A Cup of Java

A Cup of Java

Jika ada yang pesan “A cup of Java”, itu bukan pesan secangkir pulau Jawa. Bukan pesan sebidang sawah di lereng Merapi. Juga bukan pesan sebuah desa di pulau Jawa yang dikelilingi pohon kelapa dan rumpun bambu. A cup of Java merupakan ungkapan untuk memesan secangkir kopi.

Nama sebuah pulau diubah jadi nama minuman. Kopi arabica dari Jawa sangat terkenal pada abad ke 17 dan dikonsumsi banyak kalangan di Eropa.

Kopi, sesungguhnya bukan anak kandung tanah Jawa. Ia lahir jauh di dataran tinggi Ethiopia. Dari Afrika Timur itu kopi berkelana ke Yaman. Dari Yaman ke pelabuhan-pelabuhan Arab. Dari Arab ke Eropa. Dan dari Eropa, melalui tangan para pedagang yang membawa bendera VOC, kopi akhirnya tiba di Nusantara.

VOC datang sebagai pendatang. Tetapi nasibnya berbeda dari banyak pendatang lain. Ia tidak datang untuk menyesuaikan diri dengan Jawa. Justru Jawa yang dipaksa menyesuaikan diri dengannya.

Sebelum kopi hadir, orang Jawa sudah memiliki dunia minumannya sendiri. Dunia yang akrab dengan rempah-rempah. Dunia yang tumbuh dari tanah dan cuaca yang mereka kenal. Ada wedang jahe yang hangat ketika angin gunung turun pada malam hari. Ada rebusan secang yang kemerahan. Ada ramuan kunyit, temulawak, kencur, dan berbagai dedaunan yang kemudian kita kenal sebagai jamu. Di lereng-lereng pegunungan yang dingin, minuman bukan sekadar pelepas dahaga. Ia adalah penghangat tubuh. Ia adalah bagian dari pengobatan tradisional. Ia adalah bagian dari percakapan antara manusia dan alam. Kopi belum termasuk di dalamnya.

Bibit kopi pertama kali ditanam di Jawa pada akhir abad ketujuh belas. Tujuan utamanya bukan untuk memenuhi cangkir-cangkir penduduk setempat.  Tujuannya : keuntungan. Di Amsterdam, permintaan kopi meningkat. Kedai-kedai kopi bermunculan. Orang-orang Eropa menemukan kesenangan baru dalam cairan hitam yang pahit itu. Permintaan tumbuh. Pasokan harus diperbesar. Dan tanah jajahan dipilih sebagai jawaban.

Maka lereng-lereng Priangan diubah. Pohon kopi ditanam. Petani diperintah menanam tanaman yang bukan bagian dari kebutuhan sehari-hari mereka. Mereka tidak menanam kopi karena memerlukannya. Mereka menanam kopi karena diperintahkan.

Kopi-kopi terbaik berlayar meninggalkan pelabuhan. Menyeberangi samudra. Mengisi gudang-gudang di Eropa. Menjadi minuman kaum borjuis yang mungkin tidak pernah mendengar nama desa tempat kopi itu tumbuh. Orang yang bekerja di bawah matahari Jawa tidak selalu menikmati hasil yang mereka tanam.

Tanah Jawa menghasilkan kekayaan, tetapi kekayaan itu sering kali tidak tinggal di Jawa. Sejarah kolonial sering berulang. Sebuah negeri tidak hanya ditaklukkan oleh senjata. Ia juga ditaklukkan oleh kebutuhan pasar yang jauh. Tanaman dipilih bukan berdasarkan apa yang dibutuhkan penduduk, melainkan berdasarkan apa yang dibutuhkan perdagangan dunia.

Tanah jajahan menjadi kebun. Dan kebun itu bekerja untuk memperkokoh kemakmuran negeri yang jauh.

Lama-kelamaan kopi mulai tinggal di tempat ia ditanam. Petani mencicipinya. Warung-warung menyeduhnya. Orang Jawa menemukan cara mereka sendiri untuk berdamai dengan tanaman asing itu. Kopi dicampur gula kelapa. Kopi dipadukan dengan jahe. Kopi menemani percakapan panjang di gardu desa. Sesuatu yang dahulu datang sebagai perintah akhirnya berubah menjadi kebiasaan.

Pendatang itu perlahan menjadi bagian dari rumah. Mungkin di situlah keanehan sejarah Nusantara. Banyak hal yang datang melalui penaklukan pada akhirnya diserap, diolah, dan diberi makna baru oleh mereka yang pernah ditaklukkan.

Hari ini kita meminum kopi tanpa memikirkan kapal-kapal VOC. Kita menikmati aromanya tanpa membayangkan para petani yang dahulu diwajibkan menanamnya. Kita menyebutnya kopi Jawa seakan-akan ia memang lahir dari tanah ini. Padahal tidak. Maka ketika seseorang di belahan dunia lain memesan “A Cup of Java”, ada ironi yang diam-diam ikut tersaji bersama uap kopi itu. Sebab di dalam cangkir tersebut terkandung perjalanan panjang: dari Ethiopia ke Yaman, dari Yaman ke Amsterdam, dari Amsterdam ke Jawa, lalu kembali lagi ke dunia.

Dan di antara aroma yang mengepul itu, masih tersisa sebuah pertanyaan lama yang belum sepenuhnya hilang: berapa banyak kekayaan sebuah negeri yang sesungguhnya lahir dari tanahnya sendiri, tetapi sejak awal dirancang untuk dinikmati oleh orang lain? (*)

M. Unggul Prabowo

Orang biasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *