Bertualang

Bertualang

Railway Advanture rute Taman Doa Giliasih, Grabag ke Gereja Jago, Ambarawa akan diselenggarakan Minggu, 26 Juli 2026.

Adventure. Petualangan. Sebuah kata yang selalu terdengar romantis. Membayangkannya saja sudah seperti mendengar derit layar kapal diterpa angin, kompas yang berputar, dan pelaut yang menatap cakrawala sambil berharap, “Semoga bukan badai lagi.”

Dalam sejarah, petualangan memang tidak selalu sesederhana mencari pengalaman baru. Pada abad ke-15 hingga ke-17, banyak bangsa Eropa berlayar ke timur dengan mimpi yang besar: menemukan jalur dagang baru, memperoleh rempah-rempah, memperluas wilayah kekuasaan, mengisi pundi-pundi kerajaan, dan tentu saja mengejar kejayaan. Singkatnya: mencari emas, mencari nama, dan kalau bisa, pulang membawa keduanya.

Belanda pun ikut dalam rombongan besar itu. Menjelang akhir abad ke-16 mereka tiba di Banten. Beberapa tahun kemudian lahirlah VOC, perusahaan dagang yang mungkin bisa disebut sebagai “startup” terbesar pada zamannya. Bedanya, modalnya bukan dari investor digital, melainkan kapal, meriam, dan hak monopoli.

Selama hampir dua abad VOC menikmati masa jayanya. Namun, seperti banyak kisah kekuasaan, akhir ceritanya tidak selalu indah. Korupsi, salah urus, utang yang menumpuk, serta berbagai persoalan administrasi membuat perusahaan raksasa itu bangkrut pada penghujung abad ke-18. Lord Acton pernah mengingatkan, “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.” Rupanya, nasihat itu berlaku bukan hanya bagi individu, tetapi juga bagi sebuah imperium dagang.

Sejak 1 Januari 1800, seluruh aset VOC diambil alih oleh Pemerintah Hindia Belanda. Pemerintah berganti, tetapi orientasi ekonomi kolonial tetap berjalan. Nusantara tetap dipandang sebagai wilayah yang menjanjikan keuntungan. Jalan raya dibangun, pelabuhan diperbaiki, perkebunan dibuka, investor swasta berdatangan. Salah satunya adalah Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM), perusahaan kereta api yang kelak membangun jalur Semarang–Tanggung–Ambarawa–Bedono- Magelang hingga Yogyakarta.

Di balik rel-rel besi yang dibangun demi kepentingan ekonomi itu, terselip kisah lain yang jauh lebih sunyi. Kisah para misionaris.

Berbeda dengan masa VOC yang cenderung memberi ruang lebih besar kepada Gereja Protestan dan membatasi karya misi Katolik, pada abad ke-19 Pemerintah Hindia Belanda mulai membuka kesempatan yang lebih luas bagi Gereja Katolik untuk berkarya, meskipun tetap berada dalam pengawasan pemerintah. Kesempatan itu segera dimanfaatkan. Imam, bruder, suster, dan para misionaris berdatangan ke Nusantara.

Mereka juga melakukan perjalanan. Namun perjalanan mereka berbeda. Kalau para pedagang menghitung berapa karung kopi yang dapat dibawa pulang, para misionaris lebih sibuk menghitung berapa anak yang bisa bersekolah. Kalau para saudagar memikirkan harga gula di pasar dunia, para suster memikirkan anak yang demam semalaman. Kalau para pengusaha mengejar keuntungan, para imam justru mengejar kesempatan untuk menjumpai umat yang tinggal berhari-hari perjalanan jauhnya. Mereka sama-sama naik kapal. Mereka sama-sama menempuh perjalanan panjang. Tetapi tujuan akhirnya berbeda.

Rel-rel kereta api yang dibangun NISM sangat mungkin ikut memperlancar karya misi itu. Bayangkan seorang imam berangkat dari Gedangan, Semarang, naik kereta menuju Ambarawa. Dari sana perjalanan dilanjutkan ke Bedono, lalu mungkin masih harus berjalan kaki atau naik kuda menuju desa-desa di pedalaman. Kereta api ternyata tidak hanya mengangkut gula, kopi, tembakau, atau penumpang. Sangat mungkin, kereta juga mengangkut harapan.

Ambarawa sendiri memiliki arti penting dalam pemerintahan kolonial. Kehadiran Benteng Willem I menjadikannya salah satu pusat militer Hindia Belanda. Banyak pegawai pemerintah dan keluarganya tinggal di sana, termasuk umat Katolik yang membutuhkan pelayanan rohani. Tidak mengherankan jika kemudian berdirilah Gereja Santo Yusuf, yang akrab disebut Gereja Jago, sebagai pusat pelayanan pastoral.

Namun karya Gereja tidak berhenti di altar. Perlahan-lahan tumbuh pula sekolah-sekolah, asrama, karya kesehatan, dan pelayanan sosial. Para Suster OSF mengelola sekolah putri. Para Bruder FIC mendampingi pendidikan anak-anak lelaki. Zaman memang berbeda. Dulu sekolah putra dan putri lazim dipisahkan. Mungkin bukan karena takut saling jatuh cinta, tetapi karena memang demikianlah sistem pendidikan pada masa itu.

Hingga hari ini jejak-jejak itu masih dapat dibaca. Bukan hanya dari arsip. Bukan hanya dari foto-foto tua. Tetapi dari sekolah yang tetap berdiri, gereja yang masih dipenuhi umat, rumah sakit yang terus melayani, dan ribuan orang yang pernah merasakan sentuhan karya kasih para misionaris.

Mereka datang bukan sebagai pemburu emas. Bukan pula pencari kejayaan. Mereka datang membawa Injil, lalu menerjemahkannya menjadi sekolah, rumah sakit, pelayanan sosial, dan pendampingan bagi masyarakat. Mereka sadar bahwa kabar baik akan lebih mudah dipercaya ketika terlebih dahulu diwujudkan dalam perbuatan baik.

Karena itu, karya misionaris sesungguhnya bukanlah kisah penaklukan, melainkan kisah perjumpaan. Bukan tentang menguasai, melainkan melayani. Bukan tentang mengambil, melainkan memberi.

Railway Adventure akhirnya menjadi lebih dari sekadar perjalanan menyusuri rel kereta tua. Ia mengajak kita membaca sejarah dari sisi yang berbeda. Di sepanjang rel itu pernah melintas lokomotif yang menarik gerbong-gerbong penuh hasil bumi. Namun, sangat mungkin pada rel yang sama pernah duduk seorang imam dengan brevir di tangan, seorang suster membawa kotak obat, atau seorang bruder yang sedang menuju sekolah sederhana di sebuah kota kecil.

Rel-rel itu bukan hanya menghubungkan Semarang dengan Ambarawa-Bedono, Magelang, atau Yogyakarta. Rel-rel itu juga pernah menghubungkan manusia dengan harapan. Dan barangkali, itulah petualangan yang paling indah.

Rel kereta api Ambarawa – Bedono tidak pernah dibangun dengan niat untuk mewartakan Injil. Ia dibangun untuk kepentingan ekonomi kolonial. Namun Tuhan sering memakai jalan yang dibuat manusia untuk menghadirkan karya cinta-Nya. (*)

M. Unggul Prabowo

Orang biasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *