Buen Camino

Buen Camino

Spanyol bertemu Argentina dalam final Piala Dunia. Entah mengapa, kata “Spanyol” membuat ingatan saya melompat pada dua kata yang pernah saya baca di punggung kaos sebuah komunitas pejalan kaki di Semarang:  ‘Buen Camino.’

Dalam pencarian di google, dua kata berbahasa Spanyol itu artinya, “Selamat berziarah. Semoga Tuhan menyertai langkahmu.”

Saya baru mengenal komunitas Pilgrim Walkers Semarang (PWS) ketika berjalan bersama mereka menyusuri rute Karangpanas–Gedangan, Semarang, pertengahan Juli lalu. Nama komunitasnya berbahasa Inggris, tetapi salamnya justru berbahasa Spanyol. Menarik juga. Mengapa bukan “Salam Sehat”, seperti sapaan yang biasa terdengar di antara para pejalan kaki setiap pagi?

Rasa penasaran itu akhirnya membawa saya menemukan sebuah kisah yang jauh lebih panjang daripada sekadar olahraga jalan kaki. Ternyata Buen Camino adalah salam khas para peziarah yang menempuh Camino de Santiago, salah satu jalur ziarah Kristiani paling terkenal di dunia. Ribuan orang dari berbagai negara berjalan kaki menuju Katedral Santiago de Compostela di Galicia, Spanyol. Menurut tradisi Gereja Katolik, di sanalah Santo Yakobus Rasul dimakamkan.

Yakobus adalah salah seorang dari dua belas rasul Yesus. Bersama Petrus dan Yohanes, ia termasuk murid yang paling dekat dengan Sang Guru. Tradisi kuno menyebutkan bahwa Yakobus pernah mewartakan Injil di Hispania, wilayah yang sekarang menjadi Spanyol. Setelah wafat sebagai martir di Yerusalem sekitar tahun 44 M, relikwinya diyakini dibawa ke Galicia. Berabad-abad kemudian, sekitar tahun 813, seorang pertapa bernama Pelayo dipercaya menemukan kembali makam tersebut. Dari penemuan itulah lahir tradisi peziarahan yang terus hidup hingga lebih dari seribu tahun.

Sejak abad ke-10, Camino de Santiago berkembang menjadi salah satu tujuan ziarah terbesar dunia Kristen, sejajar dengan Yerusalem dan Roma. Namun yang menarik, orang-orang datang bukan hanya untuk berdoa. Ada yang berjalan karena sedang mencari arah hidup. Ada yang berduka karena kehilangan orang tercinta. Ada yang ingin mengucap syukur. Ada pula yang sekadar ingin “berdamai” dengan dirinya sendiri.

Banyak jalan menuju Santiago. Ada sedikitnya sepuluh rute utama. Jalur paling populer adalah Camino Francés, dimulai dari kota kecil Saint-Jean-Pied-de-Port di Prancis, menyeberangi Pegunungan Pyrenees, lalu berakhir di Santiago de Compostela. Panjangnya sekitar 780 kilometer.

Selain itu ada Camino Portugués dari Portugal, Camino del Norte yang menyusuri pantai utara Spanyol, Via de la Plata dari Sevilla yang mencapai hampir 1.000 kilometer, hingga Camino Inglés, jalur pendek sekitar 120 kilometer yang dahulu ditempuh para peziarah dari Inggris dan Irlandia. Sekitar dua pertiga peziarah memilih Camino Francés. Bukan karena paling mudah, melainkan karena jalurnya kaya sejarah, penuh persinggahan, dan menawarkan pengalaman yang lengkap.

Perjalanan sepanjang 780 kilometer itu biasanya ditempuh selama 25–35 hari dengan rata-rata berjalan 20–30 kilometer setiap hari. Namun tidak sedikit yang memilih ritme lebih santai: empat puluh hari, lima puluh hari, bahkan dua bulan. Dua bulan berjalan kaki. Membayangkannya saja sudah membuat betis terasa pegal.

Tetapi mungkin justru di situlah letak keindahannya. Camino bukan perlombaan. Tidak ada medali bagi yang paling cepat. Tidak ada podium bagi yang pertama tiba. Setiap orang bebas berhenti ketika lelah, menikmati secangkir kopi di desa kecil, bermalam di hostel sederhana, bercakap dengan sesama peziarah, lalu melanjutkan perjalanan ketika hati sudah siap.

Yang dikejar bukan garis finis. Yang dicari adalah diri sendiri. Setiap peziarah membawa Pilgrim Credential, semacam paspor ziarah yang akan distempel di gereja, hostel, biara, atau bahkan kafe yang mereka singgahi. Setibanya di Santiago, mereka yang memenuhi syarat akan memperoleh Compostela, sertifikat resmi bahwa perjalanan ziarah telah diselesaikan.

Namun saya membayangkan, sertifikat itu mungkin bukan hadiah terbesar. Hadiah sesungguhnya barangkali adalah ribuan langkah yang telah mengubah hati.

Saya membayangkan suatu pagi berdiri di kaki Pegunungan Pyrenees, tepat di perbatasan Prancis dan Spanyol. Matahari baru saja mengintip dari balik gunung. Udara masih dingin. Di depan sebuah penginapan kecil, seorang pensiunan dari Jepang sedang mengikat tali sepatunya. Di sebelahnya ada mahasiswa dari Brasil, seorang pastor dari Polandia, dokter dari Korea Selatan, dan entah bagaimana, seorang pejalan kaki dari Indonesia.

Mereka belum saling mengenal. Mungkin tidak akan pernah bertemu lagi. Namun ketika langkah pertama dimulai, seseorang tersenyum sambil berkata, “¡Buen Camino!” Yang lain menjawab dengan senyum yang sama,   “¡Buen Camino!”

Tak perlu pidato panjang. Tak perlu memperkenalkan nama. Dua kata itu sudah cukup berarti, “Selamat berziarah. Semoga Tuhan menjaga setiap langkahmu.” Saya pun jadi tersenyum sendiri.

Besok pagi, kalau sedang berjalan kaki lalu berpapasan dengan sesama pejalan kaki, rasanya ingin sekali menyapa, “¡Buen Camino!” Entah apa jawab mereka.


Hidup ini juga bukan sekadar perjalanan menuju suatu tempat. Hidup adalah ziarah panjang menuju rumah Bapa. Dan selama masih diberi kesempatan melangkah, rasanya tidak ada salam yang lebih indah daripada: Buen Camino. Semoga Tuhan menyertai langkah kita.(*)

M. Unggul Prabowo

Orang biasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *