Pala dan Ingatan yang Tersisa
Mungkin semua bermula dari aroma. Bukan meriam. Bukan kapal perang. Bukan pula peta-peta yang dibentangkan di meja para petualang Eropa. Melainkan aroma yang mengumbar dari biji kecil bernama pala.
Hari ini ia tergeletak biasa di rak dapur. Pala hanya sekadar penyedap sup atau kue. Tak ada yang istimewa. Jauh berbeda dari empat abad lalu, pala adalah alasan orang-orang menyeberangi samudra, menumpahkan darah dan mempertaruhkan nyawa.
Di Banda, Maluku, pohon-pohon pala tumbuh tanpa mengetahui bahwa mereka sedang mengubah sejarah dunia. Pulau-pulau itu kecil. Laut lebih luas daripada daratannya. Namun justru dari tanah yang sempit itu mengalir kekayaan yang membuat para pedagang Arab, Gujarat, Jawa, Melayu, hingga Eropa berdatangan. Banda tidak kaya karena memiliki tentara yang besar. Ia kaya karena menjadi tempat yang dicari banyak orang.
Sayangnya, kekayaan tak selamanya mendatangkan kenyamanan. Sebaliknya bisa menjadi sumber petaka. Kekayaan Banda sering mengundang tamu. Hanya, tidak semua tamu datang untuk berteman. VOC datang sebagai Perusahaan dagang. Namun rupanya yang mereka inginkan semata bukan perdagangan, melainkan kepastian. Kepastian harga. Kepastian keuntungan. Kepastian bahwa tidak ada orang lain yang ikut menikmati pala Banda selain mereka.
Sayangnya, kepastian semacam itu, biasanya hanya bisa dipelihara melalui jalan kekerasan. Kapal-kapal dilabuhkan. Benteng dibangun. Senapan dimuat. Tahun 1621 menjadi penanda sebuah luka yang panjang. Banda ditaklukkan. Penduduk setempat tercerai-berai. Sebagian terbunuh, yang lain melarikan diri, dan tak sedikit yang hilang.
Pala tetap tumbuh. Tetapi tanah yang menumbuhkannya tidak lagi sepenuhnya milik mereka yang lahir di sana. VOC berhasil menguasai pala. Mereka menguasai laut. Mereka menguasai harga. Bahkan mereka menguasai pulau-pulau yang jaraknya ribuan kilometer dari Amsterdam.
Namun, sejarah mencatat, mereka tidak mampu menguasai satu hal : keserakahan mereka sendiri. Monopoli butuh biaya. Tentara wajib dibayar. Benteng harus dipelihara. Kapal musti terus berlayar. Di saat yang sama, korupsi menggerogoti tubuh perusahaan dari dalam seperti rayap yang diam-diam memakan kayu terbaik. VOC runtuh bukan karena musuh yang lebih kuat, melainkan karena beban yang diciptakannya sendiri.
Kejayaan tidak selalu kalah oleh perlawanan dari luar. Kadang ia kalah oleh ketidakmampuannya memahami batas. Kepulauan Banda jadi pengingat: tidak semua yang bisa dikuasai akan bisa dimiliki selamanya.

