Satu Roti, Satu Keluarga: Belajar Berbagi di Ambang Masa Prapaskah

Satu Roti, Satu Keluarga: Belajar Berbagi di Ambang Masa Prapaskah

(Bacaan Hari Selasa, 17 Februari 2026: Yakobus 1:12-18; Mzm Tanggapan 94:12-13a,14-15,18-19; Markus 8:14-21)

Di atas perahu, para murid gelisah. Hanya ada satu roti. Satu. Cukup untuk hari itu, tapi tidak lebih. Mereka cemas, mereka hitung-hitungan, padahal Yesus baru saja menggandakan roti untuk ribuan orang.

Mereka lupa bahwa roti bukan soal stok, tapi soal percaya. Yesus tidak sedang mengajar matematika, Ia sedang membuka mata hati: Allah selalu memberi cukup, asal kita mau berbagi.

Roti yang Yesus maksud rupanya tak jauh-jauh dari kehidupan kita sehari-hari. Ia hadir di meja makan keluarga kita, dalam wujud yang paling sederhana.

Ibu yang bangun lebih pagi untuk menyiapkan bekal meski matanya masih berat, ayah yang pulang larut tapi tetap menyempatkan diri bertanya “Hari ini gimana, Nak?”, anak kecil yang membagi kue terakhirnya dengan adik tanpa diminta.

Itulah roti sejati, kasih yang dipatahkan dan dibagikan, yang justru bertambah saat diberikan. Keluarga adalah perahu kecil tempat kita belajar: apakah kita masih sibuk menghitung-hitung kepemilikan, atau sudah berani membagi roti terakhir dengan sesama?

Hari ini kita berdiri di ambang Rabu Abu. Besok, abu akan menempel di dahi kita sebagai tanda bahwa kita manusia, terbatas dan fana. Tapi hari ini, kita masih diberi waktu untuk kembali ke meja keluarga.

Hari ini juga disebut sebagai Mardi Gras atau Selasa lembur. Kita diajak untuk jujur bertanya: sudahkah kita membagi kasih dengan tulus? Atau kita justru sibuk dengan ragi lama, ragi sibuk dengan gawai, ragi menghitung kesalahan orang lain, ragi diam seribu bahasa ketika pelukan justru lebih berarti dari seribu kata?

Roti kecil seperti senyum, pelukan, atau doa malam bersama adalah roti yang tak pernah habis, asal kita mau membagikannya dengan hati yang tulus.

Hari ini juga banyak saudara kita merayakan Imlek. Keluarga-keluarga duduk melingkar di meja bundar yang menjadi simbol keutuhan, berbagi makanan, berbagi doa, berbagi harapan.

Sebagai orang beriman, kita tak perlu merasa asing atau terancam. Justru di sinilah iman kita diuji: mampukah kita melihat kehadiran Allah dalam tradisi lain?

Dalam penghormatan kepada orang tua, dalam semangat kebersamaan tanpa syarat, dalam harapan akan berkat, semua itu adalah cermin dari satu kebenaran yang sama bahwa Allah adalah kasih, dan kasih selalu menyatukan, bukan memisahkan.

Toleransi bukanlah soal melebur identitas, tapi keberanian untuk mengakui bahwa roti kasih Allah tersebar dalam banyak budaya, termasuk dalam lampion merah yang menyala di malam pergantian tahun.

Mazmur tanggapan hari ini menegaskan bahwa Tuhan tidak akan membiarkan kita goyah. Di tengah badai kehidupan, keluarga adalah tempat kita belajar bertahan, bukan karena persediaan yang melimpah, tapi karena ada roti kasih yang terus dipatahkan dan dibagikan.

Hari ini, sebelum abu menempel di dahi, marilah kita kembali ke meja keluarga. Duduk bersama, matikan gawai sejenak, bagikan satu cerita, satu maaf, satu pelukan.

Di sanalah kita menemukan Roti Kehidupan yang sesungguhnya: Kristus yang hadir dalam hal-hal kecil, dalam kebersamaan yang sederhana, dalam kehadiran yang setia, dalam syukur yang tulus.

Doa hari ini:
Tuhan Yesus, roti kehidupan, bukalah mata hati kami untuk melihat-Mu dalam roti kasih yang kami bagikan di keluarga: dalam kehadiran yang setia, dalam maaf yang tulus, dalam doa yang sederhana. Bersihkan kami dari ragi kekhawatiran dan prasangka, agar esok kami masuk padang gurun dengan hati lapang, siap menerima roti-Mu yang tak pernah habis. Amin.

Misi Praktis Hari Ini:
Sebelum matahari terbenam, lakukan satu hal: duduklah bersama anggota keluarga (meski hanya lima menit) tanpa gawai, tanpa urusan lain. Bagikan satu cerita indah hari ini, atau ucapkan satu terima kasih yang tulus.uh remuk, anak yang menawarkan sisa kuenya pada adik.

Alfred Jogo Ena

Alfred Jogo Ena

Seorang editor yang suka menulis dan guru agama di beberapa sekolah menengah di Yogyakarta. Ia juga melayani pelatihan dan konsultasi penulisan buku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *