ROMO BUSET : Imam yang Membuat Banyak Orang Merasa Dicintai

ROMO BUSET : Imam yang Membuat Banyak Orang Merasa Dicintai

“Ada imam yang dikenang karena kecerdasannya. Ada yang dikenang karena karya-karya besarnya. Ada pula yang dikenang karena berhasil membangun gedung atau lembaga. Namun ada imam yang dikenang karena kehadirannya membuat setiap orang merasa diterima, dihargai, dan dikasihi. Romo Andreas Setyo Budi Sambodo, Pr, yang akrab disapa Romo Buset, adalah salah satunya.”

Jumat pagi, 3 Juli 2026, pukul 08.06 WIB. Saya mengirim pesan whatsapp kepada seorang sahabat yang bekerja di Rumah Sakit St. Elisabeth Semarang.
“Selamat pagi. Salam sehat. Kabarnya Romo Buset di ICU ya?”
Tak sampai semenit kemudian, jawaban datang.
“Meninggal baru saja, Mas.”
Saya membaca ulang pesan itu beberapa kali. Seolah-olah saya salah membaca.
“Romo Buset meninggal?”
“Iya, baru saja.”

Saya terhenyak. Mata mulai berkaca-kaca. Sedih. Haru. Tidak percaya. Dalam hitungan menit kabar itu menyebar ke berbagai grup WhatsApp dan media sosial. Hari itu, lonceng duka berdentang di hati begitu banyak orang. Banyak yang menulis, “Saya tidak percaya…”, atau “Romo yang baik itu sudah dipanggil Tuhan.”

Usianya baru lima puluh tahun. Terlalu muda menurut ukuran manusia. Namun Tuhan selalu mempunyai ukuran yang berbeda dengan manusia. Saya bertanya dalam hati, mengapa begitu banyak orang merasa kehilangan? Semakin saya mengenang Romo Buset, semakin saya menemukan jawabannya. Ia tidak dikenang pertama-tama karena jabatan, kepandaian, atau karya-karya besarnya. Ia dikenang karena membuat banyak orang merasa dicintai.

Banyak orang mengenalnya sebagai Romo Buset. Julukan yang terdengar jenaka itu justru menggambarkan kepribadiannya. Ia mudah tertawa. Gemar bercanda. Pandai mencairkan suasana. Dan yang paling penting, ia tidak pernah membuat orang kecil merasa kecil.

Pernah suatu ketika Romo Buset menceritakan sebuah pengalaman yang selalu mengundang tawa. Saat itu beliau mengendarai sepeda motor menuju sebuah acara. Karena khawatir terlambat, motornya melaju sedikit lebih cepat. Ketika lampu lalu lintas berubah merah, beliau nekat menerobos. Tak jauh di depan, seorang polisi lalu lintas sudah menunggu.
“Silakan menepi, Pak.”
Setelah melihat SIM dan mengetahui profesinya sebagai imam, polisi itu bertanya,
“Romo ya?”
Beliau mengangguk. Ternyata polisi itu juga seorang Katolik. Alih-alih memarahi, polisi itu mengingatkan agar Romo selalu menaati rambu demi keselamatan. Sebelum berpisah ia berkata,
“Dulu saya sebenarnya ingin menjadi imam, Romo. Tapi Tuhan punya rencana lain.”
Romo Buset spontan menjawab sambil tersenyum,
“Saya juga dulu ingin jadi polisi. Tapi badan saya kurang tinggi. Akhirnya ya… jadi imam saja.”
Semua tertawa.
Begitulah Romo Buset.Ia mampu mengubah peristiwa sederhana menjadi cerita yang menghangatkan hati.

a
Romo Buset bersama tim singer Familia Christi, Paroki Karangpanas, Semarang. Credit Foto : Santo Tanggono

Romo Buset lahir di Sragen pada 19 Juli 1975 dan tumbuh di Masaran. Siapa pun yang pernah diajak mampir ke rumah keluarganya di Masaran tentu pernah mendengar kisah-kisah masa kecilnya. Dulu gereja berada cukup jauh dari rumah. Orang tuanya harus bergantian membonceng beberapa anak menuju gereja. Kadang Romo Buset harus rela tinggal di rumah menunggu giliran.
Ia juga pernah bercerita bagaimana masa kecilnya akrab dengan sungai. Bahkan suatu ketika hampir hanyut terbawa arus. Pengalaman-pengalaman sederhana itu tampaknya membentuk dirinya menjadi pribadi yang bersahaja dan dekat dengan rakyat kecil.

Sebelum masuk seminari, ia menempuh pendidikan di Universitas Sanata Dharma dan sempat bekerja sebagai guru. Ketika banyak orang mulai membangun karier, ia justru mendengar panggilan Tuhan. Bukan keputusan yang mudah.
Ia harus kembali menjadi seminaris bersama adik-adik yang sebagian besar baru lulus SMA. Perbedaan usia, cara berpikir, selera humor, bahkan kebiasaan sehari-hari tentu menjadi tantangan tersendiri. Namun semua proses itu dijalaninya dengan setia.

Pada 27 Juni 2007 ia ditahbiskan menjadi imam Keuskupan Agung Semarang. Sejak hari itu hidupnya tidak lagi menjadi miliknya sendiri. Ia menjadi milik Gereja.

Dalam berbagai penugasan pastoral di Paroki Babarsari, Gamping, Magelang, Campus Ministry Atma Jaya, Ketapang, Ganjuran, Karangpanas, Plamongan Indah, hingga Boyolali, Romo Buset selalu menunjukkan corak pelayanan yang sama.

Ia lebih senang berada di tengah umat daripada duduk di balik meja. Ia menikmati berbincang setelah misa. Ia menyapa umat dengan menyebut nama mereka. Ia mendengarkan lebih banyak daripada berbicara. Sebelum mewartakan Injil, ia memilih menjadi sahabat.

Semua penugasan diterimanya dengan sukacita. Termasuk ketika diutus menjadi misionaris di Ketapang. Baginya, imam tidak memilih tempat pelayanan. Imam diutus. Ia imam yang setia.

Nama Romo Buset semakin dikenal luas melalui pendampingannya kepada Komunitas Jomblo Katolik. Dengan penuh humor ia dijuluki “Presiden Jomblo Katolik.” Atau Imam penuh Pesona. Namun siapa pun yang mengenalnya tahu, komunitas itu bukan sekadar tempat berkumpul para lajang. Romo melihat banyak orang muda mengalami kesepian, kehilangan harapan, bahkan merasa minder karena belum menemukan pasangan hidup.
Ia tidak menghakimi. Ia mendampingi. Ia mengubah rasa malu menjadi persaudaraan. Mengubah kesendirian menjadi komunitas. Mengubah kecemasan menjadi harapan. Bahkan tidak sedikit pasangan suami istri yang dipertemukan melalui komunitas ini. Slogannya sederhana tetapi selalu mengundang senyum.
“Aku Katolik, kamu Katolik… yuk kanonik!”

Romo Buset di tengah para peziarah/peserta rekoleksi, di gereja Boyolali.

Bila ada kelompok yang paling kehilangan Romo Buset, barangkali mereka adalah anak-anak. Di Paroki Karangpanas, setiap Misa Minggu beliau hampir selalu mengundang anak-anak maju ke depan altar sebelum homili dimulai.
“Siapa yang mau jadi imam?”
“Siapa yang mau jadi suster?”
Kadang ada anak perempuan polos mengangkat tangan ingin menjadi imam. Beliau tidak pernah menertawakannya. Dengan sabar ia menjelaskan sambil tetap menghargai semangat anak itu.

Sesudah itu anak-anak diajak bernyanyi. Yang berani tampil mendapat hadiah kecil. Bukan hadiahnya yang mereka ingat. Melainkan perhatian seorang Romo yang membuat mereka merasa dicintai. Banyak imam pandai berkhotbah kepada orang dewasa. Namun tidak semua imam mampu membuat anak-anak jatuh cinta kepada Gereja.
Romo Buset memiliki karunia itu.

Ia juga sangat dekat dengan para misdinar. Mereka sering diajak berjalan-jalan. Ke rumah keluarganya di Masaran. Ke Museum Sangiran. Ke Seminari Mertoyudan. Di sana beliau menunjukkan kamar yang dulu ditempatinya semasa menjadi seminaris. Anak-anak dipersilakan bermain sepak bola, melihat ruang musik, perpustakaan, dan lingkungan seminari. Tanpa banyak ceramah, Romo sedang menanam benih panggilan.

Ia juga diam-diam membantu biaya pendidikan beberapa anak. Mendampingi mereka yang bercita-cita menjadi imam. Semua dilakukan tanpa pernah ingin dipuji.

Beberapa bulan sebelum beliau berpulang, kami dari Paguyuban Familia Christi sowan ke Pastoran Boyolali. Kami ingin merancang kegiatan Ziarek, ziarah dan rekoleksi. Saat tiba di pastoran, Romo tidak ada. Kami bertanya kepada petugas administrasi. Tidak ada.Telepon tidak dijawab.
Seseorang berkata, “Coba ke TK belakang gereja.” Benar. Di sanalah kami menemukan beliau. Sedang bersama anak-anak TK. Saya tersenyum sendiri. Romo yang sibuk itu ternyata memilih mengawali harinya dengan mengunjungi anak-anak. Ketika kami berdiskusi mengenai rute ziarah, beliau mengusulkan agar kami singgah ke Masaran dan melanjutkan ke Taman Doa Ngrawoh.

Yang membuat kami terharu, beliau sendiri bersedia mendampingi dan memimpin Misa. Beberapa hari sebelumnya saya melihat unggahan beliau baru pulang dari Korea. Masih sempat bermain drama bersama para seminaris di Hotel PO Semarang. Saya sempat berpikir, “Apa Romo tidak lelah?”
Tetapi ketika bertemu, beliau tetap tersenyum. Tetap penuh semangat. Homilinya tetap segar. Humornya tetap mengalir. Selesai Misa pun beliau tidak bisa lama berbincang. Masih ada Misa berikutnya pukul tujuh malam. Begitulah hidup seorang gembala. Selalu berjalan. Selalu melayani.

Kasih Romo Buset juga hadir di komunitas-komunitas yang mungkin tidak pernah dibayangkan banyak orang. Beliau menjadi pendamping komunitas touring. Kita kita ini. Beliau meneruskan karya yang sudah dimulai oleh Swargi Romo Hadi.

Beliau ikut touring. Menemani. Mendoakan. Mendengarkan. Bagi beliau, sepeda motor hanyalah alat. Yang utama adalah persaudaraan. Mungkin karena itulah, hari ini begitu banyak anggota komunitas touring merasa kehilangan. Kami berkumpul bukan sekadar mengenang seorang pastor. Kami mengenang seorang sahabat.

Jika orang bertanya, Apa warisan terbesar Romo Buset? Jawabannya pasti bukan gedung. Bukan jabatan. Bukan proyek besar. Tetapi, warisannya adalah manusia. Anak-anak yang semakin mencintai Gereja. Misdinar yang mulai bermimpi menjadi imam. Kaum muda yang menemukan harapan. Para jomblo yang akhirnya dipertemukan dengan pasangan hidup. Keluarga yang diperdamaikan. Dan orang-orang yang kembali merasa dikasihi Tuhan. Itulah warisan seorang gembala.

Kita boleh bertanya pada diri kita sendiri apa warisan romo buset pada diri kita.

Romo Buset telah berpulang. Rasanya baru kemarin beliau dengan ktia saling berbincang. Baru kemarin kita touring, merayakan ulang tahun tahbisan dan merancang harapan. Baru kemarin kami tertawa bersama.

Mungkin memang begitulah seorang imam.Ia tidak pernah benar-benar pergi. Ia tetap hidup dalam doa anak-anak yang pernah dipeluknya. Dalam senyum para misdinar yang pernah dibimbingnya. Dalam keluarga yang pernah didampinginya. Dalam para jomblo yang dipertemukannya. Dalam umat yang pernah dibuatnya merasa diterima.

Jika semakin banyak orang menuliskan pengalaman mereka bersama Romo Buset, saya yakin akan lahir sebuah mozaik indah tentang seorang imam yang menghadirkan Kristus dengan cara yang sederhana. Mungkin kelak kisah-kisah itu dapat dibukukan, agar generasi berikutnya mengenal bukan hanya siapa Romo Buset, tetapi bagaimana ia menghidupi imamatnya.

Sebab pada akhirnya, seorang imam tidak diukur dari panjangnya usia, melainkan dari seberapa banyak kasih Allah yang berhasil ia salurkan kepada sesamanya.
Selamat jalan, Romo Buset. Terima kasih telah menjadi wajah Kristus bagi begitu banyak orang.

“Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia… masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (Mat. 25:23)

Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad. Amin.

M. Unggul Prabowo

Orang biasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *