Sayur Lodeh 7 Rupa Tolak Balak
Tradisi Jawa
Ada saat di mana kita merasa cemas akan kemungkinan datangnya marabahaya. Saat itu bisa jadi ketika kita berada dalam kondisi wabah/pandemi, bisa juga ketika kita punya hajatan seperti mantu, pun penyelenggaraan Reuni. Dalam situasi seperti itu tak ada jaminan keberhasilan yang bisa kita andalkan, kendati kita telah berupaya semaksimal kita bisa.
Dalam lingkup budaya Jawa ada praksis rohani menghadapi situasi spt itu, yakni dengan rendah hati dan bersungguh-sungguh mohon Pitulungan (pertolongan) Tuhan. (pitu = tujuh)*
Memohon pertolongan Tuhan tidak berarti menyerahkan segala urusan kepada Tuhan saja lalu orang tinggal ongkang-ongkang. Orang perlu melaksanakan pitutur (nasihat) dan pituduh (petunjuk) secara bersungguh-sungguh.
Praksis rohani mohon pertolongan Tuhan seraya menjalankan nasihat dan petunjuk hidup menghadapi potensi marabahaya dalam tradisi Jawa diwariskan menggunakan strategi komunikasi sederhana namun efektif-efisien: simbol sayur lodeh 7 rupa tolak balak !
Orang diajak mohon pitulungan (pertolongan) Tuhan seraya bersungguh-sungguh menjalankan laku (pituruh dan pitutur) seperti bahan-bahan sayur lodeh :
1. Kluwih (Buah Nangka yang masih muda) bermakna luwihana anggonmu nggatekake keluarga. Berikan perhatian yang lebih untuk keluarga.
2. Cang Gleyor (kacang panjang) Cencangen awakmu aja (kakean) lelungan. Ikatlah dirimu dengan komitmen demi keselamatan keluarga, jangan cari kesenangan demi diri sendiri di luaran.
3. Terong (terung) terusna anggonmu ngibadah aja chat nyeng. Teruslah menjalankan kewajiban beriman jangan seenak perut atau semaunya dirimu.
4. Kulit mlinjo janganlah melihat segala-galanya dari sisi kulit/luarnya saja, lihat kedalamannya, kejar makna mendalam di balik kulit luar.
5. Waluh (labu) Walana anggonmu gampang ngel uh ! Lepaskan diri mu dari sifat gampang mengeluh.
6. Godhong So (daun melinjo) golong gilig marang para soleh & wasis babagan iman lan kawruh. Bersekutulah dengan orang-orang suci dan ahli berwawasan luas bidang beriman dan ilmu pengetahuan.
7. Tempe tememenana anggonmu dhedhepe, bertekunlah dalam mengandalkan Tuhan, teruslah memohon kepadaNya. (Yohanes Haryanto)

