Merpati

Merpati

Di tengah perjalanan City Walk, pandangan saya tertumbuk pada seorang anak yang datang mengendarai sepeda motor. Di boncengannya tergantung sebuah kandang kecil berisi tiga ekor burung merpati. Ia menghentikan motornya di sebuah tanah lapang, membuka kandang, lalu mengeluarkan dua ekor burung.

Dengan kedua tangannya, ia mengayunkan tubuh burung itu perlahan ke depan, seolah memberi dorongan agar sayap-sayap kecil itu segera menangkap angin. Seketika kedua merpati mengepak kuat, membubung ke langit, lalu melesat menuju arah yang telah mereka kenal. Anak itu memperhatikan lintasan terbang keduanya beberapa saat. Setelah yakin keduanya melaju dengan baik, ia berjongkok kembali, mengambil seekor merpati yang masih tersisa, lalu mengulang gerakan yang sama.

Pemandangan sederhana itu saya jumpai ketika berjalan di trotoar Jalan Barito, di sisi tanggul Sungai Banjir Kanal Timur, dalam rangkaian City Walk #4 pada Minggu, 12 Juli 2026. Rute perjalanan dimulai dari Gereja Hati Yesus Yang Mahakudus Karangpanas, menuju Gereja Mater Dei Lamper Sari, dan berakhir di Gereja Santo Yusuf Gedangan. Jalan Barito hanyalah satu etape dari perjalanan panjang itu. Namun justru di sanalah saya menemukan sepotong kenangan masa kecil yang tiba-tiba hidup kembali.

Melepas burung merpati seperti itu, dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah ‘nggabur dara’. Kata ‘nggabur’ berarti membawa burung ke tempat yang cukup jauh, kemudian melepaskannya agar pulang sendiri ke kandangnya. Tanpa penunjuk arah. Tanpa bekal. Tanpa ada yang menuntun. Hanya mengandalkan naluri, ingatan, dan kesetiaannya pada rumah.

Adegan itu membawa ingatan saya melompat sekian tahun lalu ke belakang, ketika masih duduk di bangku akhir sekolah dasar.

Saya tumbuh di kawasan Puspanjolo. Tak jauh dari rumah terdapat sebuah lapangan yang menjadi pusat kehidupan anak-anak kampung setiap sore. Di sanalah kami bermain bola voli, berlarian mengejar layang-layang ketika musim angin tiba, atau sekadar berkumpul menyaksikan para penghobi burung merpati memainkan burung-burung kesayangan mereka.

Di mata anak-anak, permainan nggabur dara selalu terasa mengasyikkan. Burung yang diterbangkan biasanya merpati jantan. Latihannya dilakukan bertahap. Mula-mula hanya dilepas sekitar seratus meter dari kandang. Jika sudah terbiasa pulang, jaraknya diperpanjang menjadi satu kilometer, lalu tiga kilometer, bahkan lima kilometer atau lebih.

Beberapa kali saya mendapat tugas membawa merpati untuk digabur. Pernah dari kawasan Simpang Kalibanteng, pernah pula dari Jalan Hanoman di Krapyak, yang waktu itu masih dianggap pinggiran Kota Semarang. Tugasnya sederhana: membawa burung sejauh mungkin, lalu melepaskannya agar kembali ke rumah.

Satu pertanyaan yang membuat saya penasaran. Mengapa lokasi nggabur hampir selalu berada di sebelah barat Puspanjolo? Belakangan saya baru memahami alasannya. Jika burung dilepas dari arah timur, misalnya dari kawasan Tugu Muda, tidak sedikit yang justru hilang di perjalanan. Rupanya, di bantaran timur Sungai Banjir Kanal Barat dahulu terdapat sejumlah pedagang burung. Mereka memiliki berbagai cara untuk memancing perhatian merpati yang sedang melintas. Burung yang semula terbang pulang ke kandangnya bisa tergoda turun dan akhirnya tak pernah kembali.

Selain arah pelepasan, para penghobi merpati juga sangat memperhitungkan arah angin. Jika angin bertiup kencang dari timur ke barat, biasanya acara nggabur ditunda. Burung memang mampu terbang cepat, tetapi mereka enggan menghabiskan tenaga melawan hembusan angin yang terlalu kuat. Penghobi burung tahu, kesabaran sering kali lebih penting daripada memaksakan latihan.

Yang juga menarik, ketika merpati jantan diterbangkan, merpati betina tetap tinggal di lapangan. Dialah “magnet” yang memanggil pulang pasangannya.

Saat burung jantan terlihat melintas tinggi di langit, pemilik akan mengangkat merpati betina sambil mengibas-ngibaskan tubuhnya perlahan. Sayap betina mengepak naik turun seperti kipas kecil yang melambai ke udara, seolah mengirim pesan yang hanya dipahami oleh pasangannya.

Jika burung jantan terbang terlalu tinggi hingga sulit terlihat, pada pangkal ekornya biasanya dipasang alat kecil yang bisa mengeluarkan bunyi, yang oleh para penghobi disebut ‘sowangan’. Dari kejauhan terdengar suara khas yang menandakan burung sedang mendekat.

Begitu menangkap isyarat dari merpati betina, burung jantan yang semula hanya tampak sebagai titik kecil di langit tiba-tiba melipat kedua sayapnya rapat ke badan. Dalam hitungan detik ia menukik tajam, melesat bagai anak panah yang dilepaskan dari busurnya.

Kecepatan itu luar biasa. Tubuhnya seolah dijatuhkan lurus dari langit oleh gaya gravitasi. Udara membelah bulu-bulu sayap, menghasilkan suara mendesing yang khas. Menjelang menyentuh sasaran, ia membuka kembali kedua sayapnya untuk mengurangi kecepatan, lalu mendarat dengan presisi di punggung atau dekat merpati betina. Saya selalu terpukau menyaksikan manuver itu. Cepat, indah, dan nyaris tanpa kesalahan.

Karena itu saya sering menghindari tugas nggabur dara. Apalagi bila diminta ke lokasi pelepasan yang cukup jauh. Karena kecepatan terbang burung merpati yang saya lepas jauh lebih cepat daripada sepeda yang saya tumpangi. Burung merpati sudah tiba duluan.

Kadang saya  tiba di lapangan, merpati yang saya bawa sudah lama pulang ke kandang. Bahkan para penghobi dan teman-teman juga sudah pulang ke rumah masing masing.

Sepertinya rumah merpati bukan sekadar tempat ia berasal, melainkan tempat yang selalu dikenang. Sejauh apa pun ia diterbangkan, setinggi apa pun ia membubung, selalu ada kerinduan yang menuntunnya kembali. Tetapi itu perlu latihan. Bukan hanya latihan kemampuan terbang, melainkan kesetiaannya untuk pulang. Sekalipun tahu jalan pulang, ada saja tantangan, gangguan dan godaan dalam perjalanan menuju pulang.(*)

M. Unggul Prabowo

Orang biasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *