Pilihan Jalan di Tengah Kekacauan Dunia

Pilihan Jalan di Tengah Kekacauan Dunia

Oleh M. Unggul Prabowo

Renungan Harian, Selasa, 3 Maret 2026
Bacaan Injil Matius 23:1-12

“Barangsiapa meninggikan dirinya, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Mat 23:12)

Sahabat-sahabat Yesus yang terkasih,

Tuhan Yesus berbicara kepada orang banyak dan murid-murid-Nya tentang para ahli Taurat dan orang Farisi. Ia mengakui otoritas mereka dalam mengajarkan hukum Allah, namun dengan tegas mengkritik gaya hidup mereka yang tidak mencerminkan ajaran yang mereka ajarkan. Mereka “mengikat beban-beban berat” bagi orang lain, tetapi diri mereka sendiri enggan mengangkatnya; mereka mencari penghormatan dan perhatian manusia di tempat umum, namun tidak menunjukkan kerendahan hati dan kasih yang sejati.

Tuhan Yesus mengajak murid-murid-Nya untuk tidak mencari gelar atau pengakuan manusia, melainkan untuk saling melihat sebagai saudara di bawah satu Guru, yaitu Kristus sendiri. Kerendah-hatian bukanlah sebuah ketiadaan peran atau tugas, tetapi sebuah sikap hati yang melayani tanpa pamrih, hidup secara konsisten antara kata dan tindakan.

Hari-hari ini, kita menyaksikan konflik besar yang mengguncang kawasan Timur Tengah antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, termasuk serangan militer besar yang telah menewaskan pemimpin tertinggi negara Iran dan memicu eskalasi militer regional serta kekhawatiran global. Tragedi perang ini, dengan banyak korban jiwa termasuk warga sipil, menimbulkan pertanyaan besar tentang kepemimpinan, kekuasaan, dan nilai kemanusiaan. Apakah tindakan militer semata mencerminkan keadilan dan belas kasihan? Atau justru menciptakan siklus penderitaan yang lebih luas?

Tuhan Yesus menegur ketidakseriusan para pemimpin agama zaman-Nya yang berbicara tinggi tentang hukum tetapi tidak menghayatinya dengan kasih. Dan hari ini, seruan tersebut juga menyentuh para pemimpin dunia: keadilan tanpa belas kasihan bisa menjadi beban berat yang mematahkan kehidupan manusia lain. Sejumlah warga sipil, termasuk anak-anak di sekolah yang terkena dampak serangan, menjadi korban dari pilihan kekerasan di panggung dunia.

Pesan Kristus tetap teguh: kemuliaan sejati tidak ditemukan dalam kehormatan dunia, dominasi politik, atau kemenangan militer, tetapi dalam pelayanan yang rendah hati dan komitmen pada nilai kasih yang membantu orang lain mengangkat beban mereka. Inilah pelajaran bagi kita: kita dipanggil untuk menjadi agen belas kasih di tengah dunia yang terpecah oleh ego, ambisi, dan kekerasan.

Tuhan Yesus mengundang kita untuk memeriksa diri: adakah kita, secara pribadi atau sebagai bagian dari komunitas, turut mencari pujian dunia sehingga mengabaikan panggilan untuk melayani? Atau kita mau berdiri bersama mereka yang menderita, memegang beban mereka dengan belas kasih, bahkan ketika suara kita kecil di tengah gemuruh konflik global?

Bacaan hari ini mengajak kita merenungkan bahwa kemuliaan di hadapan Tuhan tidak ditentukan oleh titel atau kekuasaan, tetapi oleh bagaimana kita mengasihi dan melayani. Siapa yang rela merendahkan diri di dalam kasih Kristus, akan diangkat bukan oleh manusia, tetapi oleh Allah yang adil dan penuh belas kasihan.

Doa : Allah Bapa kami yang di dalam Surga, utuslah Roh Kudus-Mu kepada kami agar kami semakin dapat berlajar rendah hati dan penuh kasih dan mengajarkan kami kerendahan hati yang sejati. Bebaskan kami dari godaan untuk mencari pujian dan kehormatan di dunia ini, yang sering membawa luka dan kekerasan bagi sesama. Berikanlah kepada kami hati yang tulus untuk melayani, terutama mereka yang tertindas, terluka, dan kehilangan harapan di tengah konflik dan penderitaan. Bapa Yang Maha Kasih, jadikanlah kami alat damai dan keadilan di dunia ini, agar kasih-Mu yang tak berkesudahan tampak nyata di dalam setiap tindakan kami. Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami. Amin.

M. Unggul Prabowo

Orang biasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *