RIP Del Pur, Selamat Jalan Sosok Unik yang Hangat
RIP Del Pur: Selamat Jalan Sosok Unik yang Hangat
“Wong tahun kog diulangi…”
Kalimat itu selalu muncul di WhatsApp Group (WAG) setiap kali ada anggota yang merayakan hari kelahiran. FX. Purnomo, atau yang akrab kami sapa Del Pur, selalu konsisten dengan jawaban itu. Setiap kali, setiap saat, dan setiap tahun, responsnya tidak pernah berubah. Beliau adalah satu-satunya anggota Paseduluran Brayat Minulya yang bersikap demikian. Kedengarannya memang cuek, namun di balik keunikan itulah letak wujud kehangatan dan keakrabannya yang khas. Bagi kami, celetukan itu justru menjadi hal yang selalu dirindukan.
Jejak Perjumpaan yang Membekas
Kenangan personal saya dengan Del Pur terajut dalam beberapa momen yang tak terlupakan. Perjumpaan pertama terjadi cukup lama, sekitar tahun 2002. Saat itu, saya diajak menghadiri misa oleh para rama yang mempersembahkan misa perdana di Paroki Santo Paulus Miki, Salatiga. Di sanalah sosok Del Pur mulai hadir dalam radar kehidupan saya sebagai pribadi yang ramah.
Pertemuan kedua terjadi sekitar satu dekade kemudian, kisaran tahun 2010. Malam itu, Del Pur dengan setia mengantar keponakan yang kemalaman setelah selesai latihan misdinar. Karena bapak dan ibu ponakan harus bekerja, Del Pur yang melayani untuk mengantar.
Ia sempat bertanya, “Ini Papanya?”
“Bukan Pak, saya omnya. Terima kasih banget sudah menjaga dan mengantar keponakan saya.” Momen sederhana itu memperlihatkan betapa beliau adalah sosok keluarga yang ringan tangan dan penuh perhatian. Belum memanggil Del atau Der karena belum kenal.
Canda Tawa di Tengah Sakit
Lebih dari sebulan yang lalu, kabar mengenai kondisi kesehatannya yang menurun sampai ke telinga saya. Bersama Mas Mono, saya memutuskan untuk membezoeknya di rumah. Saat kami datang, kondisi Del Pur cukup memprihatinkan. Beliau terlihat sangat kesusahan untuk bernapas. Dengan suara lirih, ia meminta sang istri untuk memasangkan tabung oksigen ($O_2$) karena napasnya mulai tersengal-sengal saat mencoba bercerita dan mengobrol ngalor-ngidul bersama kami.
Cukup lama selang oksigen itu terpasang di hidungnya menemani perbincangan kami. Namun, sebuah keajaiban kecil terjadi sore itu. Entah karena gembira mendapat kunjungan, Del Pur tiba-tiba merasa badannya jauh lebih lega. Beliau meminta oksigennya dilepas dan mulai berbicara dengan sangat lancar. Tidak tanggung-tanggung, beliau bahkan meminta pindah dari tempat tidur ke ruang tamu.
Del Pur berkali-kali mengungkapkan rasa syukur dan bahagianya. Kedatangan kami tampaknya menjadi obat psikologis tersendiri. Terbukti, beliau mampu berjalan sendiri ke ruang tamu tanpa menggeh-menggeh atau tersengal-sengal lagi.
Di ruang tamu, suasananya mencair. Beliau merasa jauh lebih baik, berbicara banyak hal, dan dengan bersemangat mengisahkan terapi rokok herbal yang sedang dijalani. Menurutnya, terapi itulah yang membuatnya tidak lagi kesulitan untuk berdiri usai duduk lama.
Mendengar cerita itu, saya langsung menyela bercanda, “Lha, mengapa dua sakitnya tidak diterapi dengan cara yang sama, Der?”
Sambil tertawa lebar, beliau menjawab bahwa semenjak sempat tersedak parah, ia sama sekali tidak berani lagi mengisap rokok.
“Kan bisa diasapi oleh puteranya, Der,” seloroh saya memberi ide.
“Oh iya ya, bisa dicoba deh,” sahutnya sambil terkekeh geli. Gelak tawa itu menjadi salah satu memori terindah yang ditinggalkannya untuk kami.
Bahagia di Surga, Del
Kini, tawa khas itu telah abadi. Selamat jalan menuju rumah Bapa, Del Pur. Bahagia di Surga mulia. Di sana, Anda tidak perlu lagi bantuan tabung oksigen, tidak perlu lagi terapi asap dan rokok, serta tidak ada lagi rasa sakit yang mendera fisikmu. Dan yang pasti, di kekekalan sana, Anda tidak perlu lagi pusing “mengulang tahun”.
Rest in Peace, Del Pur.
Salam JMJ,
Susy Haryawan

