Mengelola Kepercayaan, Bukan Memiliki

Mengelola Kepercayaan, Bukan Memiliki

Oleh : Susy Haryawan

Renungan Harian, Jumat, 6 Maret 2026

Saudara terkasih, hari ini kita diajak untuk merenungkan mengenai perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur. Perikop  ini adalah teguran keras bagi siapa saja yang merasa bahwa apa yang dimiliki adalah hasil jerih payahnya sendiri tanpa campur tangan Tuhan. Dalam teks ini, Sang Pemilik kebun telah menyiapkan segalanya: pagar, lubang tempat memeras anggur, hingga menara jaga. Para penggarap hanya perlu bekerja dan memberikan bagian hasil kepada pemilik.

Masalah timbul  ketika para penggarap mulai merasa menjadi pemilik. Keserakahan membutakan mereka, hingga mereka menganiaya hamba-hamba yang diutus, bahkan membunuh putra sang pemilik demi menguasai warisan.

Krisis Identitas: Penggarap vs. Pemilik

Saudara terkasih, dosa terbesar para penggarap bukanlah kemalasan, melainkan ketidaksetiaan dan kesombongan. Mereka lupa bahwa status mereka hanyalah pengelola. Di dunia modern, kita sering terjatuh dalam lubang yang sama. Kita merasa waktu, talenta, harta, bahkan pelayanan di Gereja adalah “milik” kita sepenuhnya.

Ketika Tuhan meminta “buah” dari hidup kita—berupa kerendahan hati, kasih, atau pengorbanan—kita sering kali enggan memberikannya. Kita justru marah atau merasa terganggu ketika Tuhan “menagih” komitmen kita melalui sesama atau situasi yang sulit. Kita menolak “utusan-utusan” Tuhan karena menganggap mereka mengancam kenyamanan dan otoritas pribadi kita.

Batu yang Dibuang Menjadi Batu Penjuru

Saudara terkasih, Yesus mengutip Mazmur 118 untuk menunjukkan bahwa penolakan manusia tidak membatalkan rencana Allah. Yesus adalah “Batu Penjuru” itu. Jika kita membangun hidup di atas batu ini, kita akan kokoh. Namun, jika kita menolak-Nya—seperti para imam kepala dan orang Farisi dalam ayat 45-46—maka “kebun anggur” atau Kerajaan Allah itu akan diambil dari kita dan diberikan kepada mereka yang mau menghasilkan buah.

Peringatan ini sangat relevan bagi kita. Menjadi orang Katolik atau pelayan Tuhan selama puluhan tahun bukan jaminan keselamatan jika hidup kita tidak menghasilkan buah. Kerajaan Allah bukan tentang status atau jabatan, melainkan tentang buah pertobatan dan ketaatan.

Refleksi untuk Kita

Hari ini, mari kita bertanya pada diri sendiri:

  1. Apakah aku masih menyadari bahwa hidupku adalah “kebun anggur” milik Tuhan yang dipercayakan kepadaku?
  2. Buah apa yang sudah kuberikan kepada Sang Pemilik saat Ia datang menagihnya melalui sesamaku?

Tuhan tidak mencari pengelola yang hebat dalam retorika, tetapi pengelola yang setia dalam perkara kecil dan berbuah dalam kasih. Jangan sampai kesibukan kita “menjaga kebun” membuat kita lupa pada “Pemilik Kebun.”

Doa: Allah Mahakasih, Syukur bahwa kami Engkau pilih menjadi pekerja di ladang-Mu, ajari kami tetap setia terutama tahu diri, bahwa kami sekadar pekerja, tidak menjadi tamak, menghakimi saudara kami, ataupun malah ingin menjadi tuan atas apa yang Engkau percayakan kepada kami. Amin

Salam JMJ

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *