Masih Boleh Bernyanyi

Masih Boleh Bernyanyi

Penulis : I. Haryo Sumarto

Suara yang dulu terdengar indah kini terdengar berbeda. Namun di balik tiga kali stroke, lahirlah nyanyian syukur yang lebih dalam, mengalun dari hati.

Malam itu, aroma bebek goreng yang gurih masih terbayang jelas. Hampir setiap hari aku menikmatinya, seakan menjadi ritual kecil sebelum tidur. Siapa sangka, kenikmatan sederhana itu justru menumpuk bahaya yang diam-diam mengintai. Kolesterol yang tinggi, darah yang mengental, hingga akhirnya sebuah penyumbatan di otak merenggut kemandirianku. Tubuhku mendadak lumpuh separuh, dan hidupku berubah seketika.

Hari-hari setelah serangan stroke pertama menjadi titik paling berat dalam perjalanan hidupku. Aku yang terbiasa mandiri, kini harus bergantung sepenuhnya pada orang lain. Makan, berpakaian, bahkan sekadar berdiri pun tidak bisa kulakukan sendiri. Rasanya hancur. Namun justru dalam kehancuran itu, aku menemukan sesuatu yang lebih berharga: kesadaran akan rapuhnya manusia, dan betapa agungnya Tuhan.

Aku mulai mengingat kembali masa-masa mudaku. Aku pernah melayani sebagai organis, mengiringi koor yang bertugas dalam Ekaristi. Aku juga memimpin paduan suara, katanya, dengan gaya penuh semangat seperti Yuben Mechta, dan suaraku—begitu orang berkata—mengingatkan pada Pavarotti. Musik bukan sekadar nada, tetapi doa yang bernyanyi. Kini, setelah stroke, suaraku tak lagi sekuat dulu, namun hatiku tetap bernyanyi. Syukur menjadi lagu baruku.

Seperti seruan pemazmur, “Supaya jiwaku memuji-muji Engkau dan jangan berdiam diri; ya TUHAN, Allahku, untuk selama-lamanya aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu” (Mz 30:13). Itulah yang kurasakan kini: meski suara berubah, jiwaku tetap bernyanyi bagi Tuhan.

Dari sakit itu aku makin sadar: tubuh manusia adalah karya agung Sang Pencipta. Organ demi organ bekerja serasi—jantung berdetak, paru-paru bernafas, otak mengatur segalanya. Baru ketika sebagian fungsi itu hilang, aku benar-benar menyadari betapa berharganya setiap detil tubuh. Tubuh bukan sekadar daging dan tulang, melainkan bait Roh Kudus yang harus dijaga.

Aku juga merasakan cinta yang begitu nyata. Istriku, anak-anakku, Keluarga, sahabat, dokter, terapis, bahkan tetangga—semua menjadi tangan Tuhan yang menopangku. Kasih mereka adalah obat yang tidak pernah tertulis di resep, tetapi nyata mempercepat kesembuhanku. Tiga kali stroke pernah menjatuhkanku, namun cinta membuatku bangkit lebih cepat.

Di sinilah aku menemukan makna felix culpa—“kesalahan yang berbahagia.” Istilah teologi ini mengajarkan bahwa bahkan dari kelemahan dan kejatuhan, Allah sanggup menghadirkan berkat yang lebih besar. Pola makan yang salah memang menjerumuskanku pada stroke, tetapi justru dari sakit itulah lahir kesadaran baru, cinta yang semakin dalam, dan iman yang lebih teguh. Apa yang awalnya tampak sebagai kerugian, ternyata menjadi jalan rahmat.

Kini, di usia 65 tahun, aku merayakan bukan hanya panjang umur, melainkan hidup baru, merayakan kasih. Aku akan menjaga tubuh dengan lebih bijak, bersandar hanya pada Tuhan, dan mempersembahkan sisa waktu untuk mencinta dan melayani. Liku yang dulu terasa pahit, kini menjadi pintu menuju syukur.

Hari ini aku bersyukur.
Aku masih boleh hidup,
Masih boleh mencinta;
Masih boleh bernyanyi, meski dengan cara yang berbeda.

Tuhan yang Maha Kasih, aku berlutut di hadapan-Mu dengan hati penuh syukur. Terima kasih atas hidup yang Engkau pelihara, meski penuh liku dan jatuh bangun. Terima kasih atas cinta keluarga, sahabat, dan semua yang Engkau kirimkan untuk menopangku. Di usia ke-65 ini, aku menyerahkan seluruh hidupku kembali pada-Mu: agar setiap detik menjadi pujian, setiap napas menjadi doa, dan setiap langkah menjadi persembahan kasih. Amin. (ihs)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *