus yang bangkit telah ada bersama kita, di dalam hati kita, dan di dalam tabernakel-tabernakel-Nya.

Semoga kita memiliki kerendahan hati seperti orang Niniwe untuk mau terus bertobat, dan memiliki kehausan seperti Ratu Syeba untuk selalu mencari hikmat Allah di atas segalanya.

Doa singkat,

Tuhan Yesus Kristus, ampunilah kami jika sering kali kami meragukan kasih-Mu dan menuntut tanda dari-Mu. Lembutkanlah hati kami yang tegar, jalani hidup kami dengan mata iman yang tajam, sehingga kami mampu melihat kehadiran-Mu yang hidup dalam sesama kami, dalam Sabda-Mu, dan dalam setiap hela napas kami. Amin.

Salam JMJ

Susy Haryawan

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *