MELAMPAUI SERTIFIKAT
Renungan Harian
Kamis, 2 Juli 2026
Injil: Matius 9:1-8
“Ketahuilah, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa.” (Mat. 9:6)
Bapak, Ibu, Saudara-saudari terkasih,
Injil hari ini menghadapkan kita pada dua tokoh yang kontras: Yesus dan ahli-ahli Taurat. Yang satu menghadirkan kehidupan, yang lain sibuk mempertanyakan kewenangan-Nya.
Menjadi seorang ahli tentu bukan perkara mudah. Dibutuhkan waktu panjang, ketekunan, perjuangan, bahkan kegagalan demi kegagalan sebelum seseorang diakui sebagai ahli. Di zaman sekarang, keahlian bahkan harus dibuktikan dengan ijazah, sertifikat, atau lisensi. Semua itu baik dan penting. Keahlian memang layak dihargai.
Namun, ada bahaya yang mengintai. Ketika keahlian berubah menjadi kesombongan, seseorang bisa merasa hanya dirinya yang berhak berbicara dan bertindak. Orang lain dipandang tidak layak karena tidak memiliki gelar atau sertifikat. Akibatnya, hati menjadi tertutup terhadap kemungkinan bahwa Allah dapat berkarya melalui siapa saja.
Itulah yang terjadi pada ahli-ahli Taurat. Mereka tidak melihat seorang lumpuh yang memperoleh harapan baru. Mereka juga tidak bersukacita melihat belas kasih Allah bekerja. Yang mereka pikirkan hanyalah, “Siapa Yesus ini sehingga berani mengampuni dosa?” Mata mereka tertuju pada otoritas, bukan pada kasih.
Yesus lalu mengajukan pertanyaan yang menggugah, “Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah?” Pertanyaan ini sesungguhnya mengajak mereka keluar dari sekadar perdebatan konsep menuju kenyataan hidup. Berbicara memang mudah. Membuktikan dengan tindakan jauh lebih sulit.
Bukankah kita pun sering mengalami hal yang sama? Kita mudah berdiskusi tentang pelayanan, kasih, dan pengampunan. Kita pandai menyusun program, membuat konsep, atau mengkritik cara orang lain melayani. Namun, ketika diminta turun tangan mengunjungi orang sakit, mendampingi keluarga yang berduka, menjadi pengurus lingkungan, mengajar anak-anak, atau sekadar mendengarkan teman yang sedang putus asa, tidak sedikit yang memilih mundur.
Pelayanan tidak selalu menuntut sertifikat. Yang pertama-tama dibutuhkan adalah hati yang bersedia dipakai Tuhan. Kemampuan memang penting, tetapi kemauan sering kali lebih menentukan. Ketika seseorang dengan tulus menyerahkan dirinya kepada Tuhan, Tuhan sendiri akan melengkapi dan memampukannya. Banyak pelayan sederhana di keluarga, lingkungan, dan Gereja yang mungkin tidak memiliki gelar tinggi, tetapi melalui mereka justru kasih Allah nyata dirasakan banyak orang.
Orang lumpuh dalam Injil hari ini akhirnya bangkit dan pulang dengan memanggul usungannya. Mukjizat itu terjadi karena ada orang-orang yang mau bertindak, bukan sekadar berbicara. Mereka mengantar sahabatnya kepada Yesus.
Semoga kita tidak menjadi pribadi yang hanya ahli mengomentari, tetapi miskin tindakan. Sebaliknya, marilah kita menjadi murid Kristus yang berani melayani dengan rendah hati. Sebab di tangan Tuhan, kerelaan hati sering kali jauh lebih berharga daripada sederet sertifikat. Ketika kita mau melangkah, Tuhan akan memberikan kemampuan yang kita perlukan untuk menjadi saluran kasih-Nya.
Salam dan berkat Tuhan.

