Mengandalkan Kristus, Bukan Kuasa Lain

Mengandalkan Kristus, Bukan Kuasa Lain

Renungan Harian
Bacaan Injil: Matius 8:28–34

“Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah?” (Mat. 8:29)

Sahabat Yesus yang setia,

Setibanya di daerah Gadara, Yesus langsung berhadapan dengan dua orang yang kerasukan setan. Mereka hidup di pekuburan, terasing dari masyarakat, dan menjadi ancaman bagi siapa saja yang melewati jalan itu. Tidak seorang pun sanggup membebaskan mereka. Namun, ketika Yesus datang, roh-roh jahat itu justru gemetar dan mengakui siapa Dia: Anak Allah. Mereka tahu bahwa kuasa Yesus jauh melampaui kuasa kegelapan.

Peristiwa ini menegaskan bahwa tidak ada kuasa apa pun yang dapat mengalahkan Kristus. Sebesar apa pun belenggu dosa, luka batin, kebencian, kecanduan, ketakutan, atau keputusasaan yang mengikat seseorang, Yesus sanggup membebaskannya. Persoalannya bukan apakah Yesus mampu menolong kita, melainkan apakah kita sungguh mau menyerahkan hidup kepada-Nya.

Dalam kehidupan modern, godaan untuk mengandalkan kuasa selain Tuhan ternyata masih sangat nyata. Dalam dunia usaha misalnya, tidak sedikit orang yang mencari jalan pintas agar usahanya cepat berkembang. Ada yang menjalani ritual tolak bala, mencari pesugihan, menggunakan benda-benda yang dianggap membawa keberuntungan, bahkan mendatangi tempat-tempat yang diyakini dapat mendatangkan kekayaan atau kelancaran usaha, seperti Gunung Kemukus di Jawa Tengah atau Gunung Kawi di Jawa Timur. Berbagai cara ditempuh karena manusia mendambakan keamanan, kelancaran, dan kesuksesan.

Sebaliknya, ketika seorang pengusaha meminta seorang imam memberkati toko, kantor, rumah makan, atau tempat usahanya, tidak sedikit imam yang justru mengingatkan bahwa berkat Gereja bukanlah jimat baru. Pemberkatan bukanlah sarana memperoleh kekuatan gaib, melainkan doa agar Allah sendiri hadir, melindungi, membimbing, dan memberkati setiap usaha yang dijalankan dengan jujur dan benar. Imam biasanya mengajak umat untuk lebih mengandalkan penyelenggaraan Tuhan, bekerja dengan tekun, melayani pelanggan dengan tulus, berlaku adil kepada para karyawan, serta setia hidup dalam doa. Berkat Tuhan bekerja melalui iman, kejujuran, kerja keras, dan kasih, bukan melalui praktik-praktik mistik.

Injil hari ini mengingatkan kita bahwa hanya Kristus yang berkuasa atas segala kuasa kegelapan. Oleh karena itu, seorang murid Kristus tidak perlu mencari perlindungan atau keberuntungan dari kuasa lain. Ketika hati mulai bergantung pada jimat, ramalan, ritual mistik, atau pesugihan, sesungguhnya kita sedang menggeser kepercayaan yang seharusnya hanya diberikan kepada Tuhan.

Hal lain yang patut direnungkan adalah sikap penduduk Gadara. Setelah menyaksikan dua orang dipulihkan, mereka tidak bersukacita. Sebaliknya, mereka justru meminta Yesus meninggalkan daerah mereka. Mungkin mereka lebih sibuk menghitung kerugian karena kawanan babi mati daripada mensyukuri keselamatan dua orang yang telah dipulihkan. Mereka lebih memilih keuntungan materi daripada kehadiran Sang Penyelamat.

Bukankah sikap itu juga dapat muncul dalam diri kita? Kita berdoa memohon Tuhan memberkati keluarga, pekerjaan, dan usaha kita. Namun, ketika Tuhan mengajak kita meninggalkan kebiasaan yang tidak benar, berlaku jujur meski mengurangi keuntungan, mengampuni orang yang menyakiti kita, atau hidup sesuai kehendak-Nya, kita justru merasa terganggu. Tanpa sadar kita berkata dalam hati, “Tuhan, jangan terlalu jauh mencampuri urusanku.”

Hari ini marilah kita bertanya kepada diri sendiri: kepada siapakah aku menggantungkan harapan hidupku? Apakah kepada Kristus yang hidup, atau kepada sesuatu yang menjanjikan keuntungan instan tetapi menjauhkan aku dari-Nya? Yesus tidak pernah menjanjikan jalan yang instan, tetapi Dia menjanjikan penyertaan-Nya. Berkat-Nya mungkin tidak selalu membuat kita segera kaya, tetapi selalu membawa damai, kecukupan, kebijaksanaan, dan keselamatan. Dialah satu-satunya Tuhan yang layak kita percayai sepenuhnya.

Doa

Tuhan Yesus, Engkaulah Anak Allah yang berkuasa atas segala kuasa kegelapan. Jauhkanlah aku dari segala bentuk ketergantungan pada kekuatan yang tidak berasal dari-Mu. Ajarlah aku untuk mempercayakan hidup, keluarga, pekerjaan, dan usahaku hanya kepada penyelenggaraan kasih-Mu. Berilah aku hati yang jujur, tekun bekerja, setia berdoa, dan berani meninggalkan segala sesuatu yang tidak berkenan kepada-Mu. Semoga dalam setiap langkah hidupku, aku semakin percaya bahwa hanya Engkaulah sumber berkat, damai, dan keselamatan. Sebab Engkaulah Tuhan dan Pengantara kami, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

M. Unggul Prabowo

Orang biasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *