Melihat dan Percaya: Iman yang Membahagiakan, Menyejahterakan, dan Menginspirasi
Penulis : Marcurius Unggul Prabowo
Renungan Hari Sabtu, 27 Desember 2025
Bacaan Injil dari Yohanes 20 : 2 – 8
“Lalu masuklah juga murid yang lain, yang telah sampai lebih dahulu ke kubur itu, dan ia melihatnya dan percaya.” (Yohanes 20:8)
Saudara-saudara yang terkasih dalam Kristus,
Hari ini, 27 Desember, Gereja merayakan Hari Raya Santo Yohanes Penginjil, rasul yang dikenal sebagai murid yang dikasihi Yesus. Injil Yohanes Bab 20, ayat 2–8, yang dibacakan hari ini merupakan kesaksian pribadinya tentang pagi Paskah, yaitu tentang kubur yang kosong dan iman yang perlahan bertumbuh dari keheningan.
Yohanes berlari lebih cepat daripada Petrus, namun ia tidak serta-merta masuk ke dalam kubur. Ia menunggu, memberi ruang, lalu masuk dan melihat tanda-tanda sederhana : kain kafan yang terletak rapi. Tidak ada penampakan malaikat, tidak ada suara dari surga. Namun Injil mencatat satu kalimat penting: ia melihat dan percaya. Inilah iman yang lahir dari relasi kasih dan kepekaan batin.
Sebagai penginjil, Santo Yohanes tidak hanya mewartakan kebangkitan Yesus, tetapi juga membagikan pengalaman iman yang membahagiakan. Iman Paskah membawa sukacita yang tenang, bukan karena semua persoalan selesai, tetapi karena harapan telah menang atas kematian. Kebahagiaan sejati lahir ketika kita percaya bahwa Tuhan tetap hidup dan menyertai perjalanan kita.
Iman yang melihat dan percaya juga bersifat menyejahterakan. Yohanes mengajarkan iman yang tidak tergesa-gesa menghakimi, tidak mendahului yang lain, tetapi berjalan bersama. Sikap ini menumbuhkan relasi yang sehat, baik dalam Gereja maupun dalam masyarakat. Gereja yang beriman kepada Kristus yang bangkit adalah Gereja yang menghadirkan kesejahteraan: damai, saling menopang, dan peduli pada yang rapuh.
Lebih dari itu, kesaksian Yohanes adalah iman yang menginspirasi. Dari kubur kosong lahirlah Injil yang hingga kini menguatkan jutaan orang. Iman Paskah mendorong kita untuk tidak tinggal dalam ketakutan, kekecewaan, atau keputusasaan, melainkan berani menjadi tanda harapan di tengah dunia.
Semangat ini sejalan dengan Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang yang mengajak umat menjadi Gereja yang Bahagia, Sejahtera, dan Menginspirasi. Seperti Santo Yohanes, kita dipanggil untuk dekat dengan Yesus, peka membaca tanda-tanda karya Allah, dan menghadirkan iman yang memberi sukacita, menyejahterakan sesama, serta menginspirasi lingkungan sekitar.
Kiranya Injil hari ini meneguhkan kita untuk menjadi murid-murid yang berani melihat dengan iman, percaya dengan kasih, dan bersaksi dengan hidup.
Doa :
Allah Bapa yang penuh kasih, kami bersyukur atas teladan Santo Yohanes Penginjil yang mengajarkan kami untuk melihat tanda-tanda kebangkitan Putra-Mu dan percaya dengan sepenuh hati. Jadikanlah kami Gereja yang bahagia karena hidup dalam harapan, sejahtera karena saling mengasihi, dan menginspirasi karena setia bersaksi tentang kasih-Mu. Bimbinglah langkah kami agar hidup kami memuliakan nama-Mu. Demi Yesus Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.

