RUMAH DAN LIKA-LIKU PENGHUNINYA

RUMAH DAN LIKA-LIKU PENGHUNINYA

Setiap keluarga punya cerita unik tentang rumah yang ditinggali. Hubungan erat antara rumah dan penghuninya bisa dilihat dari Bahasa Jawa, menikah disebut omah- omah , Bahasa Melayu yang diserap Bahasa Indonesia menjadi rumah tangga. Bahasa Inggris membedakan antara house sebagai bangunan dan home sebagai suasana yang diciptakan oleh penghuninya. You can buy a house but not a home. Rumah tangga berantakan bukan broken house tetapi broken home.
Tulisan ini sebagai syering bagaimana pengalaman lika- liku saya dan keluarga sehubungan dengan rumah.
Tahun 1991 saya pindah ke Singaraja Bali bertugas sebagai guru SMA, membawa istri dan anak pertama berusia 3 tahun. Kami mengontrak rumah kecil di tengah kompleks keluarga Bali. Sebenarnya kurang nyaman tetapi kami coba adaptasi, apalagi kalau salah satu keluarga ada upacara ( dan ini sering). Setelah setahun kontrak habis, saya cari kontrakan rumah yang sendiri, lumayan besar tetapi agak ke pinggiran, baru 2 tahun jalan rumah itu mau dijual, tetapi anak kedua lahir disini, terpaksa pindah kontrakan, dapat rumah sangat besar dengan kebun luas, dekat pantai. Di rumah ini anak ketiga lahir. Lima tahun jadi ” kontraktor”, mengapa nggak pingin punya rumah sendiri? Sebenarnya tahun pertama ( 1991) saya dan teman guru sudah dapat tanah yang rencana dengan kredit yayasan bisa untuk dibangun rumah pelan- pelan, maklumlah guru swasta. Tetapi karena saya resign dan jadi ASN di Denpasar, rencana tetap jalan jatah saya diambil alih teman lain. Ketika saya di Denpasar, saya sudah DP untuk kapling dekat kampus, dan ambil rumah Perumnas di Tabanan. Ketika 1998 krismon, proyek itu macet dan tidak jelas, diberi alternatif tetap nunggu dengan catatan nanti ganti harga baru atau DP boleh ditarik. Saya pilih yang alternatif 2, tarik DP saya alihkan beli rumah di Singaraja. Rasanya senang punya rumah sendiri walaupun kecil. Singaraja rasanya seperti home, hubungan dengan teman- teman ( gereja utamanya) sangat guyup seperti saudara sehingga saya pun rela nglaju 100 km ke Denpasar. Tetapi zona nyaman harus berani ditinggalkan, masa depan ada di Denpasar kendati tantangan lebih besar. Tahun 2003, dengan semedot kami tinggalkan rumah Singaraja, dan menjadi kontraktor di pinggiran Denpasar. Selisih harga yang tinggi, jual rumah Singaraja tidak cukup untuk beli di Denpasar, sempat 2 kali pindah kontrakan. Rasanya nggak tega anak- anak mulai besar belum punya rumah sendiri.
Tahun 2005 tanpa rencana kami nekat ambil rumah! Ceritanya, waktu itu kami punya EO dan dapat order untuk mempromosikan perumahan. Konsep bagus, cluster, infrastruktur bagus, fasilitas komplit, model rumah juga asyik. Rumah sudah dibangun tapi sepi pembeli, memang lumayan jauh dari kota, dekat Tanah Lot. Jujur saya kesengsem dan bilang sama istri, akhirnya istri ngomong- ngomong dengan manajernya dan ditawari untuk ambil salah satu rumah contoh. Saya sadar kondisi tidak bankable dan tidak punya agunan. Si manajer menawarkan tidak usah via bank, langsung ke pengembang dicicil. Bayangkan saya bayar DP 20 juta langsung dapat rumah dan redi ditempati! Anak-anak surprised banget, sambil menghabiskan kontrak , rumah ini hanya ditinggali untuk weekend, konsep rumah memang seperti villa, anak – anak senang ada fasilitas kolam renang, dan jauh dari keramaian (saat itu, sekarang keluar perumahan udah macet) . Dengan renovasi minor, tambah teras dan garasi agar lebih longgar, di rumah ini anak- anak tumbuh dewasa, si sulung kuliah, yg nomor dua SMA, si bungsu SMP. Sampai akhirnya semua selesai kuliah, bahkan si sulung dan si bungsu sudah menikah. Sebagai orangtua, tugas utama saya sudah selesai. Saya dan istri ikut menua, sebentar lagi pensiun. Saatnya juga kami memikirkan kenyamanan diri sendiri( bersambung)

Paul Subiyanto

Dr.Paulus Subiyanto,M.Hum --Dosen Bahasa Inggris di Politeknik Negeri Bali ; Penulis buku dan artikel; Owner of Multi-Q School Bal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *