Kidung Iman Pria-Pria Brayat Minulya: Menemukan Pelukan Bunda di Jalan Dunia

Kidung Iman Pria-Pria Brayat Minulya: Menemukan Pelukan Bunda di Jalan Dunia

Bagi para pria yang tergabung dalam Paseduluran Brayat Minulya Nusantara (PBMN), jubah calon imam mungkin telah ditanggalkan, namun kasih keibuan Maria tetap melekat erat sebagai kompas penuntun di “hutan rimba” kehidupan awam. Di balik sosok bapak, suami, dan pekerja profesional, tersimpan narasi personal tentang bagaimana mereka bersimpuh di kaki Bunda saat logika dunia menemui jalan buntu. Buku terbitan Bajawa Press ini bukan sekadar kumpulan refleksi teologis, melainkan detak jantung para bapak yang menemukan mukjizat dalam retaknya mesin motor, kosongnya dompet susu anak, hingga vonis meja operasi. Kesaksian kolektif lima belas kontributor ini membuktikan bahwa Maria bukan hanya figur di dalam gua batu, melainkan Ibu yang senantiasa “singgah” di meja makan dan peziarahan setiap anggota keluarga PBMN.

Membangun Fondasi: Keluarga Kudus sebagai Role Model

Perjalanan refleksi ini dibuka oleh Thomas Suhardjono, Ketua PBMN, yang menegaskan bahwa peran Sang Bunda terhadap kaum pria adalah sebuah “keniscayaan”. Ia merujuk pada momen khusyuk Paus Fransiskus menyanyikan Salve Regina sebagai pengakuan atas pentingnya peran perempuan dan ibu dalam Gereja.

Sejalan dengan itu, Paul Subiyanto mengajak pembaca membedah relevansi Keluarga Kudus di era modern. Meski tantangan zaman kian kompleks, Paul menekankan bahwa nilai ketaatan Maria dan kerja keras Yosef tetap menjadi jangkar bagi keluarga Katolik hari ini.

Fondasi tradisi ini diperkuat oleh Anton R. Tjokroatmodjo yang mengulas sejarah devosi Maria (dari masa para Rasul hingga pembangunan Gua Maria di pelosok keuskupan) sebagai bentuk penghormatan atas pribadi Maria yang selalu mendengarkan Sabda Allah.

Maria di Ruang Tamu: Doa yang Membentuk Karakter

Bagi St. Kartono, Maria hadir secara konkret melalui rutinitas Doa Angelus tiga kali sehari. Di rumahnya, doa ini bukan sekadar ritual, melainkan “formasi” pembentukan karakter bagi anak-anaknya agar selalu memiliki semangat percaya, pasrah, dan mencinta di tengah dunia yang makin mengandalkan nalar semata.

Pengalaman unik juga dibagikan oleh Robby Ageng Prasetya. Di tengah pergumulan ekonomi sebagai buruh, ia dan istrinya menolak saran dokter untuk menghentikan kehamilan yang “tidak direncanakan”. Melalui doa yang tekun, mereka dianugerahi putri cantik yang dinamai Mery Dea Rosario Indah sebagai simbol rasa syukur atas penyelenggaraan Ilahi.

Mukjizat di Garis Depan: Dari Meja Operasi hingga Jalanan

Editor buku ini, Alfred B. Jogo Ena, mengisahkan momen kritis ketika putranya, Sisco, harus menghadapi vonis operasi patah tulang. Dalam penyerahan total, secara ajaib operasi tersebut batal dilakukan dan sang anak sembuh hanya dengan gips, sebuah peristiwa yang diyakini sebagai campur tangan langsung Bunda Maria.

Di sudut lain, Blasius Dwi Yandu N menceritakan sisi “manusiawi” seorang pria dalam mencari jodoh. Dari motor GL-100 yang mogok hingga ziarah jalan kaki ke Sendangsono, Blasius menemukan bahwa Bunda Maria menuntunnya menemukan cinta sejati tepat pada waktu-Nya.

Ekonomi Iman: Susu Anak dan Langkah Peziarah

Perjuangan hidup setelah keluar dari biara dirasakan betul oleh D. Nursih Martadi. Ia mengisahkan “mukjizat terjemahan” jurnal bahasa Inggris yang datang tepat saat ia tidak memiliki uang sepeser pun untuk membeli susu anaknya.

Semangat peziarahan ini kemudian diterjemahkan oleh Marcurius Unggul Prabowo melalui pengelolaan “Ziarek” (Ziarah dan Rekoleksi) bagi komunitas lansia. Baginya, membawa umat berjumpa dengan Maria di taman doa adalah cara untuk menimba inspirasi batin di masa tua.

Sementara itu, Martinus Tommy Hariyanto membawa pengalaman devosinya hingga ke area tambang gas alam di Kalimantan Timur, di mana Doa Rosario menjadi penghibur utama di tengah rasa sepi dan kerasnya lingkungan kerja.

Spiritualitas Belarasa: Bintang Samudra dan Kepasrahan Total

Ambrosius Sigit Kristiantoro menggali kedalaman spiritualitas “Maria Bintang Samudra” melalui teladan Elisabeth Gruyters. Ia mengajak pembaca untuk bertekun dalam doa yang didasari oleh motivasi kebaikan bagi banyak orang, sebagaimana Maria berbelarasa di pesta perkawinan Kana.

Tien Sukarno (Agustinus Sukarno) secara jujur membagikan pengalamannya sebagai “jeblinger” MSF yang sempat merasa marah, namun akhirnya luluh oleh nasihat ibunya dan teladan kepasrahan Maria: “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu”.

Semangat yang sama dihidupi oleh Ansgarius Hari Wijaya yang menjadikan doa Magnificat sebagai pegangan hidup hingga masa purna bakti, menyerahkan segala kegagalan dan keberhasilan ke dalam tangan Tuhan.

Penutup: Laku Spiritual dan Peneguhan Gembala

Menuju bagian akhir, CB. IsmulCokro mengajak kita merenungkan penderitaan yang dipenuhi cinta melalui peristiwa Rosario dan Jalan Salib, sementara FX. Widyanto Setiawan Wijaya menekankan pentingnya “Laku Spiritual” bersama Sang Bunda untuk mendalami relasi pribadi dengan Tuhan dalam keseharian.

Sebagai penutup yang agung, Mgr. Dr. Paulinus Yan Olla, MSF, Uskup Tanjung Selor, memberikan berkat dan peneguhan melalui pengantarnya. Beliau mengingatkan bahwa “Berlari pada Maria tidak akan mengecewakan. Per Mariam ad Jesum”.

Kiranya kumpulan kesaksian dari para pria PBMN ini menjadi oase bagi siapa pun yang sedang berziarah di bumi, meyakinkan kita bahwa Bunda Maria selalu hadir dalam segala musim kehidupan.

Tuhan Memberkati dan Salam Keluarga Kudus.

Selamat menjalani Bulan Maria. Per Mariam ad Jesum

Alfred Jogo Ena

Alfred Jogo Ena

Seorang editor yang suka menulis dan guru agama di beberapa sekolah menengah di Yogyakarta. Ia juga melayani pelatihan dan konsultasi penulisan buku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *