Hayati Puasa Dengan Sukacita

Hayati Puasa Dengan Sukacita

OlehvAnsgarius Hari 45 Wijaya

RENUNGAN JUMAT, 20 FEBRUARI 2026

MATEUS 9: 14-15

Teks Bacaan injil hari ini sangat pendek. Hanya 2 ayat saja. Jika dibahasakan dalam kata

kata saat ini dapat dideskripsikan begini:

Saat Yesus duduk bersama murid-murid-Nya dalam suasana yang hangat dan akrab datanglah murid-murid Yohanes Pembabtis dengan wajah serius dan pertanyaan yang menyimpan perbandingan: “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid murid-Mu tidak?”

Di dalam benak mereka tersimpan suatu pemahaman bahwa kesalehan itu semestinya terungkap dalam praktek ritual keagamaan antara lain melalui puasa, bagi kelompok murid Yohanes jelas mengarah kepada puasa wujud dari pertobatan. Mereka memiliki tradisi keagamaan puasa sebagai bagian ritual ungkapan kesalehan kalangan Yahudi.

Suasana diantara para murid menjadi agak tegang. Petrus dan murid-murid lainnya saling berpandangan. Bisa jadi Petrus dan kawan-kawannya berpikir mereka salah jadwal dalam puasa.

Tetapi Yesus menanggapi dengan penjelasan-Nya. Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tentu saja murid-murid Yohanes merasa bingung. Apa maksudnya? Apa lagi Yesus menambahkan keterangan-Nya. “Akan datang waktunya mempelai itu diambil dari mereka…dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Yesus mengajak mereka untuk mulai menyadari…Yang berdiri di hadapan mereka bukan sekadar guru. Ia berbicara tentang diri-Nya sendiri. Dengan perkenalan Diri-Nya Dia mengajak untuk bersukacita, karena hari ini bukan hari perkabungan – tetapi hari pesta pernikahan, dimana Yesus adalah sang Mesias – mempelai laku laki dalam pernikahan itu. Dalam situasi itu tidak seorangpun mestinya melakukannya dengan berpuasa.

Pertanyaan tentang puasa berubah menjadi pewahyuan tentang siapa Dia. Bukan soal ritual… tetapi tentang kehadiran Dia yang membawa sukacita. Maka tidak seorangpun boleh mengungkapkan perkabungan dengan berpuasa. Nanti ada saatnya untuk berpuasa Ketika Dia harus meninggalkan mereka melalui sengsara dan wafat-Nya.

Yesus tidak menolak puasa, tetapi menempatkan puasa pada waktu yang tepat dan sikap hati yang benar di hadapan Allah. Ia membawa sesuatu yang baru — hubungan dengan Allah yang hidup, bukan sekadar mengikuti kebiasaan ritual agama. Dalam teks sebelumnya Dia sudah memebrikan pesan setail kepada murid-murid-Nya – jika berpuasa jangan bermuka muram supaya mendapat perhatian dari orang lain- Syukur-syukur mendapat pujian. Itu kebiasaan lama yang sangat dicela oleh Yesus. Dalam situasi puasa pun para murid diharapkan tetap menghayatinya dengan penuh suka cita!

DOA: Tuhan bersihkan hati kami dalam masa puasa dan pantang ini, agar kami makin dekat dengan-Mu dan dapat menghayati masa Prapaskah ini dengan penuh sukacita.

Jakarta, 18 Februari 2026

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *