PERUTUSAN DAN PELAYANAN YANG CUMA-CUMA

PERUTUSAN DAN PELAYANAN YANG CUMA-CUMA

Renungan Harian

Kamis 11 Juni 2026 PW Santo Barnabas Rasul

Bacaan: Kis 11:21b-26; 13:1-3 dan Mat10: 7-13

Oleh: FA Adihendro

“Kamu telah menerima dengan cuma-cuma, karena itu berilah dengan cuma-cuma pula!” (Mat 10:8b)

SEBELUM Yesus mengutus para muridnya, Ia memberikan bekal secara cuma-cuma untuk memberitakan Kerajaan Allah, menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, mentahirkan orang, mengusir setan. Kata ‘Cuma-cuma’ indentik dengan ‘Gratis’. Dan kata gratis sangat dengan dengan kata Latin “gratia”, artinya Rahmat. Jadi para murid sebenarnya mendapatkan rahmat khusus dari Tuhan untuk tugas pelayanannya. Itulah sebabnya, Santo Barnabas, sahabat Paulus, sebelum memulaikan karya pelayanannya telah mendapatkan Rahmat melalui penumpangan tangan orang-orang di sekitarnya (Kis 13: 1-3).

Saya akan membagikan pengalaman pribadi saya sebagai organis gereja. Saya bisa bermain organ ketika masih SMP/SMA diajari secara gratis oleh Pak Toro, seorang organis andalan di Paroki Purwosari, Solo sekitar tahun 1970an. Dan ketika masuk Berthinianum, saya dilatih oleh alm Romo Yasso Widharta MSF, kemudian ketika di Skolastikat saya dilatih oleh Romo Purwa Hadiwardaya MSF dan (alm) Romo Hardosuyatno MSF. Dan inilah “rahmat” yang saya terima secara gratis dari Tuhan melalui orang-orang hebat itu! Hingga saat ini pun saya masih dipercaya sebagai menjadi organis gereja di Paroki Duren Sawit dan Pusat Pastoral Samadi di Jakarta Timur.

Suatu kali saya diminta untuk menjadi organis pada Misa Requiem seorang tokoh gereja. Setelah selesai Misa, tetiba ada orang datang menyodorkan amplop ke tangan saya. Secara spontan saya menolak amplop itu. Bukan untuk menyombongkan diri atau menolak rejeki. Namun jawaban saya seperti yang telah dipesankan dalam Bacaan Injil hari ini, “Kamu telah menerima dengan cuma-cuma, karena itu berilah dengan cuma-cuma pula!”

Saudara-saudari,yang dikasihi oleh Yesus Kristus Tuhan,

Sesungguhnyalah segala pelayanan–terlebih untuk Gereja– yang menjadi perutusan kita haruslah seratus prosen gratis, cuma-cuma, tanpa bayaran. Kalau direnungkan secara mendalam, segala kemampuan dan ketrampilan kita itu berasal dari Tuhan. Suatu Rahmat Tuhan yang harus kita syukuri dengan cara berbagi dengan liyan. Tuhan mengutus kita untuk (1) memberitakan Kerajaan Allah, artinya kita diutus untuk membawa kabar sukacita cinta kasih Tuhan kepada orang lain, (2) menyembuhkan orang sakit, bukan hanya penyakit fisik, melainkan juga penyakit ekonomi, psikis, emosi, rasa dendam dan iri, dan luka-luka batin;(3) membangkitkan orang mati – dalam konteks kita, adalah membangkitkan orang yang telah mati harapan, putus asa, gelap mata, dll (4) mentahirkan orang- artinya memulihkan orang yang merasa tersingkirkan, terasing, kesepian, terkucil, dan tidak dimanusiakan; (5) mengusir setan; artinya mengangkat orang yang sedang merasa dibelenggu dosa, memberikan harapan, memberikan solusi dari masalah hidupnya.

Apabila kita secara tulus melayani sepenuh hati, Tuhan akan memberikan bekal dan kemampuan –bahkan memberikan Roh Kudus-Nya—agar kita mampu melaksanakan pelayanan di atas.

Satu hal lagi, gratis atau cuma-cuma itu bukan hanya soal bayaran cuan, tetapi juga pamrih-pamrih lain, misalnya tepuk tangan, pujian, penghormatan, dan penghargaan yang tak wajar. Hal ini akan menjadikan kita gampang tergelincir pada kesombongan rohani.

Doa:

Tuhan Allah, Bapa yang maha baik. Terima kasih atas segala karunia dan berkah-Mu yang boleh dan telah kami terima. Jadikanlah kami layak untuk menjadi saluran Berkah-Mu kepada orang lain, dengan tanpa pamrih, melainkan dengan segala ketulusan hati. Demi Kristus, Tuhan dan Sahabat kami. Amin.

FA Adihendro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *