CATATAN – PERTEMUAN PBMN REGIO JAKARTA-BOGOR-TANGERANG-BEKASI
MINGGU 17 MEI 2026 PUKUL 10.30 – 14.00
BAGIAN 2
Mas Nur Widi Jadmiko, dia mengatakan saya datang sendiri karena istri Anastasia Ratih sedang menghadiri acara sekolah anaknya di SMA Van Lith Muntilan. Dia bekerja di Global Schooll sebagai Pendidik. Lanjut Refleksinya tentang Kesehatan. Saya kelihatannya sehat-sehat saja. Tetapi sebenarnya mesin saya (ginjal) tinggal satu saja. Suatu saat ia merasakan nyeri di dada – dan setelah periksa dengan berangkat sendiri ke RS. di Cinere, ternyata sudah ada penyumbatan. Akan ditempuh dengan penanaman lewat pembuluh darah ternyata tidak bisa dan harus dilakukan bypass. Ring di dalam tubuh juga sudah terpasang satu. Tidak mau nambah lagi. Karena ring itu harganya mahal. Rm. Purnomo berkelakar, kalua mau lengkap bisa ditambah sampai 8 ring. Yang lain ada yang memberi komentar harga ring (emas) lagi naik. Dolar naik lagi. Mas Widi mengatakan dokter memberikan komentar tidak ada masalah dengan mesin yang tinggal satu. Dia juga mengatakan rasanya seperti tidak berbeda antara yang dulu masih utuh dengan yang tinggal satu. Tetap penuh semangat melayani di Gereja paroki.
Mas Aditya Danamurti, dia melakukan refleksi yang runtut tentang PBMN. Dia ingat kembali pertemuan pertama kali dengan PBMN yang waktu itu masih bernama Bramin (Brayat Minulyo) pada saat Gathering di Wisma milik Wahana Tata (Fasilitasin dari Mbak Emy, istri mas Andre) di Cisarua. Dia baru masuk ke Jakarta. Ingat pernyataan guru Bahasa Latin di Seminari Mertoyudan, kalau kamu keluar dari Seminari – calon pastor hidupmu akan sengsara. Catatan itu membekas di dalam hati. Perjalanan ke Wahana Tata menjadi driver ibu Titik Minarto bukan tanpa maksud. Dia punya maksud agar bisa dekat dengan Bapak Minarto yang pada waktu itu punya pengaruh di KKG-Kompas. Untuk mencari kemudahan dalam mendapatkan pekerjaan. Do Ut Des. Saya memberi supaya mendapatkan sesuatu. Kenyataannya mencari pekerjaan memang tidak semudah yang dia bayangkan.
Sempat merasakan tidak ada gunanya kumpul-kumpul seperti ini dengan Bramin. Karena tidak ada untungnya. Tetapi dalam perjalanan selanjutnya dimanapun dia ada dalam perjuangannya selalu ketemu dengan senior yang adalah mantan anggota MSF. Pertama kali punya rumah di daerah Bojong Gede – di Pura di dekat Gereja Faustina. Dahulu daerah itu jika hujan listrik pasti mati. Di sana ketemu mas Ratmono yang dari sisi tertentu sudah lebih mapan, sementara saya masih dalam perjuangan. Sehingga saat listrik di rumah mati dia menawarkan agar tidur saja di rumahnya – walaupun sama-sama listriknya mati tetapi serasa mendapat teman – saudara yang lebih senior yang memberikan bimbingan. Saat pindah ke Depok ketemu mas Thomas Suharjono yang lebih senior lagi. Di sini juga mendapatkan bimbingan. Jadi meskipun tidak mendapatkan kemudahan dalam mencari pekerjaan tetapi rasa tidak sendirian itu nyata dialami. Ketemu Saudara. Jadi bergabung dengan PBMN itu bukan untuk mencari pekerjaan. Tetapi darinya seperti mendapatkan perlindungan yang aman. Tidak merasa sendirian dalam berjuang. Sekarang ini saya merasa malu dan minder. Karena di Pamulang bertemu dengan teman PBMN seangkatan Mas Widi yang sangat aktif hidup menggerejanya. Pada hal “mesinnya” tinggal satu. Saya tubuhnya masih utuh. Sementara hingga saat ini saya masih terbebani alasan klasik – merawat anak-anak yang masih kecil. Pilihan untuk tinggal di Pamulang juga sebenarnya pilihan untuk bisa menyekolahkan anak di tempat yang baik di Materdei. Anak-anak yang sekarang sudah sekolah ini juga tidak mudah diajak pergi bersama-sama dengan orangtuanya. Hari ini tadi mereka sudah berangkat bersama-sama dengan teman-temannya untuk bermain bola. Hobbynya. Saya bekerja di bidang Manajerial Redaktur Penerbitan.
Mas Mangun Tiarso, dia mengawali sharingnya dengan kalimat: “Dulu saya MSF – sampai sekarangpun tetap MSF karena saya Maried Sama Frend”. Saya dulu mendampingi anak-anak jalanan di sekitaran stasiun Jatinegara dan Prumpung. Isteri semula membantu mendapingi mereka. Suatu saat saya bertanya kepadanya. Apakah kamu mau menjadi istriku? Dia menjawab: Mau. Maka jadilah. Anak saya ada 2. Yang satu namanya Cantik. Yang satunya lagi namanya Kembang Pagi. Cantik sudah menikah dan tinggal di Medan. Sedang Pagi saat ini tinggal di Bandung. Saya tidak punya apa-apa. Waktu anak saya sekolah di Unpar mengambil Program Studi Hukum (Seperti ibunya). Saya hanya bisa membayar untuk satu semester saja. Tetapi saya mengatakan kepadanya. Daftar saja. Kalau nanti harus berhenti di tengah jalan karena tidak punya uang yang penting kamu sudah pernah merasakan kuliah di perguruan tinggi. Ternyata Tuhan Maha baik. Dari semester 2 dan seterusnya sampai selesai dia mendapat bantuan beasiswa. Selesai Program S-1 dalam waktu 2.5 tahun (5 semester), dengan IPK 3.57 . Judul Skripsinya “Hukum Pidana Mati di Indonesia”. Hari Rabu Pengumuman Yudisium, hari Senen berikutnya oleh Dekannya dia sudah diminta masuk mengikuti program S-2 bidang Hukum juga. Waktu memberi tahu kepada saya : “ Pak saya mau melanjutkan S-2” Saya jawab: “Bapak tidak punya uang”. Tetapi dia mengatakan sekolah yang akan membayar bukan Bapak. Jawab saya. “Puji Tuhan – silahkan”. Studi program S-2 bidang hukum lulus dalam waktu 1.5 tahun (3 Semester). Dengan IPK 3,8. Saat ini dia sedang berproses untuk menjadi dosen di Almamaternya – Universitas Parahyangan Bandung. (Mohon doa agar Kembang Pagi dalam proses pengangkatan sebagai dosen dapat berjalan lancar. Kita doakan Pagi agar kelak menjadi dosen yang dapat menyiapkan ahli-ahli hukum yang berintegritas dalam membangun bangsa) oleh karena itu ia tinggal di Bandung. Suatu saat dia pernah bertanya kepada saya : “ Pak kok tidak ada yang – nembak saya ya?” Jawab saya: “Tenang saja segala sesuatu ada waktunya!”
Bapak Broto Santoso, sharing dimulai dari pengantar : Saya akan menceritakan keberhasilan. Tetapi bukan keberhasilan pribadi atau keluarga. Saya bersyukur dan merasa bangga atas perkembangan PBMN saat ini. Saya ingat akan awal proses paguyuban ini 39 tahun yang lalu. Di Jakarta berkumpul 10 mantan-mantan pastor MSF yang kleleran, mencari pekerjaan. Diantara 10 mantan itu ada satu orang mantan Frater Mas Minarto sudah paling mapan hidupnya karena memiliki jabatan strategis di KKG. Melalui mas Minarto ini sudah banyak mantan sangat terbantu untuk mendapatkan nafkah – mendapatkan pekerjaan untuk menghidupi dirinya.
Saya pernah membuat survey menanyakan kepada istri-istri mantan. Pertanyaannya bagaimana pengalamannya menjadi istri seorang mantan frater/Romo. Saya berasumsi mereka pasti merasa bahagia mendapat pasangan hidup setengah dewa. Jawabannya terbalik 180 derajat. Mereka mengatakan bahwa rata-rata mantan itu egois. Mau menang sendiri. Banyak bicara. Sebaliknya saya katakan seringkali juga istri-istri itu terlalu cerewet. Banyak tuntutan.
Pak Broto memberikan tip komunikasi dalam keluarga seperti berikut: Jika suami terlalu banyak bicara atau marah sebaiknya istri diam saja. Jadi istri yang mendengarkan dengan taat. Begitu sebaliknya jika istri terlalu cerewet sebaiknya suami tidak menanggapi. Diam saja. Jika perlu mengenakan masker untuk menutup mulut. Dalam Bahasa Latin pak Broto menyebutkan satu kalimat. “Medice, cura te ipsum.” Artinya dalam bahasa Indonesia: “Dokter, sembuhkanlah dirimu sendiri.” Atau sering juga diartikan “Seorang dokter tidak dapat menyembuhkan dirinya sendiri.” Mencontohkan dalam komunikasi dengan pasangannya pernah mengatakan begini: Meskipun kamu bersalah kepadaku sebanyak 10 kali aku akan memaafkan kamu sebanyak 20 kali. Dalam komunikasi yang sangat diperlukan adalah kerendahan hati dan mau mendengarkan.
Memperhatikan komunikasi di Grup WA PBMN kadang bisa tertawa sendiri. Ada yang keluar masuk Grup WA – marah dst. Saya anggap yang begitu sudah edan kabeh! Ingat tujuan paguyuban ini dibentuk dengan maksud untuk merawat persaudaraan dapat saling membantu melindungi sebagai teman-sebagai Saudara dalam semangat Keluarga Kudus semangat paguyuban yang terbentuk dari mantan-mantan MSF baik yang pernah tertahbis maupun belum.
Pak Broto mohon maaf karena tidak dapat ikut bergabung dalam pertemuan akbar bulan Oktober nanti klarena pada hari-hari itu pak Broto sedang disibukkan dalam persiapan dan pelaksanakan hajatan menikahkan putri satu-satunya dr. Maria Satya Paramita, MRes.
Sharing selesai mendekati pukul 12.00 siang. Jadi rencana semula sesuai Run-Down acara bisa terlaksana maksimal dari 10.30 Well come drink 11.00 – 12.00 Sharing/ diselingi Karaoke-an, waktunya terserap untuk saring refleksi dan update berita dari anggota PBMN yang hadir. Karaoke belum terlaksana, karena fokus pada sharing sebagaimana saya catat di atas. Karena saya hanya mengandalkan ingatan saya yang terbatas mohon dapat ditambahkan atau dikoreksi jika yang saya tuliskan di atas ada yang keliru. Semoga saja tidak ada yang tidak berkenan di hati.
Selanjutnya masih akan saya tuliskan terkait dengan Perayaan Ekaristi dan homili yang sudah disampaikan Rm. Purnomo. Sesudah misa ada jeda untuk foto dan makan siang bersama dan nanti di akhir masih ada yang tertinggal belum bersharing yaitu Keluarga Mas Kamil Inglan sebagai tuan rumah dan keluarga ibu Riris Sumartaji.
( Berlanjut ke Bagian 3)
Jakarta 19 Mei 2026
Ansgarius Hari 45 Wijaya

