RUMAH DAN LIKA-LIKU PENGHUNINYA (habis): Ada Dinamika

RUMAH DAN LIKA-LIKU PENGHUNINYA (habis): Ada Dinamika

Berbeda dari membeli rumah jadi, membangun rumah dari nol memiliki dinamika tersendiri: perdebatan, dialog, dan kompromi karena perbedaan selera dan kepentingan calon penghuninya.
Setelah kami ( saya dan istri), anak kedua, dan ketiga sepakat untuk merenovasi rumah secara total, kesepakatan pertama menentukan konsep/ model/ gaya rumah sesuai kebutuhan dengan luas lahan yang hanya 10x 10 m. Bangunan 5x 10 full ke belakang, samping kiri dan kanan sehibgga harus naik, 50x 10 bagian depan terbuka ( difungsikan sebagai garase dan teras, ruang tamu) . Pilihan disepakati konsep rumah ala villa, gaya minimalis terdiri 4 kamar tidur, dapur plus ruang makan, ruang keluarga, 2 kamar mandi. Supaya privacy terjaga pagar bagian depan cukup tinggi tapi diredam dengan roster biar tidak kaku.
Tahap pertama membangun struktur sepenuhnya urusan kontraktor, kami hanya mengawasi seperlunya. Tahap kedua, finishing ini yang penuh dinamika karena kami sendiri yang memilih bahan- bahannya. Pertama, pemilihan kusen, pintu-pintu dan jendela. Saya lebih suka menggunakan kayu supaya alami, istri tidak setuju dengan alasan udara lembab sehingga banyak rayap, ditambah kalau tidak tahu kualitas kayu nanti bisa menyusut atau bengkok. Disepakati, kamar pakai pintu baja jadi, sementara jendela dengan UPVC. Kami ke toko bangunan bersama untuk memilih keramik, dan bahan- bahan yang lain, ternyata selera memang berbeda, eyel- eyelan sampai ada kesepakatan. Warna tembok supaya netral dipilih putih, kalau berwarna pasti beda selera. Finishing selain menguras energi karena beda selera ( tapi asyik), juga berkembang dan membuat budget membengkak, yang berdampak pada ketegangan finansial. Contoh, masalah burung- burung dan tanaman saya mau ditaruh di mana? Istri dan anak keberatan, saya tetap eman kalau disingkirkan. Solusi, di atas teras dibuat mezanin ( balkon) tempat menaruh burung dan tanaman, sekaligus ruang privacy saya. Risiko, anggaran bertambah . Demikian, setiap detil mengandung dinamika dan dialekta, yang kadang menegangkan tetapi juga mengasyikkan. Ternyata membangun rumah bukan sekadar fisik dan finansial, tetapi melibatkan aspek emosional juga. Ternyata membangun rumah tak jauh beda dari membangun relasi: ada keterlibatan dan partisipasi, ada ketegangan, negoisasi, kompromi, win win solution dan khususnya saling mengampuni. Setelah banting tulang mengerahkan segala sumber daya selama setahun, akhirnya impian itu terwujud. Kog bisa ya? Hanya tunduk syukur yang bisa saya lakukan. Rumah ini merupakan hasil karya dan cipta bersama , semoga bisa menjadi tempat saling berbagi, menua bersama dalam balutan cinta.

Paul Subiyanto

Dr.Paulus Subiyanto,M.Hum --Dosen Bahasa Inggris di Politeknik Negeri Bali ; Penulis buku dan artikel; Owner of Multi-Q School Bal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *