Warisan
Sore menjelang petang. Sosok bapak pengamen bertopeng duduk di pinggiran jalan. Saya tergerak menghampirinya. Saya berada di dekatnya. Kami duduk berdampingan.
Bapak pengamen membuka topeng. Penutup wajah dengan ikon tokoh kartun Dora Emon tetap sekadar pemanis tampilannya. Wajah si bapak menyembul. Kulit berkerut tajam dengan kucuran keringat tak bisa menutup mimik muka yang sebenarnya.
Dalam tegur sapa cerita, saya bertanya, berapa lama ia menjalani pekerjaannya.
“Sudah lama, Mas. Lama sekali. Saya lupa kapan pastinya. Yang jelas keempat anak saya sudah mandiri dan bisa cari duit sendiri,” jelasnya lirih. Ketika saya belum lebih jauh bertanya, si bapak tua berkata, “Mereka mengikuti jejak saya, menjadi pengamen bertopeng. Saat ini, mereka mangkal di tiap sudut perempatan penjuru mata angin tiap kota.”***

