Parokiku, Hati Yesus Yang Maha Kudus
Mengapa Paroki Karangpanas bernama Paroki Hati Yesus Yang Maha Kudus, padahal gerejanya bernama Gereja St. Athanasius Agung? Pertanyaan sederhana ini menjadi pembuka yang menarik dalam Gathering Familia Christi yang berlangsung pada Kamis, 23 Juli 2026.
Mengusung tema Spiritualitas Hati Yesus Yang Maha Kudus, kegiatan yang diikuti lebih dari 175 peserta itu terasa istimewa karena menjadi bagian dari rangkaian syukur menjelang ulang tahun paroki pada bulan Agustus. Romo Adolfus Suratmo Atmo Martaya, Pr., mengajak peserta menelusuri kembali identitas paroki sekaligus makna devosi kepada Hati Kudus Yesus.
Dalam penjelasannya, Romo Suratmo mengingatkan bahwa berdasarkan Surat Keputusan Uskup Keuskupan Agung Semarang, sejak tahun 1964 nama resmi paroki di Karangpanas adalah Paroki Hati Yesus Yang Maha Kudus. Ketika gereja baru yang lebih besar selesai dibangun dan diberkati dengan nama St. Athanasius Agung pada tahun 2000, tidak ada perubahan nama paroki. Jadi, nama parokinya tetap sama. Karena itu, hingga sekarang umat Karangpanas bernaung dalam Paroki Hati Yesus Yang Maha Kudus.
Tema Spiritualitas Hati Yesus Yang Maha Kudus menjadi makin menarik karena banyak umat sudah akrab dengan gambar Hati Kudus Yesus, tetapi belum tentu memahami makna di baliknya.
Dalam kalender liturgi Gereja Katolik, Hari Raya Hati Yesus Yang Maha Kudus (Sollemnitas Sacratissimi Cordis Iesu) termasuk dalam perayaan tingkat solemnitas, yakni perayaan liturgi yang memiliki kedudukan paling tinggi. Hari raya ini dirayakan setiap tahun pada hari Jumat setelah rangkaian masa Paskah dan Pentakosta, sebagai ungkapan syukur atas kasih Allah yang dinyatakan secara sempurna dalam diri Yesus Kristus.
Devosi kepada Hati Kudus bukanlah sekadar penghormatan kepada organ fisik Yesus. Hati menjadi lambang diri-Nya yang paling dalam: pusat kasih, belas kasih, pengampunan, dan kerahiman Allah yang tak pernah habis bagi manusia.
Dasar biblis devosi ini tampak ketika Injil Yohanes mencatat bahwa lambung Yesus ditikam oleh seorang prajurit sehingga mengalir darah dan air (Yohanes 19:34). Gambaran itu kemudian dipahami Gereja sebagai tanda kasih Kristus yang dicurahkan tanpa syarat serta menjadi sumber kehidupan baru bagi umat manusia. Sementara itu, Yesus sendiri pernah berkata, “Barangsiapa percaya kepada-Ku, dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup” (Yohanes 7:38). Kedua teks ini memperlihatkan bahwa kasih Allah selalu menghidupkan dan memberi harapan.

Gambar Hati Kudus Yesus pun ternyata sarat makna. Hati yang terbuka melambangkan kasih Tuhan yang menerima setiap orang tanpa memandang latar belakangnya. Mahkota duri mengingatkan bahwa kasih sejati tidak pernah lepas dari pengorbanan. Luka di lambung beserta darah dan air yang mengalir menjadi tanda rahmat Allah yang terus menghidupi Gereja. Salib yang berdiri di atas hati menegaskan bahwa kasih Kristus mencapai puncaknya melalui pengorbanan-Nya di Golgota. Sementara nyala api menggambarkan kasih Allah yang terus berkobar, memurnikan, menguatkan, dan mengubah hati manusia.
Sejarah devosi ini juga sangat panjang. Benih-benihnya sudah muncul sejak abad ke-11 melalui doa dan kontemplasi para rahib dan biarawati, antara lain Santo Bernardus dari Clairvaux dan Santa Gertrudis Agung. Berabad-abad kemudian, devosi ini semakin dikenal luas melalui pengalaman rohani Santa Margareta Maria Alacoque di Prancis pada abad ke-17. Sejak saat itu, devosi kepada Hati Kudus Yesus berkembang ke berbagai belahan dunia dan menjadi salah satu devosi yang paling dicintai umat Katolik.
Paus Benediktus XVI pernah mengingatkan bahwa dalam bahasa Kitab Suci, “hati” menunjuk pada pusat pribadi manusia, tempat berdiamnya kehendak, cinta, dan niat. Karena itu, berdevosi kepada Hati Kudus Yesus bukanlah sekadar menghormati sebuah simbol, melainkan memasuki kasih Kristus sendiri yang telah mencintai manusia sampai tuntas.
Melalui spiritualitas Hati Yesus Yang Maha Kudus, kita diajak belajar memiliki hati yang semakin menyerupai hati Kristus: hati yang lembut, mudah mengampuni, tidak cepat menghakimi, peka terhadap penderitaan sesama, dan selalu terbuka untuk mengasihi.
Mungkin inilah pesan yang paling indah menjelang ulang tahun paroki. Nama Paroki Hati Yesus Yang Maha Kudus bukan sekadar identitas administratif atau nama yang tertulis di papan gereja. Lebih dari itu, nama tersebut adalah panggilan agar seluruh umat menjadi cermin kasih Kristus di tengah keluarga, lingkungan, tempat kerja, dan masyarakat. Sebab pada akhirnya, gereja bukan pertama-tama bangunan yang megah, melainkan umat yang berusaha memiliki hati yang semakin serupa dengan Hati Yesus. (*)

