Ribut dari Sawah ke Rumah

Ribut dari Sawah ke Rumah

Keberadaan Air adalah Kehidupan

“Air: dulu diperebutkan di sawah, kini jadi rebutan di rumah. Simak refleksi krisis air dari tepi Rawa Pening.”

Pagi itu, udara di kampung belum sepenuhnya hangat, namun obrolan di teras rumah sudah memanas. Topiknya bukan soal politik nasional atau harga kebutuhan pokok yang meroket, melainkan sesuatu yang jauh lebih purba dan esensial: air. Di sebuah dusun di tepian Rawa Pening yang legendaris, krisis air bukan lagi dongeng masa depan, melainkan kenyataan pahit yang mengetuk pintu rumah setiap warga.

Minggu lalu, warga dusun sebelah harus turun tangan melakukan kerja bakti besar-besaran. Mereka bahu-membahu menyambung pipa dan menggali parit untuk mengalirkan air dari Tuk Sanga—sembilan mata air yang menjadi tumpuan harapan terakhir. Ironinya, di pojok dusun itu sebenarnya sudah berdiri megah sebuah sumur bor dengan toren raksasa berkapasitas 12 ribu liter. Namun, monumen teknologi itu kini membisu. Mesinnya mati, sumbernya kering, meninggalkan toren kosong yang hanya berisi gema kecemasan warga.

Nasib serupa menimpa dusun seberang. Bulan lalu, saat hujan turun dengan intensitas tinggi, keran-keran di rumah warga justru tidak mengeluarkan setetes air pun. Logika awam kita akan berpikir bahwa musim penghujan adalah masa kelimpahan. Namun, sumur bor di sana justru mengering. Solusi teknis pun diambil: sumur diperdalam. Konsekuensinya? Biaya operasional membengkak dan harga air per meter kubik melonjak 100%. Warga kini harus membayar dua kali lipat untuk komoditas yang seharusnya disediakan alam secara cuma-cuma.

Pergeseran Konflik: Dari Arit ke Keran

Dahulu, sejarah perselisihan air di kampung kami tertulis di atas lumpur sawah. Kita ingat betul bagaimana para petani bertikai memperebutkan aliran irigasi. “Sawahku harus basah duluan,” begitu ego yang bicara. Perselisihan itu diselesaikan di pematang sawah, terkadang dengan sabit atau arit di tangan sebagai penegasan argumen. Itu adalah konflik produksi; berebut air untuk menghidupi tanaman padi.

Namun kini, pola konflik itu telah bergeser secara radikal. Perselisihan air tidak lagi terjadi di hamparan hijau sawah, melainkan masuk ke ruang-ruang privat di dalam rumah. Persaingan terjadi antar-RT, antar-tetangga. Ketika satu RT mendapat debit air yang lebih besar, RT lain segera melayangkan protes. Kebijakan distribusi air diubah, namun perubahan itu justru memicu keluhan baru dari pihak yang sebelumnya merasa cukup. Sekarang memang tidak ada lagi arit yang dihunus, namun ketajaman kata-kata dan rasa sentimen antar-warga akibat rebutan air tak kalah menyakitkan. Air, yang seharusnya menjadi simbol pembersihan dan kedamaian, kini menjadi sumbu perpecahan sosial.

Paradoks di Tepian Rawa Pening

Sangat tragis jika melihat topografi kampung kami yang berada di tepian Rawa Pening. Rawa yang begitu luas seharusnya menjadi tandon air raksasa bagi ekosistem sekitarnya. Namun, realitanya justru kontradiktif. Di musim penghujan saja masalah air sudah serumit ini, bayangkan apa yang akan terjadi dua atau tiga bulan ke depan saat puncak musim kemarau tiba.

Suhu udara saat ini terasa jauh lebih menyengat dibandingkan satu dekade lalu. Pemanasan global bukan lagi sekadar istilah di buku sekolah; ia terasa di kulit kami yang terbakar. Panas yang ekstrem berarti penguapan yang lebih cepat dan kebutuhan air yang meningkat, sementara cadangan di dalam tanah terus merosot.

Pengamatan pribadi saya pada dua sumur di rumah memperkuat kekhawatiran ini. Salah satu sumur dengan kedalaman dua meter dan diameter 125 cm kini menunjukkan gejala yang mencemaskan. Pada tahun-tahun sebelumnya, di musim penghujan, air bisa mencapai ketinggian 2,5 meter hingga meluap ke buis pelindung di atas permukaan tanah. Tahun ini, menyentuh angka 2,1 meter saja tidak sanggup. Padahal, penggunaan air di rumah relatif stabil dan pohon-pohon besar dengan lingkar keliling batang di atas 75 cm masih berdiri kokoh di sekitar rumah. Jika di musim hujan saja air sudah malu-malu muncul, di mana ia akan bersembunyi saat kemarau nanti?

Keserakahan di Bawah Tanah dan Budaya Instan

Kita harus berani menyikapi fenomena ini dengan cerdas, bijak, dan tegas. Salah satu ancaman terbesar adalah perlombaan membuat sumur bor air dalam (deep well). Banyak pihak, baik individu maupun korporasi, berlomba mengeksploitasi sungai bawah tanah demi keuntungan jangka pendek. Mereka lupa bahwa air tanah dalam adalah penyangga kehidupan di atasnya.

Beberapa waktu lalu, kita diingatkan oleh inspeksi mendadak yang dilakukan tokoh publik terhadap pabrik air kemasan besar. Itu adalah sebuah tamparan bagi kita semua. Eksploitasi air tanah secara masif oleh korporasi tidak hanya mencuri hak air masyarakat sekitar, tetapi juga merusak struktur hidrologi bumi yang membutuhkan waktu ribuan tahun untuk terbentuk.

Selain eksploitasi, kita juga terjebak dalam budaya “enggan kotor”. Era modern mendorong orang memilih cara yang praktis: halaman rumah dibeton, jalanan dicor atau diaspal hingga menutup pori-pori bumi. Semua ingin halaman yang bersih tanpa sampah daun. Padahal, daun dan ranting kering adalah mulsa alami yang menjaga kelembapan tanah. Tanpa sadar, kita lebih menoleransi sampah plastik dan popok bayi di parit-parit menuju Rawa Pening daripada sekadar guguran daun di halaman.

Ketika tanah tertutup beton, air hujan tidak lagi meresap ke dalam bumi untuk menjadi cadangan air tanah. Air hanya lewat, mengalir cepat menuju tempat yang lebih rendah, membawa material tanah, dan puncaknya adalah banjir bandang yang kita “panen” di akhir tahun lalu. Kita mengeluh kekurangan air, namun kita sendiri yang menutup jalan air untuk masuk ke rumahnya sendiri di dalam tanah.

Laudato Si: Seruan untuk Pertobatan Ekologis

Dalam konteks ini, nasihat bijak dari Paus Fransiskus melalui Ensiklik Laudato Si’ (Terpujilah Engkau) menjadi sangat relevan. Beliau mengingatkan bahwa bumi adalah “rumah kita bersama” yang kini sedang menjerit karena luka-luka yang kita torehkan. Benar bahwa dalam Kitab Suci disebutkan alam semesta dianugerahkan Allah untuk manusia, namun itu bukan cek kosong untuk melakukan eksploitasi tanpa batas.

Sebagai orang beriman, kita memahami bahwa kasih Allah yang luar biasa diwujudkan dalam pengutusan Putera-Nya untuk menebus manusia. Namun, cinta Allah juga termanifestasi dalam alam ciptaan-Nya. Menghargai alam adalah bentuk penghormatan kita kepada Sang Pencipta. Jika kita mengaku mencintai Allah, namun di saat yang sama kita merusak ciptaan-Nya, bukankah itu sebuah kemunafikan iman?

Mencintai alam harus diwujudkan dalam tindakan nyata: menanam pohon, merawat sumber air, dan memberikan ruang bagi bumi untuk bernapas. Menanam pohon bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan upaya menyediakan “rumah” bagi air. Akar-akar pohonlah yang akan memeluk air hujan, menahannya agar tidak lari, dan menyimpannya sebagai cadangan bagi kehidupan kita dan generasi mendatang.

Lingkaran Cinta dan Kehidupan

Kita perlu membangun kembali “lingkaran cinta” dengan alam. Saat kita menanam pohon dan menjaga resapan air, kita sebenarnya sedang menjamin kelangsungan hidup kita sendiri. Tubuh manusia sebagian besar terdiri atas air. Kita mungkin bisa bertahan beberapa minggu tanpa makanan, namun tanpa air, hidup kita akan layu dalam hitungan hari.

Krisis air di kampung kami, dari konflik di sawah yang berpindah ke rumah, adalah sinyal darurat dari bumi. Ini adalah panggilan untuk melakukan “pertobatan ekologis”. Mari berhenti menjadi manusia instan yang hanya ingin kemudahan tanpa mau merawat proses. Jangan sampai anak cucu kita nantinya hanya mengenal Rawa Pening dari buku sejarah, sementara mereka harus berkelahi demi setetes air karena keteledoran kita hari ini.

Sebab pada akhirnya, air adalah kehidupan. Dan bagaimana kita memperlakukan air adalah cerminan dari bagaimana kita menghargai kehidupan itu sendiri. Cinta yang kita berikan pada bumi melalui sebatang pohon, kelak akan membuahkan cinta yang mengalir kembali kepada kita dalam bentuk mata air yang tak kunjung kering.

Salam JMJ

Susy Haryawan

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *