Pewarta Tanpa Mimbar: Guru yang Berjalan Tanpa Lelah

Pewarta Tanpa Mimbar: Guru yang Berjalan Tanpa Lelah

Di tengah hiruk-pikuk dunia pendidikan yang terus berubah, ada sekelompok pendamping hati yang berjalan tanpa lelah dari satu sekolah ke sekolah lain. Mereka mungkin tidak tampil di berita utama, namun jejak kasih dan kesabaran mereka tertanam rapi di ribuan hati anak bangsa. Di Kabupaten Sleman, puluhan guru Pendidikan Agama Katolik baru saja berkumpul bukan sekadar untuk membahas tugas, melainkan untuk kembali merenungkan: untuk apa sebenarnya mereka berdiri di ruang kelas?

Cahaya yang Tak Pernah Padam di Ruang Kelas

Di lantai satu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman, Kamis, 16 Juli 2026, ruangan tak hanya dipenuhi suara percakapan dan sekotak snack. Lebih dari itu, di sana berkumpul puluhan hati yang telah memilih jalan berbagi: para guru tidak tetap Pendidikan Agama Katolik, mulai dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan.

Banyak dari mereka berkelana dari satu sekolah ke sekolah lain, terkadang menempuh jarak jauh demi berdiri di depan papan tulis, di hadapan para murid (ada yang satu orang, bahkan bangku kosong karena muridnya tanpa kabar tidak berangkat, ada yang muridnya lebih dari satu yang dengan antusias menantinya).

Namun pada hari ini, mereka tidak datang untuk membahas jadwal atau tugas administrasi semata. Mereka hadir untuk menjawab kembali pertanyaan terpenting dalam perjalanan mereka: Mengapa kita berdiri di sini? Apa makna sebenarnya menjadi guru di tengah dunia yang terus berubah?

Tema pertemuan ini, “Motivasi Guru Sebagai Pewarta di Sekolah”, bukan sekadar judul kegiatan. Ia adalah panggilan untuk kembali ke akar: bahwa menjadi pengajar agama bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran, melainkan menjadi pembawa kabar baik, pendamping iman, dan saksi hidup kasih di tengah keberagaman yang kaya namun terkadang menantang.

Tulisan ini juga ditujukan bagi para orang tua, agar kalian dapat melihat betapa mulianya jalan ini, dan mungkin kelak hati anak-anak kalian pun terpanggil untuk melangkah di atasnya.

Menjadi Guru: Antara Panggilan Jiwa dan Keterpaksaan Hidup

Bapak CB. Ismulyadi, Penyelenggara Agama Katolik Kabupaten Sleman, membuka pembinaan dengan pertanyaan yang menusuk hati: Apakah kalian memilih menjadi guru, atau profesi ini yang menemukan kalian? Apakah kalian berada di sini karena terpaksa mencari nafkah, atau karena ada panggilan lembut yang tak bisa ditolak?

Untuk mengajak para guru merenung, beliau mengangkat kisah dalam buku Menjadi Guru Biasa Saja karya Paulus Subiyanto, sosok yang mengabdikan 40 tahun hidupnya, hingga masa purnabakti, hanya untuk berdiri di ruang kelas.

Dalam pandangan filosofis, panggilan guru bukanlah hak yang diminta, melainkan amanah yang diterima. Seperti kata filsuf Paulo Freire, pendidikan bukanlah cara untuk menyesuaikan diri dengan dunia, melainkan cara untuk mengubahnya menjadi lebih manusiawi.

Bagi guru agama, panggilan ini pun berakar pada ajaran Injil: Yesus tidak memanggil murid-Nya untuk menjadi pengajar hebat semata, melainkan menjadi saksi kasih di mana pun mereka berada.

Keterpaksaan mungkin membuat kita hadir di ruang kelas, namun hanya panggilan yang membuat kita tetap bertahan saat lelah melanda.

Panggilanlah yang membuat kita melihat setiap murid bukan sekadar nama di daftar hadir, melainkan pribadi unik yang sedang berjuang menemukan jati diri dan cahaya Tuhan dalam hidupnya.

Bukan Sekadar Pengajar Pelajaran, Melainkan Pewarta Kehidupan

Kata “pewarta” sering kita artikan sebagai orang yang menyampaikan berita dari atas mimbar. Namun bagi guru agama, mimbar mereka adalah lantai ruang kelas, di samping meja murid, di sudut perpustakaan, atau saat berjalan bersama di halaman sekolah. Berita yang disampaikan pun bukanlah berita sementara yang akan terlupakan esok hari, melainkan berita tentang kasih, keadilan, dan harapan, nilai yang menjadi fondasi kehidupan.

Bapak Ismulyadi mengingatkan: banyak dari kalian mengajar di lebih dari tiga sekolah, bertemu anak-anak dengan latar belakang yang berbeda, keyakinan yang beragam, dan pengalaman hidup yang berwarna.

Di tengah pluralitas ini, tugas kalian bukanlah mengubah mereka menjadi seperti kalian, melainkan menuntun mereka mengenali cahaya yang sudah ada di dalam diri masing-masing.

Secara teologis, menjadi pewarta berarti menjadi saksi Kerajaan Allah: bukan dengan kata-kata yang tinggi, melainkan dengan sikap rendah hati, sabar, dan kasih yang tak bersyarat.

Guru agama adalah pendamping yang berjalan di samping murid, bukan di depan atau di atas mereka. Saat anak-anak bingung menghadapi perbedaan, saat mereka bertanya tentang penderitaan di dunia, saat mereka ragu akan keberadaan Tuhan, Andalah yang hadir untuk mendengarkan, bukan langsung memberi jawaban mudah.

Para gurulah yang menuntun mereka menemukan jawaban itu sendiri melalui pengalaman iman dan refleksi yang mendalam. Inilah passion yang tak boleh padam: kegembiraan bisa berbagi perjalanan hidup dengan anak-anak muda.

Panggilan Tak Harus Berjalan Sendirian: Dukungan di Tengah Tantangan

Kita tak boleh menutup mata: menjadi guru tidak tetap memiliki tantangan tersendiri. Ada jarak jauh yang ditempuh, waktu yang terbagi-bagi, dan terkadang ketidakpastian akan hak yang seharusnya didapat. Namun, pada hari ini, ada kabar yang menyegarkan semangat: perjuangan para guru tidak luput dari perhatian.

Ibu Rosa, Pengawas SMP dan SMA/SMK, mengajak para guru untuk memanfaatkan Portal Simpatika sebagai sarana agar pengabdian mereka diakui oleh negara.

Bagi yang sudah terdaftar minimal dua tahun, hak-hak seperti pelatihan PPPG dan sertifikasi akan mulai terbuka. Ini adalah bentuk kecil namun berarti: pengakuan bahwa apa yang kalian lakukan bukan hal sepele, melainkan jasa besar bagi bangsa.

Bapak Ismulyadi pun menambahkan: Bapak Ibu guru tidak berjalan sendirian. Para pengawas siap mendampingi, baik dalam hal administrasi maupun hal teknis pengajaran. Panggilan mulia ini tak perlu dijalani dengan berat hati. Gunakanlah dukungan yang ada, agar Anda bisa terus berbagi dengan tenang dan bahagia.

Warisan Cahaya untuk Generasi Mendatang

Kepada para guru yang hadir di ruangan itu, dan semua rekan seperjuangan di seluruh pelosok negeri: terima kasih telah memilih panggilan ini.

Terima kasih karena kalian tidak hanya mengajar tentang ajaran agama, tetapi juga menghidupinya dalam setiap senyuman, setiap nasihat, dan setiap kesabaran kalian.

Bapak Ibu gurulah adalah jembatan yang menghubungkan anak-anak dengan harapan, dengan nilai luhur, dan dengan kasih yang tak terbatas.

Dan kepada para orang tua yang membaca tulisan ini: perhatikanlah betapa berharganya profesi ini. Jangan ragu untuk mencerahkan anak-anak Anda bahwa menjadi guru adalah jalan yang mulia, jalan yang memungkinkan seseorang menyentuh hidup banyak orang, dan mengubah dunia sedikit demi sedikit dari dalam hati anak-anak.

Panggilan menjadi pewarta di sekolah tak akan pernah berakhir. Selama masih ada anak yang butuh ditemani, selama masih ada hati yang butuh disentuh, panggilan ini akan tetap ada, menanti hati yang siap melangkah dengan kasih.

Alfred Jogo Ena

Alfred Jogo Ena

Seorang editor yang suka menulis dan guru agama di beberapa sekolah menengah di Yogyakarta. Ia juga melayani pelatihan dan konsultasi penulisan buku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *