AMBIL BAGIAN DALAM KODRAT ILAHI
Oleh: Thomas Suhardjono
Renungan Harian
Senin, 01 Juni 2026:
12:1 Lalu Yesus mulai berbicara kepada mereka dalam perumpamaan: “Adalah seorang membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. 12:2 Dan ketika sudah tiba musimnya, ia menyuruh seorang hamba kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima sebagian dari hasil kebun itu dari mereka. 12:3 Tetapi mereka menangkap hamba itu dan memukulnya, lalu menyuruhnya pergi dengan tangan hampa. 12:4 Kemudian ia menyuruh pula seorang hamba lain kepada mereka. Orang ini mereka pukul sampai luka kepalanya dan sangat mereka permalukan. 12:5 Lalu ia menyuruh seorang hamba lain lagi, dan orang ini mereka bunuh. Dan banyak lagi yang lain, ada yang mereka pukul dan ada yang mereka bunuh. 12:6 Sekarang tinggal hanya satu orang anaknya yang kekasih. Akhirnya ia menyuruh dia kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. 12:7 Tetapi penggarap-penggarap itu berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita. 12:8 Mereka menangkapnya dan membunuhnya, lalu melemparkannya ke luar kebun anggur itu. 12:9 Sekarang apa yang akan dilakukan oleh tuan kebun anggur itu? Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, lalu mempercayakan kebun anggur itu kepada orang-orang lain. 12:10 Tidak pernahkah kamu membaca nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: 12:11 hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.” 12:12 Lalu mereka berusaha untuk menangkap Yesus, karena mereka tahu, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu. Tetapi mereka takut kepada orang banyak, jadi mereka pergidan membiarkan Dia. (Mrk 12:1-12).
Di hadapan para imam kepala, ahli Kitab dan penatua adat, Yesus menyampaikan perumpamaan tentang penggarap kebun anggur itu. Mereka statusnya adalah penyewa atau penggarap saja, bukan pemilik atau penguasa atas kebun anggur. Tapi tindakan mereka seolah-olah yang paling hebat, paling berkuasa. Mereka belum sadar bahwa Yesus itu anak Allah, ahli waris kerajaan Allah, yang menjadi batu penjuru, atau yang berkuasa menentukan hidup dan mati mereka.
Yesus adalah Anak Allah, Ahli Waris Surga
Membaca perumpamaan ini saya ingat kisah Hawa dan Adam di Taman Firdaus, yang dibujuk oleh Setan, agar menuntut hak mereka sebagai ahli waris Allah, karena manusia diciptakan sesuai dengan citra-Nya. “Pada waktu kamu memakannya, matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah” (Kej 3:5). Hawa dan Adam akhirnya makan buah terlarang, dan jatuh ke dalam dosa. Hawa dan Adam tidak sadar bahwa kodrat mereka sekedar ciptaan, bukan pemilik Surga. Maka Allah menghukum mereka, sampai Allah mengutus Anak-Nya yang terkasih, untuk membebaskan manusia dari belenggu dosa. Anak Allah itulah yang disebut sebagai “batu penjuru”, bila orang mendirikan sebuah bangunan (Kis 4:11).
Terkadang kita berpikiran bahwa dengan teknologi yang semakin canggih, dengan apa yang disebut Artificial Intelligence, semua bisa diatur dengan mudah, bahkan manusia bisa mengendalikan alam raya di sekelilingnya, bahkan mengendalikan hidup dan matinya manusia lain. Kita bisa melupakan kodrat manusia, merasa seolah-olah memiliki kodrat ilahi, yang berkuasa atas sesama ciptaan. Sewenang-wenang mengambil keputusan, seolah-olah demi kesejahteraan manusia, ternyata justru menindas rakyat jelata. Kita sering lupa, bahwa kita hanya bisa melihat sesuatu dari satu sisi saja, tidak bisa tembus pandang. Kita lupa, bahwa orang lain melihat kebenaran dari sisi mereka, yang sulit kita terima. Seolah-olah kebenaran hanya ada pada diri kita sendiri.
Eling Lan Waspodo
Yesus menyindir para imam, ahli Kitab dan para sesepuh adat, agar tidak hanya melihat kenyataan dari perspektif mereka sendiri. Tidak hanya melihat dengan kacamata kuda. Mereka perlu mendengar dan menerima masukan dari orang lain yang melihat dari perspektif berbeda. Mereka perlu melihat kenyataan dari segala sudut pandang; sehingga mereka memahami kebenaran yang sesungguhnya. Itulah yang disebut kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih akan saudara dan kasih akan semua orang (2Ptr 1:7). Dengan cara itulah mereka mengambil bagian dalam kodrat ilahi, pantaslah manusia diciptakan sesuai dengan citra-Nya.
Menyadari status dan posisi kita sebagai manusia ciptaan, sadar diri, “eling”, adalah modal awal kita boleh menyandang status citra Allah. Selalu ingat kelebihan dan kekurangan diri kita sebagai manusia, yang tidak sempurna. Selanjutnya kita menyadari bahwa di sekeliling kita ada manusia yang lain, ada kondisi yang terbentuk tanpa kendali kita; ada suatu situasi yang kadang mendukung apa yang kita inginkan, tapi juga kadang menghalangi langkah yang akan kita tempuh. Modal kedua adalah siap menghadapi segala sesuatu yang akan terjadi, berjaga-jaga, “waspodo”; seperti 5 gadis bijaksana yang membawa minyak selain lampu bernyala untuk menyambut kedatangan pengantin (Mat 25:4). Pesan “eling lan waspodo” adalah modal awal agar kita mampu ambil bagian dalam kodrat ilahi Yesus Kristus.
Marilah berdoa,
Yesus, Anak Allah yang mahatinggi,
Engkau telah diutus ke tengah-tengah kami, untuk menyelamatkan kami dari kecenderungan berbuat dosa. Curahkanlah Roh Kudus-Mu ke dalam jiwa dan raga kami, agar setiap saat kami sadar dan berjaga-jaga, eling lan waspodo, dalam melaksanakan tugas pelayanan kami sehari-hari. Semoga kami menjadi hamba yang setia, agar pada akhirnya kami mampu mengambil bagian dalam kodrat ilahi, sebagaimana yang Engkau ajarkan kepada kami. Sebab Engkaulah Tuhan dan pengantara kami.
Amin.

