Sepur
“Spoor” adalah kata dalam bahasa Belanda yang berarti jalur rel kereta api. Dari kata itulah masyarakat Jawa kemudian mengenalnya sebagai sepur dan numpak sepur….
— —
Beberapa hari lalu sebuah flyer Railway Adventure mampir ke WAG saya. Rasanya itu bukan sekadar undangan. Lebih tepat disebut godaan. Godaan untuk pulang sejenak pada kenangan.
Ambarawa bukan tempat yang asing bagi saya. Eyang buyut saya tinggal di Bejalen, sementara beberapa saudara tinggal tidak jauh dari Stasiun Ambarawa. Sewaktu kecil, rel kereta api bukan sekadar tempat lewatnya lokomotif uap. Rel itu menjadi jalan pintas menuju makam leluhur di Tambakboyo. Berkali-kali saya berjalan menyusuri bantalan rel dari Ambarawa menuju arah Tuntang. Dulu rasanya biasa saja. Anak-anak memang sering mengubah rel kereta menjadi jalur petualangan.
Namun berjalan menyusuri lintasan Ambarawa–Bedono jelas menawarkan pengalaman yang berbeda. Jalur inilah yang terkenal dengan rel bergeriginya (rack railway). Di beberapa titik kemiringan lintasan mencapai lebih dari enam persen, terlalu curam bagi lokomotif biasa. Karena itu dipasang rel bergerigi di tengah agar lokomotif dapat “mencengkeram” tanjakan. Teknologi yang lebih dari seabad lalu sudah diterapkan di lereng pegunungan Jawa.
Konon, jalur bergerigi yang masih dioperasikan secara rutin kini tinggal sedikit di dunia. Indonesia menjadi salah satu negara yang masih memilikinya. Sebuah kebanggaan yang sering kali justru lebih dikenal wisatawan mancanegara daripada kita sendiri.
Rel itu dibangun oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM), perusahaan kereta api swasta Hindia Belanda. Jalur pegunungan Ambarawa–Bedono mulai beroperasi pada tahun 1905 sebagai bagian dari lintasan panjang Semarang–Ambarawa–Magelang–Yogyakarta.
Membangun rel di daerah berbukit tentu bukan pekerjaan ringan. Selain melibatkan tenaga lokal dalam jumlah besar, proyek ini juga menggandeng kontraktor-kontraktor ternama pada zamannya, termasuk pengusaha keturunan Tionghoa Ho Tjeng Toe. Nama itu kemudian lebih dikenal melalui industri cerutu Rizona di Temanggung, sebuah merek yang masih bertahan hingga sekarang. Rupanya, rel kereta api tidak hanya menghubungkan kota dengan kota. Rel juga menghubungkan satu usaha dengan usaha lainnya.
Sesudah VOC dibubarkan pada penghujung tahun 1799, Pemerintah Hindia Belanda mengambil alih pengelolaan wilayah Nusantara. Berbeda dengan VOC yang berperan sebagai perusahaan dagang sekaligus penguasa wilayah, pemerintah kolonial mulai melibatkan banyak perusahaan swasta. Ada perusahaan perkebunan, perusahaan gula, perusahaan tambang, perusahaan pelayaran, dan NISM yang berkonsentrasi membangun jaringan kereta api.
Negara menyediakan keamanan, pelabuhan, dan administrasi pemerintahan. Sementara dunia usaha diberi ruang mengembangkan investasi. Kereta api menjadi urat nadi dari seluruh sistem itu. Tentara KNIL dapat bergerak cepat dari Semarang menuju Magelang atau Yogyakarta. Benteng Willem I di Ambarawa menjadi salah satu simpul pertahanannya.
Di sisi lain, hasil perkebunan dari lereng Merbabu, Telomoyo, Temanggung pun Yogyakarta menjadi jauh lebih mudah diangkut. Kopi, teh, gula, tembakau, hingga berbagai hasil bumi lainnya dibawa menuju Semarang. Dari Stasiun Tawang, komoditas-komoditas itu diteruskan ke Pelabuhan Semarang sebelum berlayar menuju berbagai penjuru dunia.
Tidak mengherankan apabila di sepanjang jalur itu kemudian tumbuh pusat-pusat ekonomi baru. Cerutu Rizona hanyalah satu contoh kecil. Ho Tjeng Toe bahkan mendatangkan ahli pembuat cerutu dari Filipina agar kualitas produknya mampu bersaing di pasar internasional. Daun tembakau terbaik dipilih, difermentasi dengan teliti, lalu digulung menjadi cerutu yang pernah menjadi kebanggaan Hindia Belanda.
Ajakan ikut acara Railway Advanture menggoda saya untuk membayangkan betapa sibuknya Ambarawa lebih dari seratus tahun lalu. Kereta datang silih berganti. Gerbong dipenuhi kopi, tembakau, gula, kayu, dan berbagai hasil bumi. Asap lokomotif mengepul di antara lereng Merbabu dan Telomoyo yang berhawa sejuk. Barangkali saat itu tidak ada yang membayangkan bahwa suatu hari rel ini justru menjadi tujuan wisata.
Tergoda juga untuk bertanya. Apakah kemakmuran Belanda hari ini dibangun oleh kekayaan yang selama ratusan tahun diambil dari Nusantara? Tentu jawabannya panjang kali lebar. Sejarah kolonial meninggalkan jejak eksploitasi yang tidak sederhana. Dan pertanyaan boleh jadi berlanjut. Mengapa setelah lebih dari delapan puluh tahun merdeka, negeri yang begitu kaya ini masih terus berjuang menghadirkan kesejahteraan yang merata?
Rupanya Railway Adventure bukan sekadar jalan kaki menyusuri rel. Langkah-langkah di atas bantalan rel tua Bedono-Ambarawa yang dahulu dibangun untuk kepentingan kolonial, sepertinya akan mengantar kita mengenang sejarah, mengagumi kecerdasan para insinyur masa lalu, sekaligus merenungkan petualangan bangsa saat ini. Begitukah? (*)

