Siklus Abadi Cinta Seorang Ibu

Siklus Abadi Cinta Seorang Ibu

Tadi sore sepulang dari Ngawen, Klaten melayat ibu dari teman yang tergambung dalam Paguyuban Flobamora Yogyakarta (PAMOR), saya menulis tentang ibu dengan judul “Menguburkan Mama Lewat Video Call” yang saya upload di Kompasiana. Kemudian, saya membaca postingan Mas Susy di Katolikana (www.katolikana.com/2026/03/04/merajut-kembali-kasih-di-lereng-lawu-menyongsong-temu-darat-nasional-pbmn-2026).

Ada pepatah yang menurut saya indah dan layak dikembangkan menjadi tulisan tentang seorang ibu, yakni: “Amor Gignit Amorem.” Ini layak disematkan kepada seorang ibu, ya termasuk Ibu kita, Anda dan saya. Berbahagialah yang masih bersama sang ibu. Kalau saya, ibu saya sudah menjadi pendoa dari surga bagi perjalanan hidup kami.

Kasih sayang seorang ibu adalah salah satu bentuk cinta yang paling murni dan paling tangguh di dunia. Dalam budaya Romawi kuno, peran seorang ibu dari sebuah keluarga(mater familias) sangatlah dihormati karena keluarga dianggap sebagai pilar utama kehidupan, sebagaimana tercermin dalam ungkapan “Familia supra omnia” yang berarti “Keluarga di atas segalanya”. Seorang ibu adalah poros utama yang menjaga harmoni dan kelangsungan nilai-nilai di dalam rumah tangga tersebut.

Jika ditelaah lebih dalam, cinta seorang ibu bukanlah sekadar perasaan emosional yang pasif, melainkan sebuah tindakan dan kemauan yang kuat. Psikiater M. Scott Peck mendefinisikan cinta yang sejati sebagai kemauan untuk memperluas diri demi memelihara pertumbuhan spiritual diri sendiri maupun orang lain. Dedikasi ini terwujud dalam bentuk perhatian penuh yang diberikan seorang ibu kepada anaknya, yang mana bentuk paling utama dari perhatian tersebut adalah kemauan untuk mendengarkan.

Ketika seorang ibu benar-benar mendengarkan anaknya, ia akan menyadari betapa luar biasanya anak tersebut sebagai seorang individu. Perhatian dan penghargaan dari sang ibu akan membuat anak merasa dirinya sangat berharga. Hal ini membangun kepercayaan diri anak, membuat mereka bersedia mendengarkan arahan ibunya dan memiliki keinginan yang kuat untuk belajar darinya.

Dalam proses pengasuhan yang penuh kesabaran ini, berlaku hukum timbal balik cinta yang sangat indah. Seperti kata pepatah Latin “Amor gignit amorem” (Cinta melahirkan cinta), cinta sejati yang diberikan seorang ibu akan memicu tumbuhnya cinta dan rasa hormat dari sang anak. Hal ini menciptakan apa yang disebut sebagai “siklus ke atas” (upward cycle) dari pertumbuhan; di mana nilai menciptakan nilai, dan cinta melahirkan cinta.

Perjalanan membesarkan anak tentu saja dipenuhi dengan tantangan, kepenatan, dan pengorbanan. Namun, cinta seorang ibu memiliki daya juang yang menakjubkan. Hal ini sejalan dengan pepatah “Amor vincit omnia” yang bermakna “Cinta menaklukkan segalanya”.

Tindakan mendidik dan mencintai selalu membutuhkan keberanian dan kerja keras untuk melawan rasa malas atau lelah demi kebaikan masa depan anak. Dengan kedisiplinan dan kasih sayang yang konsisten, seorang ibu membentuk pandangan dunia anaknya dan mewariskan nilai-nilai kebaikan sejak masa kecil mereka.

Pada akhirnya, cinta seorang ibu adalah anugerah yang terus hidup dan beresonansi melintasi generasi. Kebaikan, kelembutan, dan kekuatan yang ditanamkan oleh seorang ibu akan diteruskan oleh anak-anaknya kelak, membuktikan kebenaran peribahasa “Ut mater, ita filia”, seperti ibunya, begitulah putrinya. Cinta seorang ibu adalah mata air kehidupan yang tak pernah kering, yang terus melahirkan kasih sayang baru di dunia.

Alfred Jogo Ena

Alfred Jogo Ena

Seorang editor yang suka menulis dan guru agama di beberapa sekolah menengah di Yogyakarta. Ia juga melayani pelatihan dan konsultasi penulisan buku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *