Gema Tetelestai di Ujung Salib: Pekik Kemenangan Sang Sabda Menyongsong Fajar Paskah
Langit Golgota menghitam pekat, napas Sang Anak Manusia tersengal di ujung kayu yang kasar. Namun, sebelum kematian merengkuh raga-Nya, sebuah seruan membelah keheningan yang menyayat hati itu: “Tetelestai”, “Sudah selesai”. Di telinga dunia yang sinis dan memuja kekuasaan, satu kata itu mungkin terdengar seperti rintihan keputusasaan atau napas terakhir dari seorang yang kalah. Namun, di dalam kacamata iman dan teologi keselamatan, seruan itu adalah deklarasi kemenangan yang paling agung dalam sejarah alam semesta. Malam ini, saat kita bersiap melangkah masuk ke dalam keagungan Malam Paskah (Vigili Paskah), kita diundang untuk menyelami kedalaman kata “Tetelestai”; sebuah kata pamungkas yang menutup babak penderitaan, melunasi utang dosa kemanusiaan, dan membuka gerbang cahaya bagi dunia yang lelah.
[sebuah selingan: Saya dan istri bersama putra kedua mengikuti Ibadat Jumat Agung di Gereja Santo Yusup Pekerja Condongcatur. Sedangkan putra pertama tugas komsos di Gereja Santo Petrus dan Paulus Minomartani. Kedua gereja ini ada di Paroki Minomartani. Passio atau kisah sengsara Tuhan Yesus diambil dari Yohanes 18:1-19:42 dinyanyikan dengan sangat baik dan penuh penghayatan. Apalagi yang berperan sebagai Yesus menyanyikan dengan suara bass yang kuat dan amat menyentuh. Saya berlinang air mata meresapkan kata-kata Yesus, “Sudah Selesai, atau dalam bahasa Yunani “Tetelestai.” Dengan nada yang berat dan napas yang terdengar terengah-engah tanda sangat lelah, kata-kata ini benar-benar bikin merinding. Ini kedua kalinya saya suara seorang pembawa passio bisa amat menyentuh kedalaman dan penghayatan iman seseorang.]
Bukan Rintihan Kekalahan, Melainkan Deklarasi Kemenangan
Ketika Yesus menundukkan kepala dan berseru, “Sudah selesai” (Yohanes 19:30), ini sama sekali bukanlah sebuah pengakuan kekalahan atau kepasrahan yang fatalis di hadapan maut. Sebaliknya, kalimat tersebut adalah sebuah teriakan kemenangan dari Sang Raja Semesta Alam bahwa tugas ketaatan-Nya telah dipenuhi secara sempurna.
Di atas kayu salib, Kristus telah merampungkan tindakan kenosis atau pengosongan diri-Nya yang paling ekstrem. Ia merendahkan diri serendah-rendahnya, masuk ke dalam palung penderitaan manusia yang paling gelap, dan menyerap seluruh penderitaan itu ke dalam Hati-Nya demi ketaatan kepada Bapa.
Dunia sering kali mengukur keberhasilan melalui dominasi dan penaklukan. Namun, melalui kata “Tetelestai”, Yesus memutarbalikkan logika dunia: Ia membuktikan bahwa kemenangan sejati dan paling radikal justru diraih melalui penyerahan diri yang total dan pengorbanan tanpa syarat demi orang-orang yang dikasihi-Nya.
Lunas Terbayar: Puncak Penebusan Kosmis
Secara teologis, “Tetelestai” adalah proklamasi bahwa karya penebusan telah diselesaikan secara paripurna dan dosa umat manusia telah dibayar lunas. Kristus menempatkan diri-Nya sebagai Anak Domba Paskah eskatologis yang dikurbankan demi mendatangkan keselamatan bagi seluruh umat manusia.
Kematian-Nya bukanlah akhir yang sia-sia, melainkan penggenapan dari segala janji keselamatan Allah sejak awal mula penciptaan.
Bukti dari tuntasnya karya keselamatan ini tampak nyata ketika tirai Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah; hal ini menjadi tanda historis dan rohani bahwa akses manusia kepada Allah kini telah terbuka lebar melalui pengorbanan Kristus.
Melalui karya yang sudah selesai ini, kita disadarkan pada satu kebenaran iman yang membebaskan: keselamatan bukanlah hasil dari usaha, prestasi, atau kehebatan manusia belaka, melainkan murni anugerah Allah yang diterima melalui hati yang percaya dan berserah.

Menyongsong Vigili Paskah: Dari Keheningan Makam Menuju Cahaya
Seruan “Tetelestai” adalah fondasi pijakan kita untuk merayakan Malam Paskah (Vigili Paskah). Teologi Gereja mengajarkan bahwa Jumat Agung dan Paskah adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Jika Paskah dirayakan tanpa Jumat Agung, ia akan menjadi sukacita yang dangkal tanpa dasar pengorbanan. Melalui purna-nya karya Kristus di salib, Gereja dimampukan untuk berjaga-jaga menantikan kebangkitan Tuhan, merayakan transisi dari kegelapan menuju terang.
Ketika kita hadir dalam perayaan Vigili Paskah dan melihat ritus Upacara Cahaya, di mana kegelapan gereja dipecahkan oleh nyala Lilin Paskah (Lumen Christi), kita sesungguhnya sedang merayakan dampak langsung dari “Tetelestai”.
Karena Kristus telah “menyelesaikan” penderitaan-Nya, kutuk dosa telah dihapuskan dan martabat manusia dipulihkan. Malam Paskah menjadi malam yang “terang benderang bagaikan siang”, menyingkapkan Kristus sebagai Bintang Timur yang tak pernah terbenam, yang kembali dari alam maut untuk menyinari umat manusia.
Saudara-saudariku terkasih, saat kita menatap altar yang kini mulai bersiap dihias untuk perayaan agung Vigili Paskah, biarkanlah gema “Tetelestai” menembus bilik batin kita.
Berhentilah mengandalkan kekuatan ego kita sendiri untuk membenarkan diri. Terimalah karya penebusan yang sudah diselesaikan oleh Kristus dengan penuh syukur.
Ubahlah duka Jumat Agung-mu menjadi luapan madah Exsultet (Pujian Paskah), karena utang dosa kita telah lunas dibayar oleh Cinta yang rela hancur di atas salib.
Selamat merenungkan misteri Paskah; bersiaplah menyongsong fajar kebangkitan-Nya!

